Mengenal Investasi Obligasi yang Karakternya Mirip-mirip Deposito

4 menit

Bagi sebagian orang, menanamkan duit di obligasi mungkin belum jadi pilihan utama. Rata-rata lebih nyaman memilih deposito karena dirasa lebih aman dan enggak ribet. Tinggal siapkan dana, pilih produk deposito di sebuah bank, dan tentukan tenornya. Sayangnya, imbal hasil deposito kadang kalah dengan kenaikan inflasi.

 

Kenapa tidak mencoba obligasi saja. Instrumen investasi satu ini mirip-mirip dengan deposito lho!

 

Obligasi bisa jadi jawaban bagi yang ingin mencari keamanan berinvestasi untuk kebutuhan keuangan di masa depan. Pasalnya, karakter obligasi sendiri tak jauh beda dengan deposito.

 

Kemiripan itu bisa dilihat dari adanya tenor yang ditetapkan. Ketika jangka waktu obligasi telah habis, maka investor bisa mendapatkan kembali dananya plus kebagian imbal hasil alias yield.

 

Sebelum lebih jauh, sebenarnya apa sih obligasi? Penting banget mengenal investasi obligasi dulu ya.

 

Secara umum, pengertian obligasi adalah instrumen surat utang berjangka waktu lebih dari setahun atau 12 bulan.

 

Surat utang itu bisa diterbitkan oleh negara seperti ORI (Obligasi RItel Indonesia), Surat Utang Negara (SUN), dan lain-lain. Di samping itu, obligasi juga bisa diterbitkan korporasi. Terakhir, ada pula obligasi yang diterbitkan pemerintah daerah (municipal bond).

 

Ini obligasi populer karena semua orang bisa beli

 

 

Intinya, obligasi merupakan cara yang dipakai negara atau korporasi untuk menghimpun dana dari masyarakat/investor. Nantinya, penerbit obligasi itu akan mengembalikan dana tersebut dalam kurun waktu yang ditetapkan plus imbal hasil yang besarannya juga ditetapkan di awal.

 

Obligasi sendiri termasuk instrumen investasi yang aman. Hanya tetap ada risikonya. Risikonya adalah penerbit obligasi gagal bayar (default) atas kewajiban mengembalikan dana dan imbal hasil kepada investor.

 

Ditilik dari risiko tadi, maka obligasi yang diterbitkan pemerintah adalah yang paling aman karena risiko gagal bayarnya relatif kecil ketimbang obligasi yang ditawarkan korporasi. Alasan inilah kadang yang membuat obligasi yang dikeluarkan pemerintah sering diburu investor. Maklum, kebanyakan menilai obligasi pemerintah itu dianggap risk free alias bebas risiko.

 

Keuntungan tanam duit di obligasi

Pertanyaan umumnya adalah dari mana mana keuntungan menanamkan duit dari obligasi? Jawabannya ada dua cara.

 

1.Kupon

Ciri utama obligasi adalah menawarkan pendapatan tetap selama masa waktunya obligasi, di mana besarannya lebih tinggi dari bunga deposito dan SBI (suku bunga Bank Indonesia). Pendapatan itu diperoleh melalui kupon.

 

Nah, ternyata ada tiga jenis kupon obligasi yang dikenal, yakni:

 

– Obligasi kupon tetap (fixed coupon) di mana obligasi ini menawarkan bunga tetap yang dibayarkan bisa per bulan, per semester (6 bulan) atau setahun sekali.

 

– Obligasi kupon mengambang (floating coupon) adalah jenis obligasi yang memberikan bunga mengambang sesuai dengan bunga yang berlaku di pasaran.

 

– Obligasi tanpa kupon (zero coupon) di mana ini adalah obligasi dengan bunga nol atau obligasi yang menawarkan satu kali aliran kas masuk saat jatuh tempo.

 

Kupon di obligasi itu ukuran imbal balik atas investasi.

 

 

Siapa yang menetapkan besaran kupon? Ya jelas dari penerbit obligasi itu sendiri. Meski begitu, besaran kupon turut ditentukan dari peringkat utang penerbit obligasi atau istilah kerennya investment grade.

 

Lazimnya, penerbit obligasi yang investment grade-nya bagus bakal menawarkan kupon atau imbal hasil yang tak terlalu tinggi. Beda dengan yang investment grade-nya kurang, rata-rata mengimingi imbal hasil yang tinggi agar investor bersedia ‘membeli’ surat utang-nya.

 

Di sinilah pentingnya memerhatikan peringkat utang penerbit obligasi itu dalam mengukur risiko. Maksudnya, makin rendah peringkat utangnya maka risiko berinvestasi di obligasi itu makin tinggi.

 

2.Capital gain

Obligasi adalah surat utang yang bisa diperjualbelikan. Biasanya, investor yang jeli terbiasa melihat ‘harga pasar’ atas obligasi yang dimilikinya. Mereka akan memperdagangkan obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh tempo sehingga berkesempatan dapat capital gain dari selisih saat harga beli dengan nilai obligasi di pasar sekunder.

 

Sekadar informasi,biasanya harga obligasi dinyatakan dalam persentase. Contohnya harga awal obligasi itu setara 100% dari nilai obligasi yang diterbitkan atau istilahnya harga pari (par). Begitu di pasar sekunder, maka obligasi itu akan mengikuti permintaan pasar.

 

Begitu permintaan pasar naik sehingga harga obligasi itu menjadi 110%. Bila obligasi itu dijual maka otomatis mendapat capital gain sebesar 10%.

 

Surat utang obligasi itu surat berharga yang bisa diperjualbelikan lhoSurat Utang obligasi itu surat berharga yang bisa diperjualbelikan lho

 

 

Jangka waktu obligasi turut menentukan besaran kupon dan pergerakan harga. Maka itulah, semakin panjang tenor obligasi maka imbal baliknya akan lebih tinggi dibanding tenor obligasi yang pendek.

 

Di samping itu, faktor penentu lainnya yang turut memengaruhi keuntungan dari obligasi adalah timing (waktu) yang tepat membeli obligasi. Misalnya saja, ketika investor membeli di harga pari dan mempertahankan obligasi itu sampai jatuh tempo bakal menerima imbal hasil berbeda dengan investor yang mengincar capital gain dengan menjual obligasi itu sebelum jatuh tempo.


Bagaimana? Sudah tertarik melirik obligasi sebagai instrumen investasi? Pastinya, besaran kupon dari obligasi lebih tinggi dari bunga deposito dan SBI (suku bunga Bank Indonesia). Di samping itu, imbal hasil dari obligasi juga bisa melawan besaran inflasi yang menggerus nilai uang.

 

 

 

Image credit:

  • http://www.bankmandiri.co.id/images/ori-logo.jpg
  • http://3.bp.blogspot.com/-LKJrEQvLBsk/TXxkj-h9VCI/AAAAAAAAHZk/bREC-0oQGcs/s1600/obligasi%2Bdalam003.jpg
  • http://energitoday.com/uploads//2013/04/sun1.jpg
MoneySmart
MoneySmart

MoneySmart adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.