Pernah Pinjam Sepeda untuk Nonton Kampanye, Ini Perjalanan Politik Kiai Ma’ruf Amin

7 menit
Sekelumit Kisah Ma’ruf Amin, Kiai yang Sempat Ingin Menjadi Polisi Namun Mantap Menjadi Politisi

Sosok Ma’ruf Amin mulai ramai dibincangkan publik sejak menjadi Calon Wakil Presiden (Cawapres) Joko Widodo dengan nomor urut 01. Bagi generasi milenial, sosoknya memang tidak sepopuler Cawapres pihak lawan, yakni Sandiaga Salahuddin Uno.

Tetapi, sosok ulama yang satu ini tidak boleh dipandang sebelah mata lho. Kiprahnya di dunia keislaman mengantarkan dirinya menjabat ketua Majelis Ulama Indonesia sejak 2015 silam. Selain itu, ulama berusia 76 tahun ini juga pernah aktif mengajar sebagai guru dan dosen di berbagai universitas maupun sekolah.

Berbekal ilmu yang dimiliki, ia makin mantap terjun ke dunia dakwah. Ia mulai menjadi anggota koordinasi Dakwah Indonesia (KODI) DKI Jakarta dari tahun 1970-1972. Selain itu, ia juga aktif di organisasi Nahdlatul Ulama.

Sosoknya termasuk salah satu ulama sepuh yang disegani. Ia juga dikenal banyak menguasai ilmu Islam yang multitalenta di samping berbagai macam fiqih. Kiai Ma’ruf Amin juga bisa dibilang sebagai ulama yang responsif terkait berbagai masalah yang sedang dihadapi umat.

Semenjak terjun ke dunia politik dan resmi diusung oleh Presiden Joko Widodo menjadi Cawapres, Ma’ruf menegaskan, dirinya maju di Pilpres 2019 tidak membawa kepentingan bisnis sama sekali. Semua berdasarkan pada kepentingan umat.

Di bawah kepemimpinan Jokowi dan dirinya kelak, keduanya mantap memiliki komitmen untuk memperkuat ekonomi umat. Selain itu, keduanya sepakat pada program redistribusi aset kepada masyarakat bawah, termasuk kalangan pesantren.

Nah, buat kamu yang belum mengenal betul siapa sosok ulama mendapat dukungan penuh dari KH Yusuf Mansur ini, berikut ulasannya dari berbagai sumber. Disimak yuk supaya mengenal lebih dekat pemimpinmu yang baru.

Baca juga: Naik Kelas, Cawapres Jokowi Kini Punya Mobil Seharga Rp 1,6 Miliar

Lahir di masa pendudukan Jepang

Ma'ruf Amin
Lahir di masa pendudukan Jepang (Instagram)

Prof. Dr. K. H. Ma’ruf Amin lahir di Kresek, Tangerang, pada masa pendudukan Jepang, 11 Maret 1943. Lahir dan besar dari keluarga yang agamis, membuat sosok yang satu ini akrab dengan ajaran Islam.

Ayahnya yang bernama Mohammad Amin merupakan ulama besar di Banten. Sejak kecil, Ma’ruf juga sudah mengemban pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah.

Setelah lulus, Ma’ruf Amin merantau ke Jawa Timur buat melanjutkan studinya di Pesantren Tebu Ireng. Lulus dari Tebu Ireng, ia melanjutkan studinya di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta hingga berhasil meraih gelar profesor di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Di organisasi Islam, Ma’ruf pernah menjabat sebagai Ketua Ansor hingga jadi Ketua NU lho. Untuk hal yang sifatnya keorganisasian, dirinya memang figur yang organisatoris banget deh.

Setelah menikah dengan istri pertama, mendiang Siti Churiyah, Ma’ruf pindah ke Jakarta dan menetap di Jakarta Utara. Di sana Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Universitas Ibnu Khaldun Bogor di Fakultas Ushuludin. Ia juga aktif di organisasi Gerakan Pemuda Ansor Jakarta dan menjadi ketua pada tahun 1964.

Pernah menjadi guru dan dosen

Ma'ruf Amin
Pernah menjadi guru dan dosen (Instagram)

Gak cuma jadi pemuka agama yang paling disegani aja nih, Ma’ruf pernah bekerja sebagai seorang guru di sekolah di wilayah Jakarta Utara. Dikutip dari Wikipedia, Ma’ruf jadi guru pada tahun 1964 hingga 1970.

Gak cuma ngajar di sekolah, Ma’ruf juga ternyata mengajar di kampus. Lebih tepatnya di Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama (Unnu) tahun 1968. Sebagai seorang guru, ia juga punya prestasi yang cukup baik.

Ia mendapatkan gelar Guru Besar Kehormatan (honoris causa) bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Mei 2017 silam. Wah keren banget ya, berarti dia juga merupakan pakar ekonomi syariah!

Penganugerahan itu diberikan langsung oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir. Acara pengukuhan guru besar itu juga dihadiri oleh Presiden Jokowi hingga menteri-menterinya.

Baca juga: Klasik dan Elegan! Begini Penampakan Interior Rumah Mewah Ma’ruf Amin di Menteng

Pernah jadi anggota DPRD DKI

Ma'ruf Amin
Pernah jadi anggota DPRD DKI (Instagram)

Sibuk di dunia dakwah gak membuat ayah dari delapan orang anak ini berdiam diri saja. Ia juga dikenal aktif berpolitik. Ma’ruf mulai aktif di DPRD DKI lebih tepatnya pada 1971 hingga 1973. Akan tetapi di tahun ini, ia masuk ke DPRD dari Utusan Golongan.

Utusan Golongan adalah perwakilan masyarakat Indonesia yang diisi oleh perwakilan beberapa profesi, sebut saja seperti buruh, guru, petani, nelayan, dan lainnya.

Lambat laun kariernya semakin berkembang dengan menjadi kader Partai Persatuan Pembangunan alias PPP.

Namun setelah Indonesia memasuki masa Reformasi, pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua MUI ini pun diminta menjadi Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Melalui partai itulah, Ma’ruf Amin akhirnya berhasil mendapat kursi di DPR/MPR RI.

Pernah menjabat sebagai Rais Aam di PBNU

Ma'ruf Amin
Bersama dengan Jokowi (Instagram).

Pada 22 September 2018, sesuai dengan mandat AD/ART PBNU, Ma’ruf menyatakan menyerahkan jabatan Rais Aam kepada wakilnya setelah ia ditetapkan sebagai calon wakil presiden. Adapun yang menggantikan posisi Ma’ruf adalah Wakil Rais Aam, Miftahul Akhyar.

Diketahui, ulama yang paling disegani di kalangan Nahdliyin ini menjabat di posisi tersebut pada periode 2015-2020. Namun itu terhenti setelah resmi menjadi cawapres Jokowi.

Meski telah mundur, tak serta-merta membuat Ma’ruf hengkang dari organisasi tersebut. Ma’ruf menempati posisi baru di PBNU setelah tak lagi menjabat sebagai Rais Aam.

Baca juga: Mengenal 7 “Dewi-Dedi” yang Disebut Ma’ruf Amin dalam Debat Pilpres

Pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden

Ma'ruf Amin
Pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Instagram).

Ma’ruf Amin ternyata juga pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden, lebih tepatnya saat Soesilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden RI. Ma’ruf menjabat pada tahun 2007 dan tahun 2010 hingga 2014.

Dengan banyaknya karier politik yang diemban membuktikan bahwa Ma’ruf bukan sosok sembarangan. Pada saat itu, dia ditunjuk sebagai Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Antar Agama.

Menjabat sebagai ketua MUI

Ma'ruf Amin
Menjabat sebagai Ketua MUI (Instagram).

Dengan pengalaman cukup mumpuni di bidang agama serta politik, mengantarkannya pada kesuksesan. Dalam Biografi KH Ma’ruf Amin diketahui bahwa KH. Ma`ruf Amin tidak pernah mengenyam pendidikan master hingga ke jenjang doktor di bidang agama.

Namun, berkat pengetahuannya yang sangat luas tentang agama membuat ia tidak berbeda jauh dengan orang yang sudah bergelar doktor sehingga sangat wajar bila ia mendapat gelar sebagai Profesor Doktor.

Bahkan di tahun 2000, Ma’ruf hanyalah seorang anggota di MUI Pusat. Seiring berjalannya waktu, kariernya di sini melesat menjadi Wakil Ketua Fatwa MUI pada 1996. Kemudian, tepat pada periode 2001 hingga 2007, Ma’ruf Amin menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI.

Alhasil, berkat kinerjanya yang cukup baik, di tahun 2007 ia menduduki kursi Ketua MUI. Di tahun 2015, ia pun kembali terpilih untuk periode selanjutnya hingga kini.

Sayang, sama seperti PBNU yang mengharuskan dirinya mundur dari jabatan ketua sejak terpilih menjadi kandidat cawapres Jokowi. Meski demikian, dalam susunan di MUI nama Ma’ruf masih terpampang sebagai ketua umum.

Penghargaan yang pernah diraihnya

Ma'ruf Amin
Penghargaan yang pernah diraih cukup banyak (Instagram).

Pada 2017, Bank Indonesia (BI) memberikan apresiasi atas tata kelola dan kinerja baik para pelaku ekonomi. Apresiasi penghargaan diberikan salah satunya kepada Ketua MUI Ma’ruf Amin. Dalam kategori individu, ia mendapat penghargaan sebagai penggiat ekonomi syariah.

Penghargaan ini diberikan kepada para pelaku ekonomi dan tokoh bangsa yang memberikan kontribusi dan kinerja terbaiknya untuk mengawal dan memajukan dan perekonomian Indonesia. Serta memberikan inspirasi untuk meningkatkan kualitas dan tata kelola perekonomian bangsa.

Gak hanya itu aja, Ma’ruf juga pernah mendapat penghargaan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai Tokoh Penyiaran tahun 2018. KPI menilai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini memiliki kepedulian besar terhadap dunia penyiaran di Tanah Air.

Alasan KPI mendaulat ia sebagai Tokoh Penyiaran tahun 2018 lantaran memiliki perhatian besar terhadap penangkalan hoax di televisi. Ma’ruf juga selalu menekankan adanya pemberantasan terhadap radikalisme. Radikalisme dinilai sebagai paham dan gerakan yang bisa merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti yang diwartakan Merdeka.

Memiliki total kekayaan 11 Miliar Rupiah

Ma'ruf Amin
Ma’ruf dan istri setelah menggunakan hak pilihnya di TPS (Instagram).

Pada tahun 2010 Ma’ruf sempat melaporkan harta kekayaannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada saat itu jumlah total kekayaannya gak sampai Rp 500 juta. Setelah sembilan tahun berlalu, yakni tepatnya pada Februari kemarin, ia kembali melaporkan total kekayaan ke KPK.

Dalam laporannya, total harta Ma’ruf mencapai Rp 11,6 miliar dan kebanyakan didominasi tanah di daerah kota Depok. Sementara, utang tercatat Rp 657 juta. Berikut rincian harta kekayaan Ma’ruf Amin berdasarkan Laporan Kekayaan Harta Penyelenggara Negara (LKHPN) KPK:

1. Tanah dan Bangunan Rp 6,9 miliar

– Tanah dan bangunan seluas 204 m2/231 m2 di Jakarta Utara: Rp 2 miliar

– Tanah dan bangunan seluas 125 m2/72 m2 di kota Depok: Rp 500 juta

– Tanah seluas 70 m2 di kota Depok: Rp 100 juta

– Tanah seluas 350 m2 di kota Depok: Rp 175 juta

– Tanah seluas 907 m2 di kota Depok: Rp 453,5 juta

– Tanah dan bangunan seluas 475 m2/60 m2 di kota Depok: Rp 1,3 miliar

– Tanah dan bangunan seluas 72 m2/36 m2 di kota Depok: Rp 150 juta

– Tanah dan bangunan seluas 132 m2/100 m2 di kota Depok: Rp 1,3 miliar

– Bangunan seluas 36 m2 di kota Depok: Rp 500 juta

– Bangunan seluas 36 m2 di kota Depok: Rp 500 juta

2. Harta bergerak dan Kas

– 1 Mobil Toyota Alphard 2.5 G AT Tahun 2018: Rp 1,1 miliar

– Mobil Toyota Fortuner 2.4 VRZ 4 x 2 AT Tahun 2017: Rp 527,9 juta

Harta Bergerak Lainnya: Rp 226 juta

Surat Berharga: –

Kas dan Setara Kas: Rp 3,47 miliar

3. Utang

Adapun utang yang dimiliki Ma’ruf adalah Rp 657,584,431. Subtotal untuk seluruh kekayaan Ma’ruf Amin mencapai Rp 12,3 miliar, dipotong utang sebesar Rp 657an juta jadi dapat di total aset yang dimilikinya mencapai Rp 11,6 miliar.

Nah, itu tadi perjalanan politik Ma’ruf Amin. Meski pilihan kalian belum memenangkan pertarungan kali ini, setidaknya cukup berikan dukungan dan semangat agar Presiden Indonesia terpilih bisa menjalankan tugas dengan baik. Tugasmu sebagai warga negara adalah mendukung kerja keras mereka mewujudkan negara yang makmur sesuai dengan yang diamanatkan Pancasila. (Editor: Winda Destiana Putri).

Winda Destiana
Winda Destiana

No place is ever bad as they tell you its going to be