Ngecat Trotoar sampai Nyalon Wabup, Ini Kisah Hidup Inspiratif Torro Margens

5 menit
Perjalanan hidup inspiratif Torro Margens. (Instagram/@gilafilmid)
Perjalanan hidup inspiratif Torro Margens. (Instagram/@gilafilmid)

Kabar duka datang dari dunia hiburan tanah air. Aktor senior Torro Margens meninggal dunia pada Jumat, 4 Januari 2018. Jenazahnya disemayamkan di Sukabumi dan dimakamkan di TPU Taman Bahagia usai Sholat Jumat.

Siapa sih yang gak kenal Torro Margens? Gak cuma angkatan tua, anak-anak milenial pasti juga gak asing-asing amat sama sosok yang satu ini.

Ya gak heran sih. Soalnya, meski udah terbilang berumur, Torro termasuk masih laris lho di dunia hiburan sampai saat ini. Gak cuma film, wajahnya juga kerap nongol di berbagai judul sinetron seperti yang terbaru Tukang Bubur Naik Haji, sampai serial Hidayah dan Rahasia Ilahi.

Pemilik nama asli Sutoro Margono ini udah berkecimpung di dunia perfilman sejak era tahun 70-an. Sepanjang kariernya, ia lebih dikenal sebagai aktor yang sering banget memerankan karakter antagonis. Pokoknya, kalau udah jadi penjahat, beliau ini kelihatan banget mendalami tokohnya. Karakter dan persona yang kuat nampaknya jadi daya tarik tersendiri dari lelaki kelahiran Pemalang, 68 tahun silam ini.

Kesuksesan yang diraihnya tentu gak didapat secara instan. Perjuangan Torro Margens sudah dimulai sejak puluhan tahun silam. Bahkan, bisa dibilang, Torro memulai semuanya dari nol sebagai perantauan yang datang ke Kota Jakarta.

Kini, Torro Margens memang sudah meninggal. Namun, ia mewariskan beberapa pelajaran buat kita. Bahkan, pelajaran berikut ini amat relevan buat kita yang masih berjuang merintis karier maupun usaha, dalam bidang apapun.

Baca juga: Habiskan Rp 2,4 Miliar Buat Operasi Plastik, Payudara Model Ini Pecah

Berani bermimpi besar dan berusaha mewujudkannya

Artis Torro Margens, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Ivan Haris]
Artis Torro Margens, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Ivan Haris]

Mengutip dari sebuah wawancara yang diterbitkan Harnas, pria yang senang dipanggil Oom Torro itu adalah satu dari jutaan pemuda desa yang berangkat ke ibu kota Jakarta untuk mengadu nasib pada tahun 70-an. Tapi, mungkin hanya sedikit pemuda, di mana Torro termasuk diantaranya, yang bermimpi menjadi seorang aktor.

Singkat cerita, Torro mendapat peran pertamanya sebagai Rizal di film berjudul Neraka Perempuan (1974). Setelah itu, tiap tahun berturut-turut sampai tahun 1990, Torro Margens gak pernah absen main film. Hebat gak?

Dari fakta ini kita bisa belajar, gak ada salahnya bermimpi besar, asalkan kita punya kesungguhan buat berusaha. Soalnya, percuma punya mimpi setinggi langit kalau malas berusaha dan bekerja.

Memang, mungkin gak semua orang bisa semulus Oom Torro dalam mewujudkan mimpi. Tapi, kalau kita hanya membiarkannya ada di angan-angan tanpa pernah mau mencoba, apa gunanya bermimpi? Betul gak?

Baca juga: Gaya Hidup Hemat Selebriti Papan Atas, Pakai Voucher Sampai Cuci Baju Sendiri

Haus pengalaman selagi muda

Torro Margens menjajal banyak profesi selagi muda. (Instagram/@jakarta.ku)
Torro Margens menjajal banyak profesi selagi muda. (Instagram/@jakarta.ku)

Di awal-awal kariernya sebagai aktor, Torro Margens pernah menjajal profesi lain, yakni sebagai pekerja kantoran. Menurut pengakuan Torro, karena kemampuan berbahasa Inggrisnya dinilai bagus, ia ditawari pekerjaan sebagai penerjemah.

Profesi itu pun ia lakoni dengan sungguh-sungguh. Tapi, namanya udah terlanjur jatuh cinta sama dunia akting, Torro pun goyah dan memutuskan keluar dari pekerjaannya itu. Ia kembali terjun ke karier yang sudah ia impikan sejak lama itu.

Kembali main film setelah meninggalkannya selama beberapa waktu, Torro merasa memulai dari nol lagi. Nah, yang menarik, untuk menambah penghasilan, Torro Margens rela melakoni kerja dobel. Siangnya syuting, malamnya Torro mengecat trotoar.

Cerita ini menunjukkan pada kita bahwa sebagai pemuda, gak ada salahnya kita mencoba berbagai macam pekerjaan sebelum akhirnya menetap di karier tertentu. Buktinya, Oom Torro, dia mau tuh kerja kantoran jadi penerjemah meski sebenarnya main film terus aja bisa.

Keputusan Torro buat kerja jadi pengecat trotoar juga kiranya bisa jadi pelajaran buat kita. Buat apa gengsi ngelakuin kerja kasar atau pekerjaan yang mungkin di mata masyarakat sepele. Selama halal dan memberikan penghasilan tambahan, kenapa gak? Wong Torro yang aktor aja gak malu tuh ngecat trotoar.

Baca juga: Dulu Cuma Punya 10 Karyawan Kini Bisnisnya Raksasa, Yuk Belajar dari Harry Sanusi

Tekuni profesi sampai ke akarnya

Torro Margens menekuni dunia seni peran sampai ke akarnya. (Facebook)
Torro Margens menekuni dunia seni peran sampai ke akarnya. (Facebook)

Udah jadi aktor, laris pula, Torro Margens sepertinya merasa belum cukup puas dengan apa yang ia punya. Tampil di layar lebar gak lengkap rasanya kalau belum tahu bagaimana meramu film dari balik layar. Mungkin itu yang dipikirkan Torro ketika pada tahun 1980 ia menjajal pekerjaan di ranah produksi layar lebar.

Ya, bukan jadi aktor, tapi jadi penata skrip, ketika ia terlibat dalam pembuatan film Janjiku pada Dia (1980). Gak sampai di situ, ia lantas memberanikan diri menjadi seorang sutradara pada tahun 1984, di film Bercinta dalam Badai.

Sejak saat itu hingga sepuluh tahun setelahnya, Torro bolak-balik duduk di kursi sutradara. Film-film yang ia tangani pun punya genre beragam, dari film romantis, action, sampai horor.

Catatan kehidupan Torro ini mengajarkan kita satu hal penting dalam karier: tekuni profesimu sampai ke akarnya. Artinya, pahami dan kuasai betul profesi yang kamu jalani. Dengan begitu, kamu berpeluang jadi seseorang yang punya kemampuan lengkap dan mumpuni di bidangmu.

Tetap mawas diri dan gak aji mumpung

Artis Torro Margens [TEMPO/STR/M. Iqbal Ichsan]
Artis Torro Margens [TEMPO/STR/M. Iqbal Ichsan]

Pada tahun 2010, Torro Margens pernah nyaris mencoba terjun ke dunia politik yaitu menjadi Bupati Pemalang, daerah kelahirannya. Ya, seperti kita tahu, ketenaran pekerja seni sering banget dimanfaatkan buat mencari posisi di pemerintahan. Kan udah banyak juga kepala daerah yang berlatar belakang artis.

Kala itu, Torro maju sebagai bakal calon wakil bupati independen (bukan diusung partai politik) mendampingi bakal calon bupati Imam Santoso. Namun pada akhirnya Torro mengurungkan niatnya. Torro merasa, Tuhan sudah menunjukkan bahwa jalan hidupnya adalah menjadi pekerja seni.

Cuplikan kehidupan Torro memberikan pelajaran bahwa, betapapun besar peluang terbuka lebar untuk menjalani profesi lain, alangkah baiknya tetap bijak dan mengukur kemampuan diri sendiri. Begitu juga dengan kamu yang terjun ke dunia bisnis. Alangkah baiknya gak latah ikut-ikutan bisnis lain yang belum kita pahami secara mendalam.

Bagaimana menurut kamu? Apakah pelajaran-pelajaran dari Torro Margens tersebut cukup menginspirasimu dalam menjalani karier dan bisnismu saat ini?

Oh ya, satu lagi yang hampir kelupaan. Torro Margens ini amat mencintai pekerjaannya lho. Buktinya, dalam sebuah wawancara dua tahun silam, Torro mengaku ingin menghembuskan nafas terakhirnya saat syuting.

Sebenarnya, ini mirip-mirip dengan cerita akhir hidupnya lho. Dikutip dari Detik, kondisi kesehatan Torro menurun saat syuting di Yogyakarta. Sepulang syuting, Torro muntah darah dan dilarikan ke rumah sakit. Sekitar lima hari dirawat, Torro pulang ke Sukabumi. Empat atau lima hari di Sukabumi, Torro kembali dirawat pada Kamis malam pukul 10. Usai melewati masa kritis pada pukul 11, Torro menutup mata untuk selama-lamanya pada pukul 1 Jumat dini hari.

Ruben Setiawan

Pembelajar yang selalu mencoba hal-hal baru untuk dipahami. Semoga selalu bisa memberikan informasi bermanfaat bagi pembaca.