Belanja Irasional Bisa Bikin Uang Cepat Ludes Lho, Apa Penyebabnya?

4 menit
Penyebab belanja irasional yang bikin keuangan jadi tekor. (Shutterstock)
Penyebab belanja irasional yang bikin keuangan jadi tekor. (Shutterstock)

Pernah gak kamu merasakan keadaan di mana awalnya kamu bertujuan belanja buat memenuhi kebutuhan, namun begitu dihitung-hitung, ternyata uang yang dikeluarkan udah habis banyak?

Kalau pernah mengalami hal tersebut, itu tandanya kegiatan belanja yang kamu lakukan udah termasuk kegiatan belanja yang cenderung irasional tuh. Coba deh cek barang-barang yang dibelanjakan. Adakah barang-barang yang gak seharusnya dibeli, tapi jadinya dibeli?

Misalnya aja kamu berbelanja buat membeli kebutuhan rutin tiap bulan semisal beras, telur, gula, garam, dan lain sebagainya. Sesampainya di pusat perbelanjaan, kamu bukan cuma beli kebutuhan rutin bulanan, melainkan beli barang-barang lain yang sebnarnya belum urgen banget.

Terus-terusan menjalani perilaku belanja yang seperti itu udah pasti bakal bikin keuangan jadi tekor. Niatan baik pengin hemat atau menabung mustahil bisa terwujud.

Pertanyaannya, kok bisa ya kita jadi irasional saat belanja? Dikutip dari Psychology Today, berikut ini adalah alasan-alasan di balik munculnya perilaku buruk tersebut.

Baca juga: Cara Simpel yang Bisa Dilakukan Biar Hemat Tapi Gak Terlihat Pelit

1. Belanja karena terpengaruh pemasaran

Belanja irasional bisa disebabkan karena terpengaruh pemasaran. (Shutterstock)
Belanja irasional bisa disebabkan karena terpengaruh pemasaran. (Shutterstock)

Itulah hebatnya pemasaran. Orang yang awalnya sama sekali gak punya keinginan membeli bisa dibujuk buat membeli.

Apalagi, kegiatan pemasaran ini makin masif sejak perkembangan teknologi komunikasi yang sedemikian pesat. Coba aja kamu browsing barang-barang tertentu di Google, maka iklan-iklan terkait barang tersebut bakal nangkring di hasil pencarian teratas.

Ini masih ditambah iklan-iklan yang bertebaran di media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, hingga Twitter. Iklan-iklan tersebut tiba-tiba muncul setelah kamu follow akun brand tertentu atau penjual produk.

Dengan iklan-iklan yang tertarget tersebut, cukup banyak lho yang akhirnya gak kuasa menahan diri lalu belanja. Iklan ini bakal makin efektif dengan didukung promo-promo yang menarik, misalnya aja buy 1 get 1 free yang tentu aja bikin banyak orang tergiur.

Baca juga: Gampang Banget! Gini Cara Beli Voucher Game Online dan Top Up Lewat UniPin

2. Ikut-ikutan orang lain dalam berbelanja

Ikut-ikutan teman, jadi belanja yang sebenarnya gak perlu deh. (Shutterstock)
Ikut-ikutan teman, jadi belanja yang sebenarnya gak perlu deh. (Shutterstock)

Melihat apa yang teman atau orang lain beli kadang-kadang memengaruhi preferensi berbelanja. Kamu pastinya pernah beli barang-barang tertentu karena teman kamu membelinya. Padahal, dipikir-pikir kamu belum perlu banget memiliki barang tersebut.

Hal ini biasanya terjadi dengan maksud pengin menyesuaikan diri dengan lingkungan. Contoh mudahnya, ketika kamu melihat beberapa teman sekantor memesan kopi via online. Tanpa sadar, kamu bisa dengan mudah terpengaruh lalu ikut memesan kopi.

Kejadian tersebut terjadi tanpa perlu menimbang ini dan itu. Kalau sering-sering begitu, udah jelas bikin pengeluaran jadi boros. Buat menghindar dari situasi tersebut, kamu harus kuat-kuat deh buat menahan diri dari segala godaan.

Baca juga: Orang Indonesia Harus Kerja 8 Bulan Buat Beli iPhone Terbaru

3. Gampang sekali berperilaku impulsif

Coba tekan sifat impulsif biar belanja gak jadi pemborosan. (Shutterstock)
Coba tekan sifat impulsif biar belanja gak jadi pemborosan. (Shutterstock)

Ikut-ikutan belanja ini dan itu juga terjadi karena adanya sifat impulsif. Asal tahu aja nih, sebagian besar perilaku belanja yang irasional muncul karena adanya sifat impulsif ini.

Selama sifat impulsif masih bercokol dalam diri, percuma aja deh bikin rencana atau bujet belanjaan. Buat pengin tahu sifat ini ada atau gak dalam diri kamu, cari tahunya gampang kok. Seandainya aja kamu lihat-lihat terus langsung membeli tanpa pikir panjang, itu pertanda kamu punya sifat impulsif.

Kebayang dong kalau tiap kali berkunjung ke mall lalu begitu lihat barang bagus bawaannya pengin membelinya? Kalau begitu, setiap bulan cerita kehabisan uang sebelum tiba waktu gajian bakal selalu berulang.

Cukup sulit buat bisa menghilangkan sikap ini. Namun, bukan sesuatu yang mustahil kok. Asalkan kamu disiplin belanja sesuai daftar, bawa uang secukupnya, berhenti berlangganan email newsletter dari ecommerce, hingga kurang-kurangi lihat situs belanja online, dijamin deh perlahan-lahan bisa lepas dari perilaku impulsif dalam belanja.

4. Takut kehabisan barang

Takut kehabisan barang diskonan bisa bikin belanja irasional. (Shutterstock)
Takut kehabisan barang diskonan bisa bikin belanja irasional. (Shutterstock)

Alasan lainnya kenapa seseorang cenderung irasional dalam belanja adalah adanya ketakutan akan habisnya barang-barang tertentu. Cukup banyak lho orang-orang yang punya pemikiran seperti itu. Karena pemikiran tersebut, belanja pun pada akhirnya menjadi keputusan yang gak terelakkan.

Bisa dimaklumi kenapa ketakutan tersebut muncul. Soalnya barang-barang yang diperkirakan bakal cepat habis tersebut dijual dengan harga diskon. Lagian siapa sih yang gak senang diskon? Kebanyakan orang senang belanja karena diskon.

Kalau diskonnya masih kecil sih, belum bikin orang-orang terdorong. Gimana kalau diskonnya lebih dari 50 persen? Udah pasti barang tersebut bakal diserbu pembeli.

Boleh-boleh aja sih belanja dengan pemikiran kayak gitu. Namun, balik lagi dengan aturan belanja, apakah barang tersebut memang udah perlu dibeli? Mubazir kiranya belanja sepatu baru kalau sepatu lama masih tahan 2 tahun lagi.

Lain ceritanya kalau beli barang semata-mata berdasarkan selera. Takut kehabisan barang terang aja menjadi kekhawatiran yang wajar. Asalkan nih, pembelian yang dilakukan gak bikin masalah terhadap keuangan di kemudian hari ya bebas-bebas aja beli barang sesuai selera walau barang tersebut mahal harganya.

Nah, dari penjelasan di atas, udah tahu kan sekarang kenapa belanja yang irasional itu bisa terjadi. Poinnya adalah apa yang dikejar dari barang-barang yang dibeli.

Kalau mengejar sisi fungsional, udah bukan waktunya lagi punya pikiran seperti poin-poin yang disebutkan di atas. Namun, normal-normal aja belanja irasional atas nama selera.

Namanya selera, semahal apa pun barangnya pasti dibeli walaupun beberapa orang menganggap hal tersebut gak masuk di akal. Jadi, tinggal dipilih aja nih, kamu mau kejar sisi fungsional atau selera? (Editor: Ruben Setiawan)

Boby
Boby

Lama bergelut dengan ensiklopedia. Kini fokus dengan urusan finansial. Di mana pun berada selalu berusaha sajikan karya yang terbaik. Semoga bermanfaat!

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Philippines Taiwan