Cuma Bermodalkan Rp 4 Juta, Brand Lokal Ini Sukses Mendunia Lho!

4 menit
monstore
Agatha Carolina salah satu founder Monstore (MoneySmart/Okky Budi)

Monstore merupakan salah satu brand fesyen lokal yang sudah cukup dikenal banyak orang. Berdiri sejak tahun 2009, Monstore kini telah sukses menjual produknya hingga ke mancanegara. 

Salah seorang founder-nya, Agatha Carolina, membagi kisah jatuh bangun mendirikan brand yang dibangunnya sejak kuliah saat menjadi pembicara event “Grow Your Business with Smart Starter Packs” yang dihelat MoneySmart, Sabtu 26 Oktober lalu. 

Agatha kemudian bercerita lebih jauh lagi mengenai bagaimana ide dan kiat dari Monstore untuk menghadapi lesunya dunia retail belakangan ini. 

Penasaran ingin mengetahui kisah Agatha Carolina mendirikan Monstore? Simak ulasannya di bawah ini: 

Modal awalnya cuma Rp 4 jutaan

Monstore
Cuma bermodal awal Rp 4 jutaan (Instagram/@monstore)

Monstore pertama kali didirikan Agatha Carolina dan dua orang partnernya pada tahun 2009. Saat itu sedang tren clothing line atau distro, dengan ciri khas desain kaos unik, dan harganya murah, sekitar Rp 99 ribuan.

Seperti halnya bisnis mahasiswa lain, Monstore juga dimulai dengan modal minim, yaitu hanya Rp 4 juta. 

“Kita start bertiga dengan modal Rp 4 juta, dari situ kita bikin pelan-pelan dengan tiga desain kaos, dan per desainnya cuma produksi enam lusin,” kata Agatha. 

Lantaran belum marak Instagram pada 10 tahun lalu, kaos tersebut dijual ke teman-teman kampusnya saja.

Baca juga: 5 Pengusaha Indonesia Ini Waralabanya Sukses Hingga Luar Negeri

Semua desainnya digambar tangan

Monstore
Semua desainnya digambar tangan (Instagram/@monstore)

Monstore enggan mengikuti tren pasar distro saat itu. Dengan berbagai macam pertimbangan, mereka memutuskan mengeksklusifkan diri dari segi desain dan harga. Dari segi desain, Monstore memilih menggambarnya dengan tangan langsung. 

“Kita pengin improve dari art-nya, karena baju-baju distro saat itu kebanyakan itu meng-copy doang dari internet, kita maunya add some value jadi hand drawing semuanya.” ungkapnya. 

Kaos yang sudah digambar itu kemudian diluncurkan dalam jumlah terbatas dan packaging eksklusif, sehingga harganya bisa sangat mahal.

“Kita sengaja kasih margin yang cukup jauh dari harga pasaran, karena kita mau kasih tahu kita berbeda. Kita put attention to detail, dari produk, sampai pengemasan produk” jelas Agatha.

Hingga kini, mereka masih mengandalkan gambar tangan untuk beberapa produknya.  

Produk Monstore pernah dijual ke department store besar

Monstore
Produknya pernah dijual ke department store besar (Instagram/@monstore)

Saat dirasa bisnis mulai menguntungkan, Agatha dan kedua partner-nya memutuskan membuat sebuah website. Di dalam website itulah pengunjung bisa membeli produk-produk Monstore secara online

Baru setelah tiga tahun berdiri mereka memutuskan membuka toko offline, dan titip jual di beberapa department stores besar, seperti Metro, Debenhams, Galeries Lafayette. 

Sempat jadi korban kelesuan retail 

Monstore
Sempat jadi korban kelesuan retail (Instagram/@monstore)

Beberapa tahun terakhir, dunia retail memang lagi mengalami kelesuan. Terbukti banyak department store besar gulung tikar atau hengkang dari Indonesia. Salah satu penyebabnya karena menjamurnya online store

Monstore ternyata juga terkena dampaknya barang-barang yang mereka titipkan di department store besar banyak yang tidak laku terjual. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjual semua produk itu dan fokus ke online

“Karena menurut kita fashion trends itu sudah shifting banget orang lebih milih beli online. Karena kita kebanyakan produksi ditaruh di berbagai macam toko akhirnya pas ditarik, stoknya masih banyak,” imbuh Agatha. 

Bekerja sama dengan event untuk meningkatkan income

Monstore
Bekerja sama dengan event untuk meningkatkan income (Instagram/@monstore)

Saat retail tengah didera ancaman kebangkrutan, Monstore tak hilang akal tetap meningkatkan pendapatan. Mereka akhirnya memilih memproduksi kaos hasil kerja sama dengan acara-acara besar di Indonesia. 

“Saat retail tengah guncang sekali, justru income kita besar sekali dari Monstore Productionnya. Seperti kita bikinin uniform untuk perusahaan, kita ikutan acara We The Fest, dan itu lebih profitable,” ujar Agatha saat ditemui di event MoneySmart tersebut. 

Sukses berjualan ke Singapura sampai Amerika Serikat 

Monstore
Sukses jualan ke Singapura sampai Amerika Serikat (Instagram/@monstore)

Mengepakkan sayap ke luar negeri sudah pernah dilakukan Monstore. Tapi, Agatha mengaku, mengatur penjualan dari luar sangat sulit, karena akses kontrolnya yang terbatas. 

“Dari tahun 2010 kita sudah ekspor ke Singapur, Jepang, Jerman, Australia pernah juga, tapi yang susah itu maintaining penjualan itu,” kata Agatha. 

Berita membanggakannya, Monstore pada tahun ini mendapat kesempatan dari Badan Ekonomi Kreatif ikut pameran kreatif di Amerika Serikat. Pameran tersebut berlangsung di New York, dan Las Vegas. 

Selain Monstore, ada delapan brand lokal lainnya, di antaranya Pot Meets Pop, Elhaus, Blueville, Annas Tribe, KoolaStuffa, Niion, dan Reinkarnasi. (Editor: Chaerunnisa)

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.