4 Hal yang Bisa Hilangkan Motivasi Kerja Karyawan dan Cara Mengatasinya

4 menit
Motivasi Kerja Karyawan (Shutterstock).
Motivasi Kerja Karyawan (Shutterstock).

Motivasi kerja karyawan menjadi satu hal yang penting dalam meningkatkan produktivitas perusahaan. Karena karyawan yang telah memiliki motivasi tinggi biasanya akan bekerja semaksimal mungkin.

Gawatnya nih, kalau tiba-tiba motivasi tersebut hilang! Akibatnya, si karyawan itu jadi malas-malasan, kerja setengah-setengah, sampai gak maksimal dalam menyelesaikan setiap tugas yang diberikan.

Kalau sudah kayak gitu, ya otomatis proses bisnis perusahaan jadi terganggu. Satu karyawan yang mengalami kondisi seperti itu saja bisa mengacaukan perusahaan, gimana kalau banyak?

Buat atasan atau HRD, jangan anggap remeh masalah motivasi kerja ini. Harus segera diatasi agar tidak menjadi beban perusahaan di masa yang akan datang.

Berikut ini 4 hal yang paling sering menyebabkan motivasi kerja karyawan hilang dan cara mengatasinya.

1. Mendapatkan gaji yang tak sepadan 

Motivasi Kerja
Uang gaji (Pixabay).

Gaji setiap karyawan pasti berbeda-beda, bahkan di dalam satu posisi yang memiliki beban kerja yang sama juga bisa berbeda. Oleh sebabnya HRD biasanya meminta karyawan untuk tidak saling membocorkan gaji masing-masing ke sesama rekan kerja. Khawatirnya, nanti bakal ada kesenjangan antar karyawan. 

Tapi, namanya karyawan kadang saling sharing itu hal biasa, termasuk soal gaji. Nah kalau tiba-tiba ada yang merasa tidak mendapatkan gaji yang semestinya, ia merasa seperti terdiskriminasi. Alhasil, ia jadi kehilangan semangat kerja deh, kerja ogah-ogahan. 

Lebih parahnya lagi, ada lho karyawan yang senior mendapatkan gaji lebih sedikit daripada junior, padahal beban kerjanya sama. Karena penentuan gaji itu biasanya disesuaikan dengan nilai inflasi jadi maklum jika gaji karyawan yang baru masuk dengan posisi yang sama dengan senior, bakal mendapatkan upah yang lebih besar. 

Cara mengatasinya

Audit secara rutin adalah hal yang harus dilakukan oleh perusahaan atau tim keuangan dan HRD. Lakukan setiap satu bulan atau enam bulan sekali untuk memastikan bahwa gaji yang diberikan terlihat adil, tentunya disesuaikan dengan keuangan perusahaan. 

 

Kalau ada yang gajinya di bawah rata-rata padahal keuangan perusahaan dalam keadaan yang sangat baik, jangan sungkan-sungkan untuk melakukan penyetaraan. 

2. Di-bully di tempat kerja 

Motivasi Kerja
Bully (Pixabay).

Perilaku bully bisa terjadi oleh siapa saja, dari berbagai gender dan posisi. Bagi pelaku, itu mungkin bisa menimbulkan kesenangan batin jika melakukannya, tapi bagi korban itu sangat menyakitkan. Perilaku bully di dunia kerja sangat tidak bisa ditolerir.

Korban bully-an akan merasa tidak nyaman bekerja bila dirinya merasa terintimidasi. Alhasil motivasi kerja jadi hilang, berangkat kerja malas, kerja merasa beban banget, dan lain-lain yang bisa menurunkan produktivitas kerja. 

Kalau bully dilakukan oleh mereka yang berada di satu level yang sama, mungkin korban masih bisa menegur dengan ucapan. Tapi, bagaimana kalau tindakan itu datang dari level manajerial? Sebagai korban yang posisinya masih bawahan juga takut untuk menegurnya. 

Cara mengatasinya

Perilaku melecehkan, menggoda, atau membuat seseorang merasa tidak nyaman sebenarnya sudah tertuang di dalam Undang-Undang, kalau melanggar bisa kena pelanggaran hukum. Jadi, perusahaan harus menerapkan sanksi yang tegas untuk perilaku yang satu ini. Kalau perlu sanksi pemecatan dilakukan apabila bullyan sudah melewati batas wajar. 

Dengan adanya aturan yang ketat dan tegas, setiap karyawan termasuk di level manajerial jadi mikir dua kali lagi deh buat bully sesama rekan kerja. 

3. Pembagian beban kerja yang gak adil 

Motivasi Kerja
Beban kerja (Pixabay)

Kadang setiap bos senang untuk menyerahkan tugas-tugas ke karyawan teladan atau favoritnya. Alhasil kesenjangan kerja pun bisa terjadi. Misalnya satu karyawan banyak kerja, dan yang lainnya cuma internetan seharian. 

Bagi yang mendapatkan beban kerja berlebih, itu sangat tidak adil. Sementara bagi yang tidak mendapatkan beban kerja sama sekali, dia juga bakal merasa gak dianggap sebagai karyawan. Alhasil, kedua-duanya mengalami penurunan motivasi kerja. 

Cara mengatasinya

HRD harus melakukan evaluasi kerja ke setiap karyawan termasuk ke level manajerial. Tanyakan beberapa pertanyaan terkait beban kerja yang mereka alami di periode tertentu. Kalau misalnya terlihat ada pola kesenjangan beban kerja, tinggal dikonsultasikan ke atasan yang berwenang. 

4. Aturan kerja yang ketat 

Motivasi Kerja
Aturan kerja (Shutterstock).

Aturan dibuat untuk menciptakan keteraturan, tapi siapa sangka aturan kerja yang terlalu ketat juga bisa menghilangkan motivasi kerja karyawan. Untuk aturan terkait dengan SOP kerja, seperti misalnya di pabrik, itu memang mau gak mau harus diterapkan. 

Namun kalau aturan sudah merembet ke ranah hak pribadi, misalnya, pembatasan waktu cuti dan tata cara berpakaian, karyawan pasti bakal malas juga. Misalnya, mereka gak boleh cuti lebih dari tiga hari, padahal jatah cutinya masih banyak. 

Atau aturan lainnya terkait jam masuk, setiap karyawan harus masuk kerja sebelum pukul 09.00, lewat satu menit, bakal kena denda. Aturan yang terlalu ketat kayak gitu malah bikin karyawan malas kerja. 

Cara mengatasinya 

Banyak karyawan yang senang fleksibilitas, mereka gak terlalu suka dengan aturan yang ketat dan mengikat. Oleh sebabnya, perlu bagi perusahaan atau HRD untuk mereview setiap aturan dan bisa menempatkan dimana fleksibilitas itu ditempatkan. 

Itulah empat hal yang bisa menyebabkan hilangnya motivasi kerja karyawan. Perusahaan memiliki kewajiban untuk menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan, tenang, dan tentunya kondusif. Bila semua unsur tersebut telah terpenuhi, dijamin karyawan juga jadi semangat buat melakukan setiap tugasnya. (Editor: Winda Destiana Putri).

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.