2018, Rupiah Sedot Perhatian Publik dan Selalu Jadi Bancakan Politik

2 menit
Pixabay

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sepanjang tahun 2018 menyorot perhatian publik. Apalagi naik turunnya nilai tukar pada tahun 2018 semakin memanas karena menjelang tahun politik.

Tak pelak hal ini menjadi bancakan dan perdebatan sengit dalam panggung politik terkait kondisi perekonomian nasional.

Indonesia sendiri memiliki sejarah yang cukup menghentakkan publik tanah air dikala nilai tukar rupiah terhadap dollar AS semakin keok pada krisis moneter 1998 silam.

Sebab, pada awal tahun 2018 lalu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih berada pada level Rp 13.500 per dollar AS, namun sepanjang perjalanan tahun 2018 nilai tukar rupiah terus menurun atau terdepresiasi hingga menyentuh level Rp 14.000 pada Mei 2018.

Sempat Sentuh Level Rp 15.200 per Dollar AS

Dolar-Naik
Dolar-Naik

Sorotan publik tak henti-hentinya sepanjang tahun 2018, bahkan pada Oktober 2018 nilai tukar rupiah mencapai level Rp 15.200 per dollar AS.

Nilai tukar yang menyentuh level Rp 15.000 per dollar AS, disebut mencapai titik terendah sejak krisis moneter pada tahun 1998.

Meskipun nilai tukar rupiah hampir menyamai level tahun 1998, berbagai ekonom dalam negeri menampik, bahwa depresiasi tahun 2018 sama dengan tahun 1998 lalu. Sebab kondisi ekonomi pada tahun 1998 dengan 2018 dinilai berbeda.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menegaskan penurunan nilai tukar rupiah pada tahun 2018 jelas berbeda. Karena pada taun 1998 lalu krisis mata uang negara berkembang dimulai dari Thailand, dan 2018 ini bermulai dari Turki dan Argentina.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi nasional yang mengalami -13,6 persen berbeda dengan tahun 2018 yang masih berada pada level 5,2 persen. Kemudian dari sisi cadangan devisa juga sangat jauh berbeda tahun 1996 sebelum krisis berada di angka US$ 18,3 miliar. Pada tahun ini di kisaran US$ 118,3 miliar

Faktor Global Dominasi Nilai Tukar Rupiah

Ekonomi Global (Ilustrasi).

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tentu tak lepas dari peran perkembangan ekonomi global. Hal ini sering disebut dengan faktor eksternal yang mempengaruhi perekonomian nasional termasuk nilai tukar mata uang kita.

Adanya normalisasi kebijakan ekonomi di Amerika Serikat turut mempengaruhi nilai tukar mata uang nasional. Seperti kenaikan suku bunga Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) secara agresif dibawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump misalnya.

Selain normalisasi kebijakan AS, depresiasi rupiah juga dipengaruhi faktor eksternal lain yakni perang dagang antara AS dan China. Hal itu berimbas pada kenaikan tarif masuk produk unggulan kedua negara.

Menteri Koordinator Perekonomian Damin Nasution menyebutkan, adanya perang dagang membuat ketidakpastian ekonomi global dan berdampak pada nilai tukar mata uang negara berkembang.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.