Siap-Siap, Pemerintah Bakal Hapus Diskon Ojek Online

2 menit
Diskon Ojek Online Bakal Dihapus (Shutterstock)
Diskon Ojek Online Bakal Dihapus (Shutterstock)

Kementerian Perhubungan akan mengeluarkan aturan berupa larangan tarif diskon pada transportasi online, termasuk ojek online.

Sebab, perang diskon tarif transportasi online oleh aplikator dinilai memberikan persaingan usaha yang tidak sehat. Selain itu dikson tarif juga hanya bersifat sementara dan tidak jangka panjang bagi konsumen.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, dalam tarif transportasi online saat ini terdapat dua skema diskon yakni secara langsung dan tidak langsung.

“Diskon langsung relatif tidak ada. Diskon yang ada ini relatif tidak langsung, yang diberikan oleh partner-partnernya,” ujar Budi Karya di Jakarta.

Menurutnya, Kementerian Perhubungan akan mengeluarkan aturan berupa Peraturan Menteri (Permen) atau Surat Edaran (SE) yang melarang pemberian tarif diskon transportasi online.

“Oleh karenanya kita merancang satu Permen (Peraturan Menteri) atau surat edaran yang melarang diskon-diskon ini. Memang memberikan suatu keuntungan sesaat. Tapi untuk long term saling membunuh itu yang kita ingin tidak terjadi,” kata Menhub.

Diskon Fintech Bantu Ojek Online

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan, diskon yang saat ini digunakan masyarakat adalah diskon tidak langsung. Diskon diberikan oleh perusahaan fintech seperti OVO dan Go Pay yang notabene telah menjadi entitas perusahaan tersendiri. Bukan lagi aplikator transportasi online.

“Sebetulnya diskon-diskon itu bukan aplikator Go-Jek atau Grab, dari fintech OVO, Go-pay itu entitas sendiri. Bukan dari Go-Jek,” paparnya.

Budi mengatakan, aturan terkait larang ini akan segera diterbitkan pemerintah, dan ditargetkan akan rampung pada akhir Juni mendatang. “Paling 1-2 minggu ke depan. Akhir Juni sudah selesai,” kata Dirjen Perhubungan Darat.

Sebelumnya, Nila Marita, Chief Corporate Affairs Go-Jek Indonesia mengatakan, subsidi berlebihan untuk promosi (diskon tarif) memberikan kesan harga murah. Namun hal ini semu karena promosi tidak dapat berlaku permanen.

“Dalam jangka panjang, subsidi berlebihan akan mengancam keberlangsungan industri. Menciptakan monopoli dan menurunkan kualitas layanan dari industri itu sendiri,” jelasnya.

Nila mengatakan, ancaman terhadap keberlangsungan industri dapat mengakibatkan hilangnya peluang pendapatan bagi para mitra driver. Tentunya sangat ingin kami hindari.

“Go-Jek ingin menjaga keberlangsungan industri ini. Agar mitra driver kami terus mendapatkan sumber penghasilan yang berkelanjutan. Para konsumen juga terus dapat menikmati layanan aman, nyaman dan berkualitas,” kata Nila.

Pihaknya juga akan terus laporkan perkembangan terkait uji coba tarif kepada Pemerintah untuk dapat saling memberikan dan menerima masukkan.

“Kami berharap dapat bersama-sama menciptakan industri yang sehat. Sehingga dapat terus mempermudah hidup konsumen serta menjaga pendapatan dan kesejahteraan driver yang berkesinambungan,” paparnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Philippines Taiwan