OJK Hentikan Sementara Penerbitan Reksadana Baru, Ini Alasannya

2 menit
Penerbitan Reksadana Baru Dihentikan (Shutterstock)
Penerbitan Reksadana Baru Dihentikan (Shutterstock)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menghentikan sementara waktu penerbitan reksadana baru. Penghentian ini dilakukan karena OJK tengah meneliti penyebab tingginya investor tunggal dalam portofolio reksadana di Indonesia.

“Yang baru kita stop dulu, kita hold dulu. Tapi yang sudah ada, ya jalan saja seperti biasa. Karena kita ingin pastikan, kita ingin berdiskusi dengan manajer investasi kenapa terjadi tren seperti ini,” ungkap Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II Fakhri Hilmi di Jakarta.

Fakhri mengatakan, saat ini jumlah investor tunggal pada produk reksadana sudah sepertiga dari total keseluruhan produk reksadana. Berdasarkan temuan OJK saat ini terdapat 2.158 reksadana dengan nilai dana kelolaan mencapai Rp 536,52 triliun. Dari jumlah tersebut, terdapat 689 reksadana yang dimiliki investor tunggal dengan nilai dana kelolaan sebesar Rp 190,82 triliun.

Adapun 621 reksadana di antaranya merupakan reksadana investor tunggal dengan portofolio investasi lebih dari satu efek atau non tunggal dengan dana kelolaan reksadana seperti ini sebesar Rp 181,38 triliun. Kemudian terdapat 68 reksadana investor tunggal dengan portofolio investasi tunggal atau hanya satu efek dengan total dana kelolaan reksadana ini mencapai Rp 9,44 triliun.

“Kita lihat data-data itu perlu kita cermati dan dalami. Makanya untuk sementara waktu pendaftaran baru untuk reksadana tunggal kita hentikan dulu, kita tutup dulu,” jelas Fakhri.

Perkembangan Reksadana Tunggal

Fakhri menjelaskan, pihaknya akan melakukan pendalaman bersama dengan manajer investasi aktivitas perkembangan reksadana tunggal. “Fenomena ini yang buat kita harus mendalami hal ini. Tidak ada negatif atau positif, ini perlu kita dalami,” paparnya.

Menurutnya, tidak ada yang salah dan dilanggar dari aktivitas tersebut. Namun sebagai otoritas, adanya aktivitas yang tinggi dari instrumen tersebut maka sewajibnya pihaknya melakukan pengawasan sebagaimana tugas dan fungsi OJK sendiri.

“Tidak ada aturan yang dilanggar di sini, konteks pengawasan yang dilakukan OJK. Kita selalu analisa data untuk melakukan kebijakan. Karena banyak kemarin, nanya sanksi. Kita tidak bicara sanksi di sini, kita bicara data yang kita selalu analisa sehingga kita ambil kebijakan,” ungkapnya.

Saat ini, OJK juga telah melakukan komunikasi dengan Manajer Investasi (MI) terkait temuan tersebut. “Tergantung analisis hasil komunikasi OJK dengan MI. Nanti seperti apa kita sedang dalami. Kita berpikiran terbuka, kita liat ada data (reksadana) seperti ini kita akan klarifikasi ini,” jelasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.