Kabar Gembira, Bunga Fintech P2P Bakal Turun Tahun Ini!

2 menit
Shutterstock
Shutterstock

Bunga pinjaman dari perusahaan financial technology (fintech) berpeluang turun pada tahun ini. Sebab, risiko kredit macet akan ditekan dengan campur tangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Selama ini, fintech lending membebankan bunga kredit yang tinggi karena risiko gagal bayarnya besar. Pada Kuartal I-2019 ini, data terkait nasabah fintech pinjam-meminjam (lending) bakal dikumpulkan dalam Pusat Data Fintech Lending (Pusdafil).

Langkah ini dinilai bisa menurunkan biaya dan risiko yang ditanggung fintech lending, sehingga bunganya bisa menurun. Biaya yang dimaksud adalah anggaran fintech lending untuk mengumpulkan data calon peminjam, guna mengukur risikonya.

Biasanya, fintech lending investasi di bidang teknologi atau bermitra dengan Pefindo Biro Kredit. Semakin tinggi risiko pinjaman, maka semakin besar bunga yang ditetapkan bagi peminjam.

“Pusdafil bisa memitigasi risiko (lebih) awal dari gagal bayar. Itu bisa sangat mengurangi cost yang akan timbul,” kata Ketua Bidang Institusional dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede seperti dikutip dari Katadata.co.id.

Pada fintech yang bekerja dengan skema peer to peer alias P2P, bunga yang didapat ini kemudian dibagi untuk fintech lending dan pemberi pinjaman (lender). “Karena sistemnya bagi hasil,” ungkapnya.

Oleh karena itu, komponen pembentuk bunga di fintech lending diukur dari risiko yang ditanggung si pemberi pinjaman dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Biaya itu misalnya, investasi teknologi, kemitraan, dan operasional.

Selain itu, OJK mengajukan syarat seperti sertifikasi ISO 27001 terkait keamanan informasi dan tanda tangan digital yang seemless.

Operational expenditure (opex) dan capital expenditure (capex) juga dimasukkan ke bunga,” kata dia. Perkiraannya, besaran komponen opex dan capex yang dibebankan sekitar 30 persen dari bunga.

Meski begitu, menurut dia bunga fintech lending lambat laun akan menurun karena faktor persaingan. “Konsumen akan memilih yang bunga dan biayanya paling murah,” tuturnya.

Pemerintah Akan Tekan Bunga Kredit

Disamping itu, fintech lending yang bermitra dengan pemerintah untuk program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dana bergulir akan menawarkan bunga rendah. Pinjaman jenis ini bisa juga diajukan oleh masyaraka

Senada dengannya, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, Pusdafil akan menekan biaya fintech lending sehingga bunganya bisa menurun.

“Karena yang membuat bunga tinggi karena resiko gagal bayarnya besar,” ujar dia.

Adapun bunga fintech lending yang menawarkan produk pinjaman produktif dikisaran 16-30 persen per tahun. Sementara pinjaman yang bersifat konsumtif, bunganya sudah dibatasi 0,8 persen per hari dengan batas maksimal bunga dan biaya lainnya tidak lebih dari 100 persen.

 

Ayyi Hidayah
Ayyi Hidayah

Pecinta film yang senang berinvestasi. Menulis merupakan passion, menjadi perencana investasi merupakan panggilan hati

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Tentang Kami

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

Singapore Indonesia Hong Kong Philippines Taiwan