Wow, Orang Miskin di Indonesia Makin Sedikit

2 menit
Orang Miskin Indonesia (Shutterstock)
Orang Miskin Indonesia (Shutterstock)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Persentase penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 9,41 persen. Angka ini mengalami penurunan 0,25 persen terhadap September 2018 dan menurun 0,41 persen poin terhadap Maret 2018.

Secara jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta orang. Jumlah itu menurun 0,53 juta orang terhadap September 2018 dan menurun 0,80 juta orang terhadap Maret 2018.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2018 sebesar 6,89 persen, turun menjadi 6,69 persen pada Maret 2019. 

Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada September 2018 sebesar 13,10 persen, turun menjadi 12,85 persen pada Maret 2019.

Dibanding September 2018, jumlah penduduk miskin Maret 2019 di daerah perkotaan turun sebanyak 136,5 ribu orang (dari 10,13 juta orang pada September 2018 menjadi 9,99 juta orang pada Maret 2019). 

Sementara itu, daerah perdesaan turun sebanyak 393,4 ribu orang (dari 15,54 juta orang pada September 2018 menjadi 15,15 juta orang pada Maret 2019).

“Garis Kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp425.250,- per kapita per bulan. Dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar Rp313.232,- (73,66%) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp112.018,- (26,34%),” kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta.

Pada Maret 2019, secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,68 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp1.990.170,- per rumah tangga miskin per bulan.

Program Pengentasan Kemiskinan

Suhariyanto mengatakan, penurunan jumlah populasi masyarakat miskin disebabkan oleh berbagai faktor. Utamanya adalah program pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah. Seperti Program Rastra atau Beras Sejahtera, Program Kartu Indonesia Sehat atau (KIS), dan juga Bantuan Pangan Non-tunai.

“Tren ini menggembirakan, karena adanya Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dana bantuan tunai, dan berbagai kebijakan lainnya untuk bantuan sosial. Sehingga penurunan kemiskinan terjadi,” paparnya.

Meski demikian, kesenjangan antara kota dan desa masih terlihat jelas. Dengan ini diharapkan pemerintah untuk membuat kebijakan yang mengutamakan masyrakat desa agar populasi masyarakat miskin terus menurun.

“Masih ada disparitas tinggi antara kota dan desa. Mayoritas penduduk miskin di desa, jadi kebijakan harus fokus ke desa,” kata Suhariyanto.

Masyarakat Miskin Terbanyak di Maluku dan Papua

Sementara itu, berdasarkan populasi penduduk miskin berdasarkan kepulauan pada Maret 2019. Tercatat penduduk miskin terbesar berada di wilayah Pulau Maluku dan Papua yaitu sebesar 20,91 persen. 

Sedangkan persentase penduduk terendah berada di Pulau Kalimantan, yaitu 5,93 persen.

“Dari sisi jumlah, sebagian besar penduduk miskin masih berada di Pulau Jawa sebanyak 12,72 juta orang. Sedangkan jumlah penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan 0,97 juta orang,” kata Kepala BPS.

Beras Penyumbang Utama Garis Kemiskinan

Kemudian, dari sisi komoditas penyumbang garis kemiskinan, beras masih menjadi komoditas utama yang berkontribusi besar pada garis kemiskinan. Baik di wilayah desa maupun perkotaan.

“Beras masih memberi sumbangan sebesar 20,59 persen di perkotaan dan 25,97 persen di pedesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan. Angkanya 12,22 persen di perkotaan dan 11,36 persen di pedesaan,” sebutnya.

Sedangkan, komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan garis kemiskinan terbesar di perkotaan dan pedesaan masih dipicu oleh sektor perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

“Perumahan memberikan sumbangan terbesar sebanyak 8,16 persen di perkotaan dan 7,26 persen di pedesaan,” pungkas Suhariyanto.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.