Ini Penyumbang Devisa Nomor Dua Terbesar Indonesia, Nilainya Rp 246 Triliun

2 menit
Devisa
Shutterstock

Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia (BI) menargetkan tahun 2019, industri pariwisata nasional mampu menghasilkan devisa US$ 17,6 miliar atau setara Rp 246 triliun.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, industri pariwisata merupakan sektor terbesar kedua penyumbang devisa setelah industri minyak sawit atau crude palm oil (CPO). Adapun, pada tahun ini, pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 20 juta kunjungan.

Perry menilai, perolehan devisa dari industri pariwisata nasional dapat memberikan dampak ekonomi yang besar. Sebab industri pariwisata memiliki klasifikasi bisnis yang beragam, mulai dari transportasi, resort, hotel, restoran hingga UMKM.

“Dampaknya ke pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat kita. Pengembangan digital ekonomi akan semakin memberi nilai tambah tidak hanya devisa tetapi juga ekonomi rakyat kita,” ujar Perry di Jakarta.

Guna mencapai target tersebut, pemerintah bersama dengan BI dan Kementerian Pariwisata akan terus mendorong perkembangan industri pariwisata nasional. Salah satunya dengan pemerataan infrastruktur, pembiayaan, hingga promosi digital.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku optimis pada tahun ini industri pariwisata bisa mencapai target. Meskipun pada tahun lalu berada dibawah dari target yang ditetapkan akibat dampak terjadinya bencana alam di beberapa wilayah.

“Target (2018) US$ 17 miliar, devisanya hampir US$ 16 miliar, tercapainya (wisman) hampir 16 juta tahun lalu. Tahun ini US$ 17,6 miliar, ini akan menjadi penyumbang devisa terbesar,” ujar Arief.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, target yang ditetapkan oleh pemerintah merupakan target yang bisa dicapai. Dengan itu, pemerintah akan secara masih melakukan promosi pariwisata melalui jalur digital.

“Kita sepakat dan lihat progress dari tahun lalu. Kita percaya ada di track yang benar, digitalisasi promosi turis seperti IMF. Digitalisasi akan kita tingkatkan, target 20 juta bukan mustahil, angka konservatif. US$ 17,6 miliar saya kira optimis. Ekonomi bagus, pariwisata bagus, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” tegasnya.

Industri Pariwisata Sumber Ekonomi Baru

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sugeng mengatakan, pertumbuhan industri pariwisata nasional dinilai sebagai sumber ekonomi baru setelah sumber daya alam. Sebab industri ini memiliki potensi raihan devisa yang relatif cepat.

“Kita tidak bisa bergantung pada sumber daya alam. Kita harus cari sumber ekonomi baru,” ujarnya.

Dengan itu, pemerintah akan secara masih mengembangkan sektor ini, termasuk 10 destinasi baru yang masuk dalam daftar pengembangan industri pariwisata nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Januari 2019 mencapai 1,16 juta kunjungan.

Jumlah tersebut setara dengan 5,8 persen dari target pemerintah kunjungan wisman ke Indonesia yang mencapai 20 juta kunjungan sepanjang 2019.

Secara tahunan, kunjungan wisman mengalami kenaikan sebesar 5,5 persen dari 1,1 juta kunjungan pada Januari 2018 lalu.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.