4 Sumber Pembangkit Listrik yang Lebih Ramah dan Murah dari Batu Bara

3 menit
4 Sumber Pembangkit Listrik yang Lebih Ramah dan Murah dari Batu Bara, (Ilustrasi/Shutterstock).

Terganggunya aktivitas pembangkit listrik di Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian di Jawa Tengah masih menarik buat diulas. Pasalnya sebagian besar wilayah di keempat provinsi tersebut mengalami mati listrik pada Minggu dan Senin kemaren.

PLN menyebut penyebabnya karena ada masalah di Transisi Ungaran dan Pemalang 500 kV. Hal ini mengakibatkan arus lalu lintas listrik dari timur ke barat mengalami kendala. Kondisi ini yang disebut dengan istilah blackout.

Pasca-blackout, meski menimbulkan banyak kerugian, ternyata juga diyakini memberikan dampak positif. Di antaranya membuat polusi udara di Jakarta jadi berkurang. 

Seperti dikutip dari detikcom, WALHI menyebutkan kalau blackout membuat polusi udara di Jakarta yang beberapa hari belakangan memuncaki posisi teratas, secara seketika turun. Kemungkinannya karena berkurangnya aktivitas warga, dan berhenti beroperasinya listrik tenaga uap (PLTU).

Memang udah sejak lama, para aktivis lingkungan menilai bahwa batu bara diklaim sangat gak ramah lingkungan buat dijadikan sumber energi listrik. Tapi, manfaatnya sangat dibutuhkan oleh banyak orang, karena dinilai paling murah dibandingkan sumber energi lainnya.

Sebenarnya ada banyak sumber pembangkit listrik yang berasal dari energi terbarukan selain batu bara. Bahkan beberapa di antaranya ada yang lebih ramah lingkungan. Adakah yang lebih murah? Berikut ini ulasannya berdasarkan riset International Renewable Energy Agency (IRENA) tahun 2017.

Baca juga: Pembangkit Listrik Tenaga Surya Berbentuk Panda Raksasa Dibangun di China

1. Pembangkit listrik tenaga air (Rp 713/kWh)

Pembangkit listrik
Memanfaatkan tenaga air merupakan alternatif sumber listrik nih, (Ilustrasi/Pixabay).

Pembangkit listrik tenaga air udah menjadi andalan masyarakat sejak zaman dulu sebenarnya. Cara kerjanya hanya mengandalkan kecepatan arus sungai, bendungan, waduk, dan air terjun, buat menggerakkan turbin generator mesin.

Listrik yang bersumber dari air dinilai lebih murah. Selain itu teknologinya juga sederhana alias gak ribet, cuma modal kincir air, listrik dapat tersalurkan. Harganya untuk setiap kWh sekitar US$ 0.05 atau Rp 713 perak. 

Indonesia yang terdiri dari negara kepulauan, memiliki banyak kondisi alam yang dipenuhi oleh perairan, mulai dari laut, sungai, waduk, air terjun, dan lain-lain. Hal ini menjadi potensi besar untuk mengembangkan tenaga listrik air. Di tahun 2019 ini, terdapat 29 PLTA yang telah beroperasi. 

Baca juga: Populasi Mobil Listrik Makin Meningkat, Gimana dengan Tagihan Pengendara?

2. Tenaga angin (Rp 855/kWh)

pembangkit listrik
Manfaatkan tenaga angin bisa dijadikan sumber listrik nih di sebuah negara, (Instagram/@pltb_sidrap).

Kamu mungkin pernah melihat di internet kincir angin yang ikonik di Belanda. Nah itulah yang dimanfaatkan buat menggerakkan turbin menggunakan kekuatan angin. 

Jangan kamu kira di Indonesia gak ada, pembangkit listrik tenaga angin pertama di Indonesia ada di Sulawesi Selatan, yaitu PLTB Sidrap. Di sana kamu bakalan melihat 30 kincir angin yang mampu menghasilkan listrik sampai 75 Mega Watt. Bakal ada 70 ribu lebih masyarakat Sulsel yang menerima manfaatnya. 

Berdasarkan laporan IRENA harga 1 kWh sekitar US$ 0.06 atau Rp 855 perak aja. 

Baca juga: Biaya Listrik Naik Terus? Cobain Pakai Panel Surya Yuk! Ini Biaya yang Bakal Kamu Keluarin

3. Tenaga panas bumi (Rp 998/kWh)

pembangkit listrik
Tenaga panas bumi juga bisa dimanfaatkan buat pembangkit sumber listrik, (Instagram/@djebtke).

Panas bumi ternyata juga bisa bermanfaat buat menghasilkan listrik lho. Cara kerjanya dengan menggali sumur ke dalam sumber titik panas bumi, kemudian panasnya dialirkan demi menggerakkan turbin. 

Salah satu lokasi yang dijadikan pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah di Sarulla, Kawasan Gunung Toba. PLTP Sarulla ini juga disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia. 

Harga listrik per 1 kWh di pasaran global sekitar US$ 0.07 atau Rp 998 perak. 

4. Tenaga surya (Rp 1.426/kWh) 

pembangkit listrik
Manfaatkan tenaga surya buat listrik emang saat ini tengah tren nih di mana aja, termasuk Indonesia, (ILustrasi/Pixabay).

Selain batu bara dan air, salah satu tren pembangkit listrik yang tengah marak di Indonesia adalah tenaga matahari atau surya. Cara kerjanya adalah dengan memasang alat seperti panel yang bertugas buat menangkap cahaya matahari yang kemudian disimpan menjadi energi. 

Panel surya udah banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga, perkantoran, dan fasilitas publik. Tenaga listrik yang satu ini diklaim paling ramah lingkungan. 

Meski terbilang lebih ramah dan praktis, tapi harga pasaran global untuk 1 kWh masih lebih mahal bila dibandingkan dengan tenaga lainnya, yaitu US$ 0.1 atau Rp 1.426.

Itulah lima energi terbarukan yang bisa dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Kalau dibandingkan dengan batu bara, ternyata harganya masih terbilang murah. Dikutip dari Katadata harga 1 kWH yang dihasilkan dari PLTU adalah Rp 1.119 untuk periode April 2019 sampai 2020. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.