BNP Paribas Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh Positif

2 menit
Shutterstock
Shutterstock

Tahun 2019, BNP Paribas Investment Partners menyatakan keyakinannya bahwa ekonomi Indonesia akan memiliki potensi pertumbuhan yang positif.

Vivian Secakusuma, Presiden Direktur BNP Paribas mengatakan, tahun 2018 merupakan tahun yang menantang bagi pasar negara berkembang secara umum, termasuk Indonesia. Dengan berbagai kejadian di pasar global, terutama perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta risiko di pasar Eropa di tengah diskusi Brexit.

“Menyikapi hal tersebut, kami menyarankan investor untuk tetap waspada dan terus memantau perkembangan pasar modal serta prospeknya untuk tahun ini,” kata Vivian.

Vivian menambahkan, pada tahun 2019, prospek pertumbuhan global diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan. Namun demikian pasar negara berkembang yang mempunyai prospek lebih baik dalam jangka panjang.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global diproyeksikan melambat, tetapi masih akan berada di atas tren jangka panjangnya yaitu di 2,9 persen per tahun.

Pertumbuhan PDB di AS diperkirakan akan kembali normal pada tahun 2019. Karena efek stimulus pajak yang memudar dan perkiraan diberhentikannya suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral Amerika (The Fed).

Setelah dua kali peningkatan pada awal semester tahun ini. Ketegangan perdagangan antara AS dan China diperkirakan akan terus berlangsung dan dapat menekan pertumbuhan di kedua negara tersebut.

Potensi Perkembangan Ekonomi Indonesia

Hal ini berdampak pada pelemahan prospek mata uang dolar AS dan RMB. Namun hal ini diharapkan dapat membawa stabilitas pada mata uang di negara berkembang.

BNP Paribas melihat perekonomian Indonesia akan membaik secara bertahap dengan estimasi pertumbuhan PDB yang lebih tinggi, yaitu di 5,2 persen untuk tahun 2019.

Kondisi ekonomi diperkirakan akan stabil di tengah inflasi yang terkendali dan mata uang yang lebih stabil. Karena harga minyak yang melemah dan berkurangnya tekanan untuk pasar negara berkembang secara keseluruhan.

“BNP Paribas IP memproyeksikan tingkat inflasi dapat stabil di kisaran 3,75 persen per tahun dengan nilai tukar mata uang dolar AS ke Rupiah di Rp 14.300 – 14.800 pada akhir tahun 2019,” kata Vivian.

Aliyahdin (Adi) Saugi, Direktur BNP Paribas IP, menjelaskan, untuk pasar saham di Indonesia. Dirinya memperkirakan akan adanya pertumbuhan yang cukup kuat dengan momentum bullish.

Dengan asumsi imbal hasil obligasi 10 tahun di kisaran 8 persen dan pendapatan emiten diperkirakan akan tumbuh 9 persen pada tahun 2019. Kami memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mencapai nilai wajar di kisaran 6.900 tahun ini.

Untuk pasar obligasi Indonesia, strategi yang ditentukan oleh Bank Indonesia (BI) akan masih bergantung pada keputusan kebijakan The Fed. Dengan fokus untuk menjaga stabilitas mata uang Rupiah dan juga berupaya untuk menjaga tingkat inflasi.

BI juga diperkirakan siap untuk mempertahankan nilai tukar Rupiah dengan memanfaatkan cadangan devisanya. Hal ini agar dapat memberikan lebih banyak ruang bagi Rupiah untuk menguat.

Selain itu, pelemahan Rupiah serta imbal hasil obligasi yang diberikan di tahun 2018 juga telah membuat obligasi pemerintah Indonesia menarik bagi investor di tahun 2019 ini.

“Untuk strategi investasi kami, kami akan tetap fokus dalam berinvestasi pada perusahaan yang stabil dengan proyeksi pertumbuhan jangka panjang. Kami akan tetap konstruktif pada sektor perbankan dan telekomunikasi. Hal ini dikarenakan prospek pertumbuhan kedua sektor tersebut cukup baik, dengan tetap mempertimbangkan risiko pasar dengan valuasi sektor kami,” kata Adi.

Cadangan Devisa dan Suku Bunga Masih Jadi Perhatian

Kemudian, langkah berkelanjutan dari Pemerintah Indonesia, seperti peningkatan tingkat suku bunga dan penggunaan cadangan devisa yang diperkirakan masih akan terus dilakukan.

“Menurut kami akan berdampak positif terhadap peningkatan kepercayaan investor pada Indonesia,” tambahnya.

Meskipun memiliki proyeksi pasar yang cukup optimis, Adi juga mengingatkan investor tentang risiko yang masih ada terkait pasar local dan juga risiko geo-politik global.

Namun Adi tetap percaya bahwa bagi investor, Indonesia akan tetap dipandang sebagai potensi investasi yang menarik.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.