Ini Penyebab Perhiasan Indonesia Laris Manis di Dunia

2 menit
Ilustrasi Wanita Memakai Perhiasan (Shutterstock)
Ilustrasi Wanita Memakai Perhiasan (Shutterstock)

Ekspor produk perhiasan buatan Indonesia tengah disukai oleh pasar global. Hal ini bisa menjadi peluang bagi pelaku bisnis maupun produsen aksesoris di Indonesia menjual produknya secara global.

Industri perhiasan merupakan salah satu sektor andalan dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional melalui capaian nilai ekspornya.

Hal ini lantaran produk dalam negeri mampu berdaya saing global dan memiliki nilai tambah tinggi.

“Di era globalisasi dan perkembangan teknologi serta persaingan yang semakin ketat, Kementerian Perindustrian tengah fokus memacu kinerja industri padat karya. Terutama yang berorientasi eskpor, tidak terkecuali pada sektor industri ini,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih.

Laku Keras di Singapura, Swiss, Hong Kong Hingga AS

Kemenperin mencatat, nilai ekspor produk Indonesia mencapai US$ 2,05 miliar sepanjang tahun 2018. Negara tujuan utama ekspornya, antara lain ke Singapura, Swiss, Hong Kong, Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab.

Negara-negara tersebut mendominasi hingga 93,02 persen dari total ekspor produk perhiasan nasional.

Saat ini Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai eksportir perhiasan dengan pangsa pasarnya lebih dari 4 persen di kancah global.

“Hal ini menjadikan peluang bagi industri kita untuk terus memperbesar produktivitas dan memperluas pasarnya. Sejalan dengan perekonomian yang stabil dan perbaikan iklim usaha yang kondusif di Tanah Air,” imbuhnya.

Oleh karena itu, pemerintah bertekad untuk menjaga ketersediaan bahan baku sehingga keberlangsungan usaha di sektor industri perhiasan bisa berjalan terus.

“Misalnya, kami berupaya untuk menjaga agar bahan baku tidak dikenakan bea masuk. Ini yang akan kami kawal terus,” ujarnya.

Beberapa bahan baku yang dibutuhkan, di antaranya emas serta batu permata seperti berlian, zamrud, dan ruby.

Sejalan upaya tersebut, Kemenperin pun mengusulkan penurunan tarif bea masuk produk perhiasan nasional di negara tujuan ekspor, seperti Uni Emirat Arab.

“Hal ini merupakan salah satu langkah untuk terus meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri perhiasan kita dalam menghadapi persaingan global,” terangnya.

Untuk tahun 2019, pemerintah mengaku optimistis, dengan gencarnya kegiatan promosi secara offline, penjualan dan ekspor akan terdongkrak naik.

“Apalagi, seperti produk perhiasan ini, perlu promosi lewat offline. Kami yakin, penjualan pada pameran Jakarta International Jewellery Fair 2019 bisa naik 25 persen dibanding tahun lalu,” ungkapnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

Mau lebih cerdas kelola uang?

Dapatkan tips saham, karier, inspirasi bisnis dan konten menarik lainnya!