Sangat Disayangkan, Ini Deretan Perusahaan Kelas Dunia yang Hengkang Dari Indonesia

2 menit
Perusahaan Kelas Dunia Hengkang Dari Indonesia (Shutterstock)

Banyaknya perusahaan kelas dunia yang hengkang dari Indonesia sangat disayangkan, dan sempat membuat banyak orang bertanya-tanya. Termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengungkapkan kekesalannya.

Contohnya PepsiCo, perusahaan makanan dan minuman ringan memutuskan untuk menghentikan produksinya di Indonesia sejak 10 Oktober 2019. Penghentian ini seiring berakhirnya masa kontrak produksi, penjualan, dan distribusi dengan PT Anugerah Indofood Barokah Makmur dan tidak lagi diperpanjang.  

Perusahaan asal Amerika Serikat itu bukanlah satu-satunya perusahaan multinasional yang tinggalkan Indonesia. Sebelumnya, PT Nissan Motor Indonesia juga mengonfirmasi pemutusan hubungan kerja (PHK) 12.500 karyawannya secara global.

Indonesia pun terdampak dengan penutupan satu pabrik dengan PHK 830 karyawan. Pada 2015 dan 2016, Indonesia juga kehilangan beberapa investasi perusahaan multinasional.

Ford, perusahaan otomotif itu menutup 44 dealer­-nya dan berdampak pada 35 karyawannya. Panasonic dan Toshiba, perusahaan elektronik asal Jepang juga menutup pabrik-pabriknya di Indonesia.

Sehingga PHK pun mencapai ratusan karyawan. Perusahaan otomotif lain, General Motors pada 2015 juga menutup satu pabriknya dan memangkas 500 karyawannya. Hengkangnya beberapa perusahaan multinasional dari Indonesia disebabkan beberapa faktor.

Faktor Raksasa Dunia Hengkang Dari Indonesia

Korporasi Dunia yang Hengkang Dari Indonesia (MoneySmart.id/ Indri Solihin)
Korporasi Dunia yang Hengkang Dari Indonesia (MoneySmart.id/ Indri Solihin) Source: Katadata.co.id

Ketidakstabilan politik dalam negeri maupun global yang berakhir pada krisis global. Biaya produksi meningkat dan kalah persaingan, sehingga perlu dilakukan efisiensi faslitas produksi dan karyawan. Selain itu, kontrak kerja komersial yang berakhir pun juga membuat mereka melepaskan Indonesia. 

Melihat fakta tersebut, Presiden Jokowi sempat menyampaikan kekesalannya dalam rapat terbatas pada Rabu (4/8). Ia membandingkan Indonesia dengan Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia yang kalah saing dalam menarik banyak investor.

Presiden Jokowi mengatakan ada 33 perusahaan keluar dari China. Namun, Indonesia gak menjadi tujuan pemindahan bisnis mereka. Justru 23 perusahaan dipindahkan ke Vietnam. Menurut Presiden, kegagalan ini terjadi karena adanya persoalan di dalam Indonesia yang perlu diselesaikan.

Kecenderungan para investor memilih Vietnam ketimbang Indonesia tentu mengundang banyak pertanyaan. Apa sebabnya para investor setelah keluar dari China memilih memulai bisnis di Vietnam daripada Indonesia?

Dalam rilis laporan Ease of Doing Business dari Bank Dunia, sebanyak 190 negara telah mendapat penilaian terkait kemudahan berbisnis.

Penilaian ini menggunakan beberapa indikator, yaitu memulai sebuah bisnis, perizinan konstruksi, akses listrik, mendaftarkan properti, mendapatkan kredit, perlindungan terhadap investor minoritas, pembayaran pajak, perdagangan lintas batas, penegakan kontrak, hingga mengatasi kebangkrutan.

 

Ayyi Hidayah
Ayyi Hidayah

Pecinta film yang senang berinvestasi. Menulis merupakan passion, menjadi perencana investasi merupakan panggilan hati