Ini Kata Alumni ITB Soal Serbuan Produk Asing ke Indonesia

2 menit
Produk Asing Serbu Indonesia (Shutterstock)

Serbuan produk asing yang mendominasi pasar Indonesia terus menjadi perhatian banyak pihak. Dengan jumlah populasi penduduk yang tinggi, berbagai produsen global berebut pasar Indonesia. Mulai dari produk elektronik, otomotif, hingga kebutuhan rumah tangga pun menemani aktivitas masyarakat Indonesia.

Direktur Re-Industrialisasi Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB), Achmad Rizal mengatakan, banyak kapitalis asing yang senang melihat Indonesia diserbu produk asing.

“Lihat saja setiap launching produk handphone terbaru, masyarakat mengantre untuk mendapatkan produk tersebut,” ujar Achmad di Jakarta Convention Center.

Menurutnya, hal itu terjadi akibat masih minimnya penguasaan teknologi di Indonesia, terlebih pemerintah masih mengganggap hal ini sebelah mata.

Ia menyoroti lemahnya penguasaan teknologi di Indonesia. Dalam konteks ini, Rizal merasa pemerintah tidak memberikan perlakuan yang pantas untuk pengembangan teknologi. 

“Dalam setiap periode pemerintahan, penguasaan teknologi selalu dipandang sebelah mata,” ujarnya.

Dirinya berpandangan, peran-bersama pemerintah, industri, dan institusi pendidikan (perguruan tinggi) saatnya lebih serius dikembangkan. 

Selama ini ketiga sektor tersebut seolah berjalan sendiri-sendiri. Riset-riset perguruan tinggi dan lembaga riset pemerintah jarang dipakai untuk industri dan hanya menumpuk di perpustakaan. Inovasi teknologi industri pun sangat minim, akibatnya sulit bersaing dengan produk luar.

“Pemerintah harus membuat kebijakan yang dapat melindungi tumbuhnya industri dalam negeri memasuki era perdagangan bebas. Kalau dilepas begitu saja, jelas industri kita akan kalah bersaing dengan produk-produk luar,” paparnya.

Potensi Besar, Minim Pengusaan

Sementara itu, Ridwan Djamaluddin, Ketua Umum Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) mengatakan, Indonesia memiliki segala potensi dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk menjadi negara yang menguasai teknologi.

“Saya ingin mengajak semua kalangan berpikir serius, sejenak saja. 

Bangsa ini punya banyak potensi: sumberdaya alam berlimpah, sumberdaya manusia juga sangat mumpuni. Sekarang saatnya kita melangkah, memanfaatkan teknologi untuk kepentingan-kepentingan bisnis dan komersial, dan tidak lagi ‘malu-malu’ untuk mengomersialkan teknologi,” tegasnya.

Menurut Ridwan, sekaranglah saatnya Indonesia memberdayakan teknologi untuk menjadikan semua aset berdaya secara masif. Semua kalangan bisa dan harus memanfaatkan teknologi. 

Jika tidak, ratusan juta jiwa penduduk Indonesia akan terus jadi penonton yang menyaksikan semua potensi dan kekayaannya dimanfaatkan dan dipanen oleh asing. 

“Ini tidak main-main. Sekarang saatnya untuk mulai dan bangkit secara lebih serius. Ini bukan jargon-jargon kosong yang hanya pantas untuk diteriakkan. Kita harus berbuat. Karya di atas kata-kata,” kata Ridwan Djamaluddin.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.