Prosedur Menjadi Eksportir Batik dan Cara Meraih Untung

3 menit
menjadi eksportir batik

Kalau jadi pengusaha, jangan sampai nanggung dalam menentukan tujuan. Kalau pasar lokal sudah ditembus, masuk ke nasional. Setelah nasional, ekspor ke luar negeri.

Bahkan kalau planet Mars ada penghuninya, buka pasar sampai ke sana kalau bisa. Punya mimpi melebarkan sayap usaha selebar-lebarnya boleh saja dong.

Bicara soal membuka usaha hingga pasar ekspor, tampaknya orang Indonesia masih malu-malu kucing. Menurut data Kementerian Perdagangan, volume ekspor Indonesia mengalami perlambatan.

Tapi, meski melambat, komoditas ekspor berupa tekstil mengalami kemajuan. Bahkan nilai ekspor batik, yang merupakan produk tekstil, tembus Rp 41 triliun selama 2015.

menjadi eksportir batik
Di Solo ada Batik Carnival tiap tahun, siapa tahu dapat buyer di sini, atau mungkin malah dapat jodoh (Festival batik/CRI)

Artinya, batik Indonesia diterima dengan baik oleh pasar luar negeri. Itu gak mengherankan, karena batik adalah produk khas Indonesia.

Jadi, peluang sukses menjadi pengusaha batik ekspor terbuka lebar. Namun menjalankan bisnis ekspor gak semudah bikin minuman kopi sachet.

Ada prosedur ekspor yang mesti dituruti, sementara target meraih untung kudu dijaga. Bisa dibilang butuh usaha ekstra untuk bisa menjadi eksportir batik.

Prosedurnya memang lebih rumit ketimbang buka kios 4 x 6 meter di pasar. Sederet istilah ekspor mutlak dipahami agar bisnis lancar, berikut ini di antaranya:

1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

Dokumen berisi informasi seputar barang yang diekspor dan eksportirnya, seperti:

– Identitas eksportir, termasuk NPWP

– Jenis dan berat barang

– Izin khusus ekspor barang

– Negara tujuan

– Asal barang

– Cara penyerahan barang

2. Commercial Invoice

Nota rincian barang ekspor, termasuk nama dan harga barang. Nota ini wajib ditandatangani pihak eksportir.

3. Bill of Lading (B/L)

Dokumen pengapalan yang menerangkan bahwa barang yang tertera sudah dimuat di kapal.

4. Packing List

Dokumen yang berisi keterangan pengepakan barang. Dokumen ini akan diperiksa Bea-Cukai. .

5. Surat Keterangan Asal

Surat yang menerangkan bahwa barang ekspor tersebut betul-betul buatan Indonesia.

Setelah memahami istilah-istilah ekspor, barulah kita bisa beranjak ke tahap berikutnya, yakni prosedur ekspor itu sendiri. Yang paling utama adalah kita menemukan pembeli dulu.

Kalau gak, mau ekspor ke mana? Pembeli alias buyer bisa didapatkan ketika ada event pameran terkait, sama kayak pameran travel atau properti.

menjadi eksportir batik
Artis beken luar negeri aja pakai batik. Coba deh di-mention Twitter-nya, siapa tahu mau jadi buyer (artis Hollywood pakai batik/Viva)

Pameran komoditas adalah ajang pertemuan eksportir dan importir. Selain itu, bisa juga menawarkan barang via Internet. Setelah ada buyer, kita langsung menyiapkan tahap ekspor:

1. Datang ke penyedia jasa kargo pelayaran dengan menyertakan NPE, invoice, dan packing list.

2. Kapal akan menerbitkan delivery order yang memuat info tentang kontainer pengangkut barang dan nama kapal.

3. Membawa dokumen PEB ke kantor Bea-Cukai setempat untuk mengurus izin ekspor.

4. Jika Bea-Cukai meloloskan, kita akan diberi Nota Persetujuan Ekspor (NPE). Nota ini menjadi bukti bahwa barang kita sudah bisa dieskpor.

5. Kembali ke kapal dengan membawa NPE untuk memberangkatkan barang ekspor.

menjadi eksportir batik
Jangan main-main di Bea-Cukai, bisa ditembak nanti dijadikan pacar, eh, maksudnya tersangka kejahatan (Patroli Customs/Satuproxima)

Informasi perihal prosedur ekspor bisa didapatkan langsung di Indonesia National Single Window. Nah, agar ekspor bisa mendatangkan keuntungan maksimal, diperlukan sejumlah strategi, antara lain:

1. Menemukan buyer yang tepat. Buyer harus punya alamat usaha dan identitas yang jelas. Setidaknya alamat itu ada di Google dan punya data yang bisa diakses di Internet, misalnya situs resmi. Ini berguna buat menghindari penipuan.

2. Mengetahui harga pasaran ekspor. Gunanya, menetapkan harga barang tidak terlalu mahal atau murah. Kalau terlalu mahal, susah cari buyer. Kalau harga murah, untung gak bisa maksimal.

3. Konsisten jaga kualitas. Sekali berhasil ekspor, barang mesti terus dijaga kualitasnya agar buyer gak kecewa dan jadi langganan.

4. Patuhi aturan ekspor. Jangan sampai melanggar aturan yang akhirnya bisa merugikan diri sendiri. Misalnya nyogok petugas Bea-Cukai agar dilancarkan. Bila ketahuan, usaha malah terancam dan kita bisa masuk penjara.

Itulah sekelumit informasi mengenai prosedur menjadi eksportir batik sekaligus cara meraih keuntungan maksimal. Batik telah menjadi warisan budaya Indonesia.

Salah satu cara melestarikannya adalah memasarkannya hingga ke luar negeri agar dunia tahu bahwa ini lho batik Indonesia. Selain berkontribusi terhadap kekayaan budaya, kita sekaligus bisa meraih sukses dari menjalankan usaha ekspor batik.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Ini Alasan Kenapa Susah Jadi Pengusaha Muda di Indonesia]

[Baca: Kisah Inspiratif 5 Pengusaha Muda Usia 20 Tahun yang Bisa Kamu Tiru]

[Baca: Sering Impor Barang dan Bete Kena Pungutan Liar? Ketahui Dulu Rumus Perhitungan Pajak Impor]

 

 

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.