Ini Kenapa Transaksi Pakai QR Code Kini Makin Digemari

2 menit
Ilustrasi Pembayaran Pakai QR Code (Shutterstock)
Ilustrasi Pembayaran Pakai QR Code (Shutterstock)

Transaksi non tunai menggunakan sistem pembayaran berbasis QR Code (quick response code) terus berkembang dengan pesat. Terlebih berbagai penyedia layanan dompet digital atau e-wallet juga memiliki sarana pembayaran non tunai dengan QR Code.

Tak tinggal diam, Bank Indonesia (BI) menyatakan telah menyusun aturan berupa standarisasi QR Code Indonesia Standard.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta mengatakan, upaya ini dilakukan bank sentral guna memberikan keamanan. Tentunya bagi masyarakat dalam bertransaksi melalui QR Code dan juga agar lebih efisien.

“Jadi kita berusaha untuk mendukung, berkontribusi dan mensupport dengan berinovasi. Mendorong bagaimana sistem pembayaran ini dapat dilakukan secara efisien, murah, cepat aman, itu yang ingin  kita lakukan,” ujarnya di Jakarta.

Tak Ingin Terlambat

Selain itu, Bank Indonesia mengakui, pihaknya tak ingin terlambat dalam membuat aturan standarisasi QR Code. Sebab ada beberapa negara yang terlambat menyusun aturan ini dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.

“Di berbagai negara mulai terjadi scamming. BI melihat sebelum kita terlambat seperti negara lain nanti malah susah, sebelum banyak, kita lakukan standarisasi. Di China kerugian akibat scamming sampai US$ 13 juta,” jelasnya.

Tak hanya itu, potensi sistem pembayaran QR Code akan semakin masif digunakan masyarakat dan juga dapat mendorong sektor pariwisata dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Trend emerging market, kita lihat China, Thailand sudah menerapkan. QR Code di Thailand itu pedagang kaki lima sudah QR Code. Kita lihat ini perlu dan bisa meningkatkan pariwisata, lihat turis-turis, mereka banyak menggunakan QR Code,” ungkapnya.

Aturan ini ditargetkan bisa diterapkan pada sementer II pada tahun 2019 ini.

Efisiensi dan Gerakan Non Tunai

Sementara itu, adanya sistem pembayaran menggunakan kode juga akan mendukung gerakan non tunai yang tengah digencarkan oleh pemerintah.

“Dengan adanya latar belakang ini, maka kita melihat perlu ada solusi bagaimana cara kita mendorong cashless society, maka-nya ada QR Code,” kata Filianingsih.

Kemudian, untuk saat ini proses transaksi non tunai pada merchant atau toko masih bersifat close loop. Hal ini menyebabkan toko memiliki berbagai QR Code dari penyedia layanan dan tidak efisien.

“Kalau tidak diatur dengan QRIS, nanti di toko itu berjejer ada QR dari OVO, GoPay, Dana, punya satu-satu dan itu tidak efisien,” jelasnya.

Diharapkan dengan aturan QRIS akan memberikan kemudahan bagi penyedia layanan, toko, maupun konsumen, serta merchant memiliki QR Code sebagai identitas mereka.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.