Risiko Berinvestasi itu Beragam Lho Macamnya, Kamu Cocok yang Mana?

3 menit
Risiko Berinvestasi itu Beragam Lho Macamnya, Kamu Cocok yang Mana?, (Ilustrasi/Shutterstock).

Ada beragam risiko investasi yang bakal kita alami jika memutuskan terjun ke salah satu instrumen investasi. Masing-masing dari investasi yang kita tentukan memiliki toleransi risiko berbeda-beda. 

Dari asal katanya, “risiko” bisa diartikan sebagai sebuah peristiwa yang gak sesuai dengan harapan. Lantas kalau ini ada di dunia investasi, tentu hal tersebut bisa dibilang sebagai sebuah kondisi yang mungkin sama sekali gak diharapkan sama sekali.

Sebut aja seperti adanya perubahan suku bunga, volatilitas pasar, inflasi, atau risiko lainnya yang menyebabkan pengurangan imbal hasil investasi kita.

Kamu mungkin sering mendengar istilah “high risk high return” (red: jika risiko investasi besar, maka imbal hasil alias returnnya juga besar). Tapi yang jadi pertanyaan sekarang adalah, gimana sih cara mengukur toleransi risiko investasi kita terima?Apakah investasi dengan imbal hasil besar memang cocok buat mental kita terutama bagi kamu yang milenial?

Mengetahui rentang toleransi risiko tentu bisa membantumu dalam memaksimalkan investasi lho. Karena belum tentu investasi tinggi risiko itu pasti cocok dengan psikologis seorang investor.

Kira-kira, indikator apa saja sih yang bisa digunakan buat menentukan profil risiko kita? Gimana kalau kita bahas lebih lanjut saja di bawah sini.

Baca juga: Ini Jenis Investasi Buat Milenial yang Baru Memasuki Dunia Kerja

1. Risiko investasi bisa kamu ukur dari adanya tujuan

risiko investasi
Pikirkan tujuan sebelum menentukan berinvestasi, (Ilustrasi/Pixabay).

Ini merupakan cara yang paling mendasar dan tentunya harus ditentukan terlebih dulu sebelum memulai investasi. Hal ini perlu dilakukan saat kamu udah mengetahui risiko investasinya. 

Tanyakan saja pada diri sendiri, investasimu itu buat apa? Demi dana pensiun? Atau buat pendidikan anak, atau malah buat traveling ke luar negeri?

Ketika tujuannya adalah digunakan buat dana pensiun, sah-sah aja memilih yang tinggi risiko. Karena tujuan investasi ini adalah untuk jangka panjang.

Kita mungkin bisa melihat kebelakang bahwa dunia emang udah dilanda peristiwa krisis ekonomi yang memporak-porandakan bursa saham. Peristiwa ini mungkin aja terjadi lho, tapi coba perhatikan sejak tahun 1982 silam hingga kini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selalu naik! Dari yang awalnya cuma 100, kini berada di level 6.200-an. Kebayang dong setajir apa orang yang udah memiliki saham dari tahun 1990-an.

Tapi sebaliknya jika kita tujuan investasinya adalah jangka pendek atau menengah, maka carilah instrumen yang minim risiko. Tujuannya adalah agar dana kita tetap aman, gak berkurang di saat kita butuhkan.  

Baca juga: Deposit Mulai Rp 100 Ribu, Ini Daftar Perusahaan Sekuritas yang Terdaftar di OJK

2. Dana darurat

risiko investasi
Dana darurat juga mesti kamu pikirkan sebelum terjun ke investasi, (Ilustrasi/Pixabay).

Seseorang dengan saldo tabungan sebesar ratusan juta rupiah, mungkin gak memiliki utang, mungkin cocok dengan investasi yang tinggi risiko, mengapa demikian? Karena bisa jadi dia memiliki dana darurat dengan jumlah yang ideal.

Alokasi dana investasi yang ideal sejatinya berkisar antara 10 hingga 20 persen per bulan. Sekarang tinggal dilihat aja, 20 persen dari total penghasilan perbulanmu berapa? 

Jangan sampai kamu menggunakan seluruh danamu, termasuk dana darurat buat keperluan investasi dengan harapan mengejar keuntungan yang besar, itu bahaya lho.

Baca juga: Mau Sukses Investasi Seperti Jennifer Lopez? Perhatikan 3 Hal Penting Ini

3. Usia

risiko investasi
Usia juga menjadi faktor risiko berinvestasi, (Ilustrasi/Pixabay).

“Age is just a numbers” kalimat tersebut mungkin sering diucapkan bagi seseorang yang sukses atau jadi miliuner di usia tua. Intinya, kesuksesan emang gak mengenal usia. 

Kapanpun seseorang bisa memulai bisnis atau sesuatu yang membuatnya menjadi orang yang sukses dan kaya. Namun dalam hal menyikapi toleransi risiko investasi, usia jelas menentukan banget lho.

Saat usia muda, bekerja keras dan mencari pekerjaan sampingan demi menebalkan dompet mungkin bukan halangan. Oleh karena itu, jika sewaktu-waktu investasi kita gagal, kamu masih bisa mencari sumber penghasilan lain buat menutupi kerugian tersebut.

Tapi apa kabarnya jika usia kita udah beranjak tua dan gak produktif lagi? Apakah investasi yang sifatnya high risk high returns ini masih cocok? 

Itulah tiga hal yang bisa dijadikan indikator untuk menentukan profil risiko investasi kita. Setelah ini semua terjawab maka kamu bisa mengenali profil risikomu, apakah konservatif, moderat, atau agresif. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).

Aulia Akbar
Aulia Akbar

Sebagai mantan jurnalis dan praktisi humas, saya memutuskan untuk menekuni beladiri paling ekstrim di dunia. Di kesempatan yang sama, izinkanlah saya untuk berbagi tips keuangan dan cerita inspiratif buat Anda.