Sebelum Beli Bitcoin, Ketahui Dulu Soal Cryptocurrency di Indonesia

“I Win!!! Dulu lihat orang dapat earning di internet US$ 2.000 udah bilang wow. Sekarang bisa US$ 20.000-an ternyata biasa aja. Masih banyak yang jauh lebih besar dapetnya di luaran sana. Hihihi.”

Demikian ujar Winda Rahmawati, trader pemula Bitcoin dalam sebuah postingan di Instagramnya pada 25 Desember 2017 lalu. Winda adalah salah satu contoh dari sekian banyak pelaku cryptocurrency yang mujur mendapatkan duit karena beli Bitcoin.

Ya memang, hampir sebagian orang di penjuru dunia ini lagi getol-getolnya ngomongin cryptocurrency. “Makhluk” anyar yang lahir tahun 2000-an ini bikin banyak orang mendadak kaya. Tapi ada juga yang tiba-tiba jadi apes lho.

Jadi sebelum nafsu ikut-ikutan beli Bitcoin, lebih baik pahami dulu soal apa itu cryptocurrency dan bagaimana cara kerjanya.

Emangnya apa sih yang disebut cryptocurrency itu?

Beli bitcoin
Cryptocurrency udah mulai mengekspansi seluruh dunia lho (depositphotos)

Cryptocurrency adalah mata uang digital yang dibuat menggunakan konsep kriptografi. Konsep ini sempat populer saat Perang Dunia II, terutama di Jerman yang saat itu menggunakan konsep ini buat kode-kode rahasia melawan musuh.

Kriptografi dikembangkan buat kegiatan pertukaran informasi dan keuangan secara online. Dengan demikian, cryptocurrency menjadi mata uang yang gak bisa dipalsukan karena kode keamanannya cukup canggih.

Cryptocurrency ini merupakan dua kata gabungan dari cryptography yang berarti kode rahasia dan currency yang berarti mata uang.

Kehadiran cryptocurrency kini mulai merambah hingga ke seluruh dunia, termasuk juga di Indonesia. Saat ini sudah ada sekitar 500-an jenis cryptocurrency yang beredar. Kehadiran mata uang digital ini perlahan disambut oleh para pemburu cuan.

Nah, salah satu jenis cryptocurrency yang paling banyak dikenal dan diminati saat ini adalah Bitcoin. Mata uang ini dikembangkan oleh orang Jepang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto pada 2009. Sekarang, nilai kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai sekitar Rp 3.357 triliun (per 4 Januari 2018).

Selain Bitcoin, cryptocurrency lain yang udah banyak diminati juga antara lain Ripple dengan kapitalisasi pasar Rp 1.879 triliun, Ethereum Rp 1.248 triliun, Cardano Rp 429 triliun, dan banyak lagi.

Nama-nama di atas sering disebut sebagai Altcoin atau sebutan cryptocurrency selain Bitcoin. Ini jumlahnya makin banyak di seluruh dunia lho, termasuk di Indonesia. Jadi selain beli Bitcoin, kamu juga sebenarnya punya pilihan untuk beli cryptocurrency lainnya.

Tapi yang harus diketahui, mata uang digital dengan mata uang konvensional tentu berbeda.

Jika mata uang konvensional diatur oleh bank sentral, maka mata uang digital sifatnya tersebar. Gak ada orang atau siapapun yang mengontrolnya. Naik turunnya nilai mata uang hanya bergantung dari supply dan demand. Inilah yang membuat risiko investasi cryptocurrency tergolong tinggi.

[Baca: 5 Situs Investasi P2P Lending Indonesia buat Para Investor Zaman Now]

Cara kerja investasi cryptocurrency ini gimana?

beli bitcoin
Main cryptocurrency bisa jadi penambang bisa juga jadi trader (depositphots)

Kehadiran cryptocurrency di dunia ini gak bisa lepas dari sistem yang namanya blockchain. Sistem ini bekerja secara terdesentralisasi atau tak terpusat, valid, dan jauh dari kesalahan, agar pengguna dapat melakukan transaksi dengan aman.

Mengutip Kumparan.com, blockchain bisa diibaratkan seperti buku besar yang mencatat setiap aktivitas transaksi dalam sebuah sistem. Skema tersebut dinilai jauh lebih aman, mudah, dan praktis daripada sistem perbankan umum.

Jika sistem perbankan bisa diretas oleh orang-orang yang gak bertanggung jawab, maka sistem blockchain gak bisa. Karena untuk meretasnya, seseorang harus melumpuhkan sistem semua pengguna blockchain tersebut.

Nah, ada dua cara kalau kamu mau dapat cryptocurrency. Kamu bisa menambang atau juga dengan membeli secara tunai. Konsepnya hampir mirip-mirip dengan investasi emas.

Kalau mau jadi penambang, kamu butuh peralatan komputer canggih dengan spek dan kecepatan tinggi. Layaknya penambang emas, dibutuhkan peralatan yang benar-benar mendukung agar galiannya lebih cepat, sehingga emas bisa gampang didapat.

Sementara untuk lebih mudah mendapatkan cryptocurrency, kamu bisa beli dan jual di pasar khusus yang disediakan setiap perusahaan cryptocurrency. Selain itu, cryptocurrency juga bisa dibeli antar orang dengan transaksi pertukaran.

Untuk lebih mudah mengenal cara kerja cryptocurrency, mari kita simulasikan terlebih dahulu.

Heru, seorang karyawan di Jakarta sangat tertarik untuk bermain di cryptocurrency. Mulanya dia beli Bitcoin satu unit seharga Rp 50 juta.

Dalam setahun, harga pasaran per satu Bitcoin mencapai Rp 150 juta. Heru pun menjualnya dan secara otomatis dia memperoleh untung Rp 100 juta.

Skemanya sebetulnya gak jauh berbeda dari saham. Beli saat harga murah dan jual saat harga tinggi. Atau beli jika terlihat peluang naik, dan jual saat terlihat peluangnya menurun.

Risiko investasi di cryptocurrency

beli bitcoin
Gak ada investasi yang gak berisiko lho (suncorp)

Setiap investasi pasti ada risikonya, termasuk berinvestasi di mata uang digital ini. Terlepas kamu mau beli Bitcoin, Ripple, Litecoin, Paycoin, Dogecoin, Darkcoin dan lainnya, pasti mengandung risiko.

Pengamat Keuangan Reza Priyambada mengatakan investasi di mata uang digital atau cryptocurrency ini berpotensi merugikan investor. Makanya, investor diimbau untuk hati-hati jika ingin berinvestasi di jenis mata uang baru ini.

“Terutama dari depresiasi nilai maupun pihak lawan transaksi. Jika tidak diketahui kredibilitasnya, maka berpotensi merugikan transaksi crypto yang sudah dilakukan,” ujarnya kepada DuitPintar.

Reza memaparkan cryptocurrency digunakan oleh pihak-pihak tertentu secara rahasia, tanpa ada peraturan yang menyertainya. Transaksi mata uang ini dilakukan secara digital, bukan secara fisik, dan belum memiliki regulasi.

Itulah mengapa investasi di mata uang digital ini dinilai berisiko. Hingga saat ini, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) juga masih belum mengakui dan bahkan melarang penggunaannya di pasar. Legalitas inilah yang menjadi risiko utama berinvestasi di mata uang digital.

Sementara itu, Perencana Keuangan Irshad Wicaksono mengajak masyarakat untuk memilih instrumen investasi lain selain mata uang digital. Dia menilai fluktuasi nilai uang digital ini tidak stabil, karena kenaikan nilainya yang begitu cepat.

“Kalau menurut saya sendiri, investasi di cryptocurrency kurang disarankan. Mungkin fenomena seperti Bitcoin ini bisa jadi hanya tren semata seperti dulu pernah rame bunga Anthurium, batu akik, dan lainnya. Lama-lama mungkin akan hilang dengan sendirinya,” kata dia kepada DuitPintar.

[Baca: Jangan Salah, Ini Bedanya Menabung dan Investasi]

Prospek dan keuntungan cryptocurrency

beli bitcoin
Dulu harga Bitcoin puluhan ribu, sekarang puluhan juta, wow (Bitcoinist)

Bagi para pelaku, prospek cryptocurrency diharapkan bisa terus berkembang dan membesar.

Seperti dikatakan kepada Kontan pada Oktober 2017, CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan mengatakan prospek harga bitcoin masih bagus dan bisa kembali mencetak rekor. Karena, kata dia, masih banyak orang yang belum mengenal uang virtual ini.

“Masih sangat luas potensinya untuk menembus rekor berikutnya. Saya rasa kenaikan harga saat ini juga masih sangat wajar,” ujar Oscar.

Sementara itu, kepada CNN Indonesia pada September 2017, Oscar mengatakan kehadiran cryptocurrency merupakan pencapaian teknologi yang luar biasa. Bahkan pendiri Microsoft, Bill Gates juga pernah mengatakan hal serupa atas kehadiran cryptocurrency ini.

Menurut Oscar, terdapat beberapa alasan yang menjadikan mata uang digital ini berbeda dengan versi konvensional. Salah satunya adalah Bitcoin dan mata uang digital lainnya atau Altcoin memanfaatkan sistem yang bisa berjalan tanpa bergantung kepada server yang terpusat.

Sebab, seperti dikatakan di atas, seluruh servernya terdesentralisasi dan seluruh transaksinya terverifikasi secara otomatis tanpa campur tangan manusia.

Kondisi cryptocurrency di Indonesia

beli bitcoin
Bitcoin dilarang di Indonesia, investor senyum-senyum aja kayak di gambar ini (cryptolocho)

Keberadaan cryptocurrency sepertinya belum berpihak buat para investor di Indonesia. Karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum merestui kehadiran jenis mata uang digital ini.

OJK menilai perdagangan mata uang digital seperti Bitcoin memiliki risiko tinggi karena bersifat spekulatif. Bahkan beberapa entitas dari perusahaan mata uang digital ini menjanjikan imbal hasil tinggi. Janji-janji seperti itulah yang kerap diwaspadai OJK.

Sementara itu, BI juga mulai tahun ini secara resmi melarang transaksi pembayaran menggunakan Bitcoin yang masuk sebagai salah satu jenis cryptocurrency.

BI juga mengingatkan agar merchant yang sudah bekerja sama tidak menerima Bitcoin sebagai alat transaksi pembayaran di Indonesia. BI menghawatirkan kalau penggunaan Bitcoin ini bakal dimanfaatkan untuk perbuatan yang melawan hukum.

Namun, alih-alih mati dan permintaannya menurun, mata uang digital hingga kini masih tetap diburu para investor. Alasannya, tak lain dan tak bukan adalah karena mata uang digital ini terus memberikan cuan yang menjanjikan.

Oscar meyakini keberadaan Bitcoin sebagai cryptocurrency paling sepuh diprediksi akan semakin berkembang di Indonesia. Didominasi oleh kalangan muda sebagai investor, Oscar mencatat jumlah anggota Bitcoin Indonesia sudah mencapai 600 ribu orang hingga akhir 2017.

Itu artinya, jumlah investor Bitcoin melebihi setengahnya jumlah investor di pasar modal yang sekitar 1 jutaan. Nah, tertarik buat beli Bitcoin?

[Baca: Harga Bitcoin Lagi Tinggi, Gini Cara Nyairinnya Buat Dapat Untung]

MoneySmart
MoneySmart

MoneySmart adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560