Mengenal Bukit Soeharto, Area Tambang yang Kini Jadi Kandidat Ibu Kota

3 menit
Kawasan konservasi di Kalimantan Timur yang akan dijadikan Ibu Kota pengganti Jakarta (Shutterstock).
Kawasan konservasi di Kalimantan Timur yang akan dijadikan Ibu Kota pengganti Jakarta (Shutterstock).

Pada Selasa (7/5) lalu, Presiden Joko Widodo mengunjungi kawasan Bukit Soeharto di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kunjungannya kali ini dalam rangka mencari kandidat daerah potensial sebagai calon Ibu Kota Indonesia.

Seperti yang diketahui, Pemerintahan Jokowi kali ini serius ingin memindahkan pusat pemerintahannya dari Jakarta. Dengan alasan beban Jakarta sudah terlalu berat untuk menanggung beban pemerintahan dan bisnis. Oleh sebabnya Jokowi kini tengah mencari kota-kota terbaik.

Pertimbangnnya adalah daerah yang akan ditempatkan menjadi Ibu Kota nanti jauh dari potensi bencana alam, infrastrukturnya mendukung, sumber dayanya memadai baik alam maupun manusia, serta kondisi sosialnya yang kondusif.

Jokowi pun mengatakan bahwa Kalimantan yang paling pas dengan mempertimbangkan letaknya yang berada di tengah-tengah antara Indonesia Barat dan Timur.

Sejak tahun 2018, yang santer beredar menjadi kandidat terkuat pengganti Jakarta adalah Palangkaraya. Bappenas pun telah melakukan pengkajian geologis di sana. Tapi ternyata, banyak kandidat-kandidat lainnya bermunculan salah satunya Bukit Soeharto.

Baca juga: 6 Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi Saat Liburan ke Luar Negeri di Bulan Ramadan

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto

Bukit Soeharto
Jokowi sedang meninjau area yang akan dijadikan Ibu Kota baru (Instagram).

Mungkin kawasan ini masih banyak yang belum mengetahui, apalagi kamu yang berada di Jakarta. Bukit ini sebenarnya adalah area hutan, yang kemudian dikenal dengan nama Taman Hutan Raya Bukit Soeharto.

Merupakan satu dari 28 Taman Hutan Raya yang terdapat di Indonesia. Kawasan ini masih sangat asri dan sejuk, karena memang di sekelilingnya masih banyak pohon-pohon tinggi yang masuk ke dalam kategori hutan lindung.

Dilansir dari CNBC, pada tahun 1982, Presiden Soeharto menetapkan kawasan ini sebagai hutan lindung dengan luas 27.000 hektare. Tapi kemudian pada tahun 2004, kawasan ini berubah menjadi Taman Hutan Raya seluas 61.850 hektare.

Areal tambang batu bara

Bukit Soeharto
Merupakan area batu bara (Shutterstock).

Dilansir dari CNBC, sebelum menjadi Kawasan Hutan Lindung, maupun Taman Hutan Raya, kawasan ini sudah dikenal sebagai lokasi tambang batu bara. Produsen batu baranya pun sangat melimpah sehingga pernah berjaya pada masanya.

Tapi kini, penambangan batu bara di sana sudah mulai berkurang. Namun masih ada saja yang proses penambangan ilegal masih sering terjadi. Dikutip dari Tribunnews, pada tahun 2018 yang lalu pernah ada kasus penemuan ratusan karung berisi batu bara tergeletak begitu saja. Sebanyak tiga orang telah ditangkap dan dijadikan tersangka.

Namanya bekas tambang, tentu akan meninggalkan lubang-lubang besar yang berbahaya, selain itu, tanah bekas tambang lebih mudah terbakar ketika musim kemarau tiba. Mengatasi permasalahan itu, Presiden Soeharto pada tahun 1990-an menginstruksikan untuk diberlakukan reboisasi, atau penanaman hutan kembali.

Baca juga: Visit the Heart of Borneo Menjadi Momentum Kebangkitan Pariwisata Kalimantan

Tempat konservasi flora fauna

Bukit Soeharto
Merupakan area konservasi

Gak cuma bekas tambang, kawasan ini juga merupakan area konservasi beragam flora dan fauna. Sebagai salah satu hutan tropis basah yang menjadi daerah resapan air di Kalimantan Timur. Keberadaan taman ini sangat berguna untuk menyelamatkan flora dan fauna asli sana.

Dulu Soeharto menjadikan tempat ini sebagai rumah dari fauna orangutan, burung enggang, kera ekor panjang dan masih banyak lagi. Serta menjadi tempat perlindungan tanaman akasia, mahoni, sengon, meranti, karet, rotan, dan ketapang.

Saking beragamnya, Bukit Soeharto dijadikan sebagai kawasan penelitian hingga rekreasi. Wah kebayangkan gimana indahnya bukit ini? Tapi, seandainya Ibu Kota pindah ke Taman Hutan Raya ini, apakah pohon-pohon dan faunanya gak kegusur?  (Editor: Winda Destiana Putri).

Okky Budi
Okky Budi

Penggemar Tsubasa yang jadi sarjana sosial. Kini secara sengaja masuk ke dunia finansial. Semoga bisa memberikan tulisan yang bermanfaat buat pembaca.