Ssstt, Ini Kunci Sukses di Usia Muda yang Bisa Diteladani dari Jepang

3 menit
sukses di usia muda

Jepang termasuk salah satu negara di Asia yang paling menonjol dalam hal kesejahteraan masyarakatnya. Menurut JapanTimes, dari data 2016, warga yang umurnya 65 tahun ke atas banyak yang hidup sejahtera.

Padahal, kalau ditilik sejarahnya, Jepang porak-poranda saat Perang Dunia II berakhir. Dua kota besarnya, Nagasaki dan Hiroshima, hancur-lebur dihajar bom atom dari Amerika Serikat.

Ekonomi pun morat-marit. Banyak warga yang hidup di bawah standar. Apa-apa mahal.

Tapi gak butuh waktu lama buat Negeri Sakura untuk kembali berbunga. Kuncinya adalah kedisplinan. Nobuko Uchida dari Universitas Tsukuba punya penjelasan bagaimana budaya disiplin itu bisa mengakar dalam keluarga Jepang.

Makanya, banyak warga setempat yang kini muda tapi udah sukses. Sehingga ketika tua bisa menikmati kesuksesan itu. Bukan hidup terlunta-lunta saat udah pensiun.

Sayangnya, budaya ini kayaknya belum tertanam di kalangan masyarakat Indonesia. Lihat saja itu orang-orang di jalan raya. Gak di kota gak di desa, kalau gak ada polisi enjoy aja naik sepeda motor gak pakai helm. Lampu merah dilanggar.

sukses di usia muda
Gimana mau sukses kalau lampu merah masih aja dilanggar (Lampu Lalu Lintas / Bacaini)

Giliran ketahuan polisi yang kebetulan lewat, kena tilang, mewek. Ujung-ujungnya ngasih duit suap biar gak repot-repot ngurus SIM dan STNK di pengadilan. Ini yang mesti diperbaiki.

Susah sih, karena sistemnya dari dulu kayak gitu. Kedisplinan masih dipandang remeh di dalam negeri. Tapi bukan berarti kita gak bisa mengasah kedisplinan ketika sudah gak lagi kanak-kanak.

Kalau mau sukses di usia muda, inilah saatnya untuk meniru budaya Jepang itu. Bagaimana caranya, berikut ini kita lihat bersama.

1. Terus belajar

Gak ada kata berhenti untuk belajar, bahkan meski sudah lulus kuliah. Dunia ini terlalu luas untuk dipelajari sampai bangku kuliah doang. Dengan mau belajar, artinya kita membuka ruang untuk berdisiplin.

Misalnya rutin baca buku. Otomatis kita mesti disiplin meluangkan waktu untuk menyelesaikan buku yang kita baca. Misalnya jam 7-9 malam khusus buat baca buku. Atau 1 jam sebelum tidur baca buku.

2. Pantang menyerah

Orang yang disiplin gak bakal mudah menyerah. Contohnya harus masuk kerja atau kuliah pagi, ya jangan sampai menyerah pada rasa kantuk sehingga molor. Walau malamnya banyak aktivitas, esok pagi mesti udah siap beraktivitas lagi.

sukses di usia muda
Bangun pagi dong supaya rezeki gak dipatuk ayam (Bangun Pagi / Zonabugar)

3. Tahu batas

Berkaitan dengan poin nomor 2, kita juga mesti tahu batas untuk mengejar kedisplinan diri. Rencana yang udah ditetapkan jangan sampai terganggu akibat kita melanggar batas.

Misalnya contoh kasus di poin kedua di atas. Pada saat itulah diperlukan kebijakan demi kedisplinan. Kalau tahu besok ada kewajiban pagi-pagi, batasi kegiatan malam harinya. Jangan sampai lupa diri, sehingga repot sendiri.

4. Tidak meremehkan

Berkaca pada kasus suap polisi di atas, kita seperti meremehkan hukum. Mungkin terdengar sepele, bayar Rp 50 ribu bebas tilang. Tapi dampaknya itu lho.

Kalau praktik ini jadi hal lumrah, bukan budaya disiplin yang mengakar, melainkan budaya korupsi. Tanamkan sikap taat hukum pada diri sendiri. Jika gak ada polisi tapi lampu merah, ya berhenti. Orang lain mau melanggar, biarkan saja. Tegur kalau perlu.

5. Berani ambil risiko

Risiko ada untuk diambil, bukan dihindari. Sebab, ada potensi keuntungan besar di balik risiko yang besar. Seperti investasi, kalau imbal hasil gede pasti risiko gede juga. Demikian juga sebaliknya.

Misalnya dalam rapat kerjaan, kita bisa melontarkan ide apa pun itu. Jangan malah ditahan karena gak pede. Risiko ditolak, ya gak apa-apa. Paling gak kita udah menunjukkan sikap dan niat bahwa kita serius dalam karier.

sukses di usia muda
Berani saja mengutarakan pendapat kapan pun ada kesempatan (Rapat Karyawan / Ayobuka )

Sekarang sudah saatnya bagi kita untuk meniru budaya Jepang tentang kedisiplinan. Bukan hanya makanan atau gaya rambutnya.

Apalagi jika pernah punya pengalaman buruk dalam usaha atau karier. Kebangkitan Jepang dari negara kalah perang menjadi adidaya seperti sekarang bisa dijadikan motivasi. Jepang saja bisa, kita juga bisa dong.

Terlebih usia masih 20-an. Jalan masih panjang. Jangan takut melangkah. Kalau jatuh, masih banyak waktu untuk bangun dan melompat lebih jauh.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Ternyata Banyak Orang Berpikir Tentang 5 Hal Tersulit Ini Saat Pensiun Nanti]

[Baca: Investasi Emas Gak Ada Matinya, Pilih Emas Perhiasan atau Batangan? Simak Ini Dulu]

[Baca: Gagal Berbisnis Jangan Menyerah, Coba Tips Bangkit dari Kegagalan Usaha Ini]

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.