Bukan Lagi Perusahaan Minyak dan Tambang, Kini Startup Digital Mulai Kuasai Dunia

2 menit
Startup Digital Semakin Kuasai Dunia dalam Lima Tahun Terakhir (Shutterstock).
Startup Digital Semakin Kuasai Dunia dalam Lima Tahun Terakhir (Shutterstock).

Perkembangan teknologi digital saat ini terus menjadi arus perubahan dalam segala sektor. Mulai dari sektor bisnis, saat ini startup digital tengah menjadi motor penggerak utama peradaban baru. 

Dalam lima tahun kebelakang, dahulunya para pemimpin pasar selalu di dominasi oleh perusahaan minyak, tambang, yang mengandalkan sumber daya alam, namun kini perubahan itu kian terjadi.

Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Bappenas, Leonardo Adypurnama  Alias Teguh Sambodo mengatakan, perusahaan digital di berbagai belahan dunia telah membuat sejarah baru dengan menggeser dominasi kapitalisasi pasar konvensional.

Startup Digital Rajai Skala Global

Startup, e-commerce, social media, hingga kecerdasan buatan telah menjelma menjadi raksasa baru dalam skala global termasuk di Indonesia. Untuk Indonesia sendiri, kehadiran beberapa startup lokal yang telah menjadi unicorn memberikan dampak yang signifikan bagi roda ekonomi, dan sosial budaya. Berdasarkan data Indonesia Digital Creative Industry Community dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), di Indonesia saat ini terdapat 992 perusahaan rintisan.

Jika dilihat dari jenis bidang usahanya sebanyak 352 startup atau sebesar 35,48 persen yakni bidang e-commerce, kemudian sebanyak 55 startup atau sebesar 5,54 persen ada di bidang game, dan sebanyak 53 startup atau sebesar 5,34 persen di bidang financial technology. Sisanya, 53,63 persen adalah bidang lainnya dengan total jumlah 532 perusahaan.

“Asia Tenggara adalah wilayah yang memiliki unicorn paling banyak, dengan penilaian valuasi lebih dari USD 1 miliar di wilayah Asia setelah China dan India,” ujar Leonardo Adypurnama atau yang sering disapa Teguh Sambodo di Jakarta.

Hal ini terlihat dari total nilai valuasi unicorn yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Posisi puncak dihuni oleh Grab dari Singapura,kedua ada Gojek dari Indonesia, ketiga ada Sea dari Singapura, keempat ada Lazada dari Singapura, Kelima ada Traveloka dari Indonesia. Kemudian keenam ada Razer dari Singapura, dan ketujuh ada Tokopedia dan Bukalapak ada diposisi kedelapan yang berasal dari Indonesia.

Startup Digital Sumbang Perekonomian Dunia

Sementara itu, dari sisi dampak ekonomi, sumbangsih sektor digital terhadap perekonomian nasional juga tak bisa dianggap sebelah mata. Hal ini terlihat dengan tumbuhnya sektor usaha yang mendukung ekosistem ekonomi digital di Indonesia, seperti sektor informasi dan komunikasi, sektor transportasi dan pergudangan, hingga penyerapan tenaga kerja.

“Sektor Informasi dan Komunikasi masih melanjutkan tren pertumbuhan di atas 7 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini menjadi indikasi peningkatan peran ekonomi digital,” ujar Leonardo.

Kemudian, Sektor transportasi dan pergudangan juga tumbuh lebih dari 7 persen. Pertumbuhan yang tinggi ini salah satunya didorong pertumbuhan e-commerce dan transportasi on-demand seperti Gojek dan Grab. Selain itu, Pertumbuhan tenaga kerja sektor TIK juga meningkat pesat. Tahun 2018 meningkat 9,21 persen.

Tantangan Ekonomi Digital Nasional

Semenara itu, Direktur Smeru Research Institute, Widjajanti Isdijoso mengatakan, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia dalam mengembangkan ekonomi digital kedepan.

Menurutnya, dalam pertumbuhan ekonomi digital, selalu ditopang dengan mulusnya akses internet, dari faktor ini, akses internet di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain dengan tingkat ekonomi yang sama seperti Vietnam, Kamboja, India. Kemudian dari sisi pengguna internet saat ini juga belum merata.

Dengan ini, dirinya mengharapkan pemanfaatan internet di Indonesia agar lebih masif dan inklusif guna mendorong ekonomi digital yang berkeadilan, sebab, saat ini masih banyak ruang untuk peningkatan pemanfaatan internet.

“Peningkatan akses internet di pedesaan dan daerah yang lebih tertinggal. Peningkatan pemanfaatan internet di sektor dominan seperti pertanian,  manufaktur, perdagangan/hotel/restoran. Kemudian, Mengimbangi peningkatan kepemilikan ponsel dengan peningkatan literasi digital,” pungkasnya. (Editor: Winda Destiana Putri).

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.