Dorong Pertumbuhan Ekonomi, Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga Acuan

2 menit
suku bunga acuan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Tempo)

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR). Penurunan suku bunga acuan tersebut sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen dari sebelumnya yang sebesar 5,75 bps.

Suku bunga acuan merupakan suku bunga kebijakan yang ditetapkan Bank Indonesia sebagai cerminan kebijakan moneter. Suku bunga acuan juga dikenal sebagai BI7DRRR.

Keputusan penurunan suku bunga acuan ini ambil dalam Rapat Dewan Gubernur  (RDG) Bank Indonesia pada Rabu hingga Kamis (22/8/2019).

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 21 hingga 22 Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7DRRR menjadi 5,5 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis.

Keputusan penurunan suku bunga diambil atas pertimbangan matang

Perry menjelaskan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan secara matang, terutama karena laju inflasi yang stabil dan membuka kesempatan pertumbuhan yang lebih baik di tengah tekanan global saat ini.

Keputusan penurunan suku bunga ini juga mempertimbangan perkembangan ekonomi domestik dan luar negeri. Untuk luar negeri sendiri, Bank Indonesia melihat dinamika pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang mengalami perlambatan akibat dari perang dagang dengan China yang tak kunjung menemui titik akhir.

Selain itu, BI juga melihat pertumbuhan ekonomi di China, India, dan Eropa yang mengalami perlambatan. Dampak dari dinamika ini, banyak negara yang melonggarkan kebijakan moneternya guna mengatasi dampak pelemahan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonominya.

“Dinamika ekonomi global tersebut perlu dipertimbangkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi domestik dan menjaga arus modal asing sebagai penopang stabilitas eksternal,” papar Perry.

Kemudian untuk ekonomi domestik sendiri, penurunan suku bunga acuan ini sebagai upaya untuk mendorong laju pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang diharapkan bisa mendorong percepatan perekonomian nasional.

“Sebagai langkah preemptive untuk dorong momentum perekonomian Pertumbuhan Ekonomi (PE) momentumnya terus berlanjut, tapi kita harus antisipatif dari risiko perlambatan eko global dan penurunan suku bunga ini sebagai preemptive untuk dorong ekonomi Indonesia ke depan,” paparnya.

Tak hanya itu, dari sisi nilai tukar rupiah juga terus menjadi perhatian. Dengan kebijakan ini pula diharapkan nilai tukar rupiah akan kembali stabil.

“Ke depan, rupiah akan tetap stabil sesuai mekanisme pasar yang terjaga seiring prospek aliran modal yang masih baik. Serta, dampak kebijakan moneter longgar di negara lain,” jelas Perry. (Editor: Ruben Setiawan)

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.