Banner ImageBanner Image

Ekonomi Melambat, Bank Indonesia Akan Kembali Naikkan Suku Bunga

2 menit
shutterstock
shutterstock

Bank Indonesia diprediksi kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps).

Pada bulan Oktober 2018, Bank Indonesia telah memutuskan mempertahankan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI-7RR) pada 5,75 persen.

Keputusan itu diambil melalui Rapat Dewan Gubernur Bulanan yang digelar pada 22-23 Oktober 2018. Baru pada 27 September 2018 lalu, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.

Corporate Secretary and Chief Economist Bank BNI, Ryan Kiryanto, mengatakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed akan segera melakukan sidang The Federal Open Market Committee (FOMC) yang kedelapan atau sidang terakhir pada 2018 ini.

“Hampir pasti menaikkan Fractional flow reserve (FFR). Implikasinya sebagian bank-bank sentral di dunia akan ikut menaikkan suku bunga,” kata Ryan di Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Rabu (7/11/2018)

Menurut Ryan, untuk Bank Indonesia sendiri perlu dilihat pada Desember mendatang apakah kembali menahan atau menaikkan suku bunga.

“Desember kita lihat ada dua kemungkinan, BI tetap menahan atau menaikkan 25 bps jadi 6 persen untuk suku bunga acuan,” paparnya.

Pertumbuhan Ekonomi Global

shutterstock
Ilustrasi ekonomi dunia (shutterstock)

Sementara itu, dirinya juga memprediksi laju pertumbuhan ekonomi global akan mengalami perlambatan. Terutama pada negara-negara berkembang dibandingkan tahun lalu.

Menurutnya, ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan tetap kuat karena seluruh mesin ekonomi AS sedang bekerja maksimal. Sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan Eropa diperkirakan lebih rendah dari perkiraan awal.

“Ini sesuai dengan proyeksi Bank dunia pada acara IMF di Bali,” ungkap Ryan.

Tapi, Ryan menegaskan perkembangan ekonomi global juga harus diperhatikan dengan cermat bagi pelaku usaha skala besar dan kecil sekalipun. Sebab, jika pertumbuhan ekonomi dunia sedikit mengalami perlambatan maka akan memberikan dampak kepada korporasi sekali besar.

Kemudian, dari dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha besar juga akan menjalar kepada pelaku usaha kecil menengah. Hal itu bisa terjadi jika menurunnya pangsa pasar produk ekspor Indonesia yang dihasilkan dari pelaku usaha besar maupun kecil dari Indonesia.

“Tahun 1998 UKM bagus waktu krismon. Kelompok UKM relatif tidak tersentuh nilai tukar, mereka tidak minjam valas, maka mereka terisolasi dari gejolak global,” pungkasnya.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

MoneySmart Singapore MoneySmart Indonesia MoneySmart Hong Kong