Siapin Bujet Rp 20 Jutaan! Kamu Bisa Melepas Penat di Pedalaman Tambrauw, Papua Barat

13 menit
Pulau Dua, Distrik Werbes, Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Kabupaten Tambrauw di Papua Barat menerapkan segudang strategi untuk menjadi destinasi wisata unggulan dengan mempertimbangkan besarnya potensi pariwisata yang dimiliki.

Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, dalam beberapa waktu terakhir memang mulai berbenah diri menjadi destinasi wisata unggulan.

“Tambrauw merupakan destinasi press tour pertama kami pada 2019. Alasan kami langsung memilih Tambrauw sebagai destinasi pertama karena saya kagum dengan komitmen Bupatinya untuk memajukan pariwisata Tambrauw,” ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti dalam acara penyambutan rombongan Press Tour Biro Komunikasi Publik dengan Bupati Tambrauw Gabriel Asem beserta jajarannya di Pantai Sausapor, Papua Barat belum lama ini dalam keterangan resminya.

Baca juga: Kemenpar: Pariwisata Tanjung Lesung Optimistis Bisa Recovery Dengan Cepat

Dalam kesempatan tersebut, Guntur Sakti juga menjelaskan bahwa sebagian besar pendukung kemajuan sektor pariwisata karena komitmen CEO-nya. “Bisa dibilang 50 persen kemajuan pariwisata di daerah dikarenakan komitmen dari CEO-nya. Saya dibuat kagum karena sepanjang 680 km jalan yang dibangun di Kabupaten Tambrauw untuk membuka aksesibilitas merupakan dana APBD,” ujar Guntur.

Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas

Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata RI saat mengunjungi destinasi wisata Kabupaten Tambrauw, Papua Barat (Dok: Kemenpar).
Guntur Sakti, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata RI saat mengunjungi destinasi wisata Kabupaten Tambrauw, Papua Barat (Dok: Kemenpar).

Merespon hal itu, Bupati Tambrauw Gabriel Asem, mengatakan demi mempercepat pertumbuhan pariwisata Tambrauw, pembangunan infrastruktur memang menjadi prioritas.

“Yang kami lakukan adalah membangun infrastruktur dulu seperti jalan dan jembatan sebagai akses menuju destinasi. Saat ini bandara di Sausapor sudah siap dengan jalan akses menuju bandara selebar 50 meter. Ke depannya, kita akan aspal jalan menuju bandara, lalu menuju Kabupaten pusat pemerintahan yang baru di Fef,” jelas Gabriel.

Lebih lanjut, Gabriel menjelaskan aksesibilitas memasuki Tambrauw, dapat melalui dua titik, Manokwari dan Sorong. Wisatawan bisa masuk melalui Manokwari atau Sorong menggunakan direct flight dari Jakarta atau Makassar, kemudian dilanjutkan menggunakan moda transportasi darat, laut, atau udara menuju Tambrauw.

Selama 7 tahun pemerintahan, pihaknya telah menghabiskan dana hingga Rp 10 miliar untuk mempersiapkan segala hal yang dapat mendukung promosi sektor pariwisata mulai dari infrastruktur, jalan, jembatan, listrik, telekomunikasi, air bersih, hingga pembangunan cottage.

Baca juga: Kemenpar Targetkan 3 Juta Wisatawan Tiongkok Liburan saat Imlek di Indonesia

2019, Tambrauw gaet banyak investor

Destinasi Wisata Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Untuk itu pada 2019, Tambrauw pun mulai mengundang investor untuk berinvestasi seperti Papua Diving dan Gajah Tunggal Group.

Sarana telekomunikasi dan internet di Tambrauw diakui Guntur Sakti sangat diperlukan untuk menjadikan Tambrauw sebagai destinasi wisata unggulan yang online, dapat eksis dan viral di media sosial.

“Konektivitas diperlukan agar destinasi tidak offline. Masa depan Tambrauw sebagai destinasi pariwisata, salah satunya dengan terbukanya destinasi tambrauw di dunia maya,” ujar Guntur.

Pengobat Penat di Alam Tambrauw Papua Barat

Bukit Sontiri saat matahari terbit, destinasi wisata Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Lazimnya masyarakat kota melepas penat cukup dengan berkeliling pusat perbelanjaan, nongkrong di cafe atau sekedar menonton bioskop. Namun jika ingin pelepas penat berbeda dengan suasana alami pedesaan nan sejuk, cobalah pergi ke Tambrauw, Papua Barat.

Niscaya pengobat penat yang tersebar merata di alamnya sangatlah ampuh bahkan untuk membuat orang jatuh hati ingin kembali dan kembali lagi. Seperti kala senja itu, sebuah petualangan sederhana untuk mencari pengobat penat di alam Tambrauw pun dimulai.

Distrik Kebar

Distrik Kebar, Tambrauw, Papua Barat (Dok: Kemenpar).

Jejak pertama di awali ketika matahari sudah mulai tergelincir turun, roda mobil berhenti di depan Mess Kebar, Distrik Kebar, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Udara sore yang terbilang masih terik langsung menyambut.

Sore itu, mencoba singgah di Air Terjun Anenderat, Air Panas War Aremi, dan Bukit Sontiri adalah sesuatu yang sayang sekali untuk dilewatkan. Ketiganya terletak di distrik berbeda. Air Terjun Anenderat terletak di Distrik Miyah, sedangkan Air Panas War Aremi dan Bukit Sontiri terletak di Distrik Kebar.

Bukit Sontiri

Destinasi Wisata Tambrauw, Bukit Sontiri (Dok: Kemenpar).

Untuk mencapai lokasi Bukit Sontiri dan Air Panas War Aremi, diperlukan perjalanan kurang dari 30 menit dari Mess Kebar, tempat penginapan milik Pemda setempat.

Waktu terbaik mengunjungi Bukit Sontiri adalah pagi hari. Di sinilah pengunjung bisa merasakan keindahan alam ciptaan Tuhan yang begitu indah. Hamparan rumputnya yang hijau selalu dihiasi jaring laba-laba setiap paginya, sehingga ada kelir putih nan cantik di atasnya.

Setelah itu, pemandangan pagi pun terlihat dari teriknya matahari yang perlahan muncul dari balik bukit.

Masyarakat modern memanggilnya dengan nama Bukit Teletubbies karena tampilannya yang mirip dengan barisan bukit hijau yang menjadi tempat tinggal para teletubbies tersebut.

Baca juga: Kemenpar Dukung BRI Online Travel Fair Dorong Pertumbuhan Pariwisata Indonesia

Pegunungan Tambrauw

Bukit Sontiri Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Tepat berhadapan dengan Bukit Sontiri, terdapat Pegunungan Tambrau yang merupakan landmark Tambrauw.

Barisan bukit berhektar-hektar tersebut membentang bagai permadani hijau, belum lagi kilau cahaya yang menyerupai emas, seakan menambah keindahan bukit.

Istimewanya, Bukit Sontiri cantik pada saat waktu emas atau “golden time”, yakni pagi dan sore hari.

Pada saat mentari hendak tenggelam itu, Bukit Sontiri banyak dikunjungi warga sekitar untuk menghabiskan waktu menunggu matahari tenggelam. Di sana, anak-anak dapat bermain, berlari, bahkan sekadar duduk sambil menunggu ternak mereka merumput.

Air Panas War Aremi

Air Panas War Aremi (Dok: Kemenpar).

Perjalanan selanjutnya adalah mencari oasis alam berupa Air Panas War Aremi. Namanya memang masih terdengar asing di telinga. Meski demikian, lokasi ini tetap menantang untuk dijelajahi. Sama seperti lokasi lain, perjalanan ke lokasi air panas tersebut tidaklah mudah.

Air Panas War Aremi adalah sebuah kolam yang ditopang oleh batu alami yang tampak seperti sungai biasa. Dari dekat, bisa dilihat airnya berembun. Airnya terasa hangat. Kolam alami tersebut tidak terlalu dalam, hanya sebatas lutut orang dewasa.

Wisatawan bisa menikmati air panas dengan merendam sebagian atau seluruh tubuhnya di sana.

Di bagian tengah kolam, terdapat beberapa kumpulan batu yag memunculkan buih-buih di tengahnya, dugaan warga sekitar, buih inilah yang menjadi pusat air panas.

Sumber air panas dari energi geothermal

Air Panas War Aremi (Dok: Kemenpar).

Energi panas yang dihasilkan ini bersumber dari geothermal di sekitarnya. Semua warga di sana yakin kolam air panas ini adalah berkat. Sebab, kolam berada jauh dari lokasi keramaian dan bisa berfungsi sebagai lokasi pelepas penat.

Dari sana, ketenangan pun tercipta dengan sempurna, bisa dinikmati bersama suara hembusan angin yang sejuk.

Untuk dapat mencapai Bukit Sontiri dan Air Panas War Aremi, wisatawan perlu melewati jalanan berbatu dengan kelokan tajam yang tidak mudah ditempuh.

Diperlukan keahlian dan kelihaian dalam mengemudikan kendaraan “double cabin” di sana. Jarak tempuh dari Manokwari ke Distrik Kebar yakni sekitar 5 jam sedangkan jaraknya dengan Distrik Sausapor sekitar 4 jam.

Baca juga: Pemerintah Fokus Dongkrak Investasi Pariwisata dan Ekonomi Digital pada 2019

Rahasia Sang Cendrawasih di Pedalaman Tambrauw Papua Barat

Bukit Sontiri, Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Jika alam ini cukup waktu untuk menyediakan dirinya sebagai juru bicara bagi semesta, barangkali ia akan dengan mudah mengungkap rahasia dimana sang cendrawasih itu biasa bersolek.

Untungnya Tuhan begitu adil untuk membuatnya tetap sebagai saksi bisu sehingga kecantikan burung endemik Papua itu lestari bersama alamnya di Tambrauw, Papua Barat.

Namun, siapa saja kini bisa berkesempatan untuk menyaksikan langsung betapa cantiknya cendrawasih di alamnya sekaligus. Apalagi karena keindahan alam di timur Indonesia menyimpan daya tarik yang luar biasa.

Dengan kemasan yang penuh kesederhanaan Papua Barat memiliki kekayaan alam dan budaya yang perpaduannya sungguh indah dan bisa dinikmati sebagai kegiatan berwisata.

Pengalaman wisata yang dijanjikan Papua Barat sungguh berbeda dengan wisata di tempat lain. Keindahan Bumi Cendrawasih bisa membuat siapa saja jatuh hati.

Tak mudah jelajah alam Papua Barat

Tambrauw, Papua Barat (Dok: Kemenpar).

Perjalanan yang dilalui menuju Papua Barat tidak mudah. Untuk mencapai kesini, wisatawan harus melalui perjalanan udara selama kurang lebih 4 jam dari Jakarta. Jarak tempuhnya tentu akan berbeda, bergantung lokasi asal yang dipilih.

Selanjutnya, perjalanan darat yang ditempuh dari satu lokasi ke lokasi lain cukup jauh, pun belokan tajam dan jalan bebatuan masih banyak ditemui. Dibutuhkan fisik dan kendaraan yang prima untuk melewatinya.

Salah satu daya tarik Papua Barat terletak pada hutannya yang magis. Seolah hutan lebat tersebut menyimpan berbagai kejutan bagi para pelintas dengan begitu cantiknya.

Siapa sangka, jauh di dalam rimbunan pohon dan medan tanah yang cukup rumit dilewati, tersimpan dua pesona wisata yang luar biasa. Semua bisa menyebutnya kekayaan bagi bumi Papua Barat yang kaya.

Dua pesona yang dimaksud adalah burung cendrawasih yang berada di titik pengamatan Hutan Vicirie, Distrik Miyah, dan Hutan Nounggu di Distrik Sausapor. Selain itu juga ada tank peninggalan Perang Dunia II yang terletak di Distrik Bikar.

Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih di Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Mengamati burung cendrawasih di bumi asalnya merupakan sebuah pengalaman berharga. Untuk memasuki area pengamatan burung cendrawasih, wisatawan harus menyusuri jalan hutan selama 40 menit.

Setelah itu dilanjutkan dengan berjalan kaki memasuki Hutan Nounggu di Distrik Sausapor. Harga tiketnya yakni Rp 150.000 per orang, sementara harga jasa guide lokal Rp 150.000 untuk 4 orang.

Petapakan menuju cendrawasih

Burung Cendrawasih di Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Seorang warga lokal menunjukan sebuah jalan di mulut hutan sebagai petapakan menuju lokasi persembunyian untuk melihat cendrawasih.

Jalan tersebut merupakan jalan yang dibuat warga lokal dengan menyusun dahan dan akar di tanah sehingga membentuk jalan berundak. Panjang jalan yang ditempuh sekitar 300 meter dengan keadaan jalan menanjak yang cukup curam, mencapai 45 derajat.

Berbeda, jika wisatawan berkunjung ke Hutan Vicirie di Miyah, lokasi persembunyian untuk melihat cendrawasih ditempuh dengan waktu yang lebih singkat. Jarak tempuh dari tempat parkir mobil ke lokasi persembunyian hanya 100 meter dengan jalan yang cenderung landai. Untuk harga tiket, sama dengan harga tiket di Distrik Sausapor.

Lokasi persembunyian bagi yang ingin berkegiatan pengamatan burung, dibuat berupa pohon kering dan hijau yang disusun rapi menyerupai pohon liar, di sela – sela daun hijau itulah yang menjadi tempat pengamatan burung.

Aturan melihat Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih di Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Baik di Miyah maupun Sausapor, ada aturan tidak tertulis bagi wisatawan yang mau melihat langsung keindahan Burung Cendrawasih.

Sebaiknya wisatawan datang pada waktu pagi buta, pada saat itu kemungkinan untuk melihat burung lebih banyak.

Selain itu, wisatawan harus menjaga ketenangan karena suara bising dan ribut bisa mengganggu ketenangan burung sehingga enggan datang. Berpakaian gelap serta tidak memakai wewangian merupakan syarat berikutnya.

Setelah itu, kesabaran pun dibutuhkan. Wisatawan harus menunggu beberapa saat sampai si cantik cendrawasih tersebut muncul. Kadang mereka hanya melintas, kadang hinggap cukup lama di dahan pohon sehingga bisa diabadikan melalui lensa kamera.

Tidak perlu takut merasa bosan karena harus menunggu dalam diam, suara merdu burung cendrawasih dan burung lainnya yang terdengar bersautan dari kejauhan juga cukup menghibur.

Tidak disangka suaranya begitu beragam, suara yang terdengar mulai dari suara khas burung hingga suara mirip monyet. Semuanya menjadi suara nyanyian alam yang merdu dan sayang jika dilewatkan.

Pengamatan ini menjadi menarik karena kesempatan untuk melihat burung cendrawasih tidak selalu ada. Jika beruntung, wisatawan bisa melihat belasan ekor cendrawasih yang sedang bermain – main. Namun bila belum beruntung, hanya ada beberapa ekor yang melintas.

Tank Peninggalan Perang Dunia II

Tank PD II di Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Berbelok sedikit, wisatawan bisa menikmati wisata sejarah. Wisatawan dapat diantar warga lokal melalui jalan satu-satunya untuk mencapai lokasi Tank Peninggalan PD II di Distrik Bikar. Namun, jalan yang ditempuh kali ini cukup rata sehingga perjalanan tersebut tidak terasa lama.

Di antara hutan rimbun tersebutlah ditemukan beberapa tank yang teronggok berbalut rerumputan akar dan tumbuhan liar. Tank yang ditemukan tersebut diperkirakan berjenis amfibi dan artileri. Meski tampilannya sudah banyak karat, namun masih utuh.

Tank PD II di Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Roda dan rantai yang melekat pada tank pun tak terlepas dari tempatnya. Beberapa bagian sengaja dirusak agar tank tidak bisa digunakan lagi.

Konon, tank tersebut merupakan peninggalan Perang Dunia II dimana didalamnya terdapat peran tentara Amerika yang membantu penduduk pribumi untuk menyerang pasukan perang Jepang.

Tank tersebut adalah milik musuh yang sengaja disembunyikan warga jauh di dalam hutan agar mereka tidak lagi melakukan penyerangan.

Taktik yang digunakan berhasil, dengan hilangnya tank milik musuh, maka kekuatannya untuk menyerang pun berkurang.

Meski begitu, tank tersebut tidak dirusak, hanya dibiarkan begitu saja di dalam hutan. Dulu, tank yang teronggok seperti ini juga banyak ditemui di pinggir pantai. Namun, tank tersebut banyak di pereteli warga, beberapa bagian besinya diambil baik untuk dijual atau dimanfaatkan.

Lokasi tank

Tank PD II di Tambrauw (Dok: Kemenpar).

Tank bisa ditemukan di tiga area. Dua area berdekatan dan hanya berjarak sekitar 50 meter, sementara satu area berjarak cukup jauh diperlukan waktu tempuh seharian penuh untuk mencapai lokasi tersebut, bahkan katanya di lokasi tersebut juga ada peninggalan bangkai helikopter.

Kebanyakan wisatawan hanya mengunjungi dua lokasi pertama, mengingat jarak yang cukup jauh untuk menuju lokasi yang ketiga.

Melihat potensi wisata ini, Pemda setempat pun mendorong masyarakat sekitar untuk ikut mengelola dua lokasi wisata ini dan menjaga kelestariannya. Selain itu, potensi wisata Tambrauw pun akan dipetakan secara baik sehingga potensi wisata Tambrauw bisa disajikan dengan baik dan menarik.

Tarian Kafuk Nan Magis

Tarian Kafuk di Tambrauw

Menempuh perjalanan darat mengendarai mobil “double cabin” selama satu jam ke Distrik Miyah dari Distrik Kebar, terdapat suguhan lain yang tidak kalah memesona adalah Air Terjun Anenderat.

Begitu datang, rombongan pengunjung akan disambut oleh Tarian Kafuk, yakni tarian penyambutan yang biasa dilakukan warga lokal untuk menyambut tamu.

Belasan warga setempat dari berbagai usia mengenakan aksesoris serupa melakukan tarian adat ini.  Tarian ini merupakan ucapan selamat datang yang ditujukan kepada tamu dengan penuh suka cita. Para penari perempuan mengayunkan tangan seperti mengajak bermain.

Selanjutnya para penari akan meregangkan barisan dan menempatkan para tamu kehormatan di antara mereka. Lantas, mereka akan menari demikian keliling kampung.

Sampai di tengah kampung, formasi tarian akan berubah ketika seorang pria yang adalah kepala suku muncul.

Instruksi yang diberikan pria itu jelas, yakni mengubah formasi menjadi melingkar dengan posisi para tamu tetap berada di tengah penari. Mereka mengucap “Siau tayunu foo”, di antaranya terselip nama para tamu.

Setelah itu, para tamu dan masyarakat kembali berbaur menyusuri jalan bebatuan serta menyeberangi sungai berarus deras.

Air terjun Anenderat

Air Terjun Anenderat (Dok: Kemenpar).

Kali ini tujuannya adalah Air Terjun Anenderat, yakni air terjun alami yang memiliki beberapa undakan bebatuan dengan tinggi mencapai 200 meter.

Ada suasana tenang dan damai yang ditawarkan di sana. Suara limpahan air mengalun bersama kicauan burung cendrawasih yang melintas di tengah hutan. Memejamkan mata dan melepas lelah disini tampaknya menjadi pilihan baik. Jika tidak, duduk sambil memandangi air terjun atau sekadar berfoto mengabadikan keindahan air terjun pun juga cukup membuat hati senang.

Pin untuk Kelestarian Lingkungan

Masyarakat Kabupaten Tambrauw, Papua Barat (Dok: Kemenpar).

Sebagai sebuah kabupaten, Tambrauw memiliki potensi pariwisata yang besar. Zona pariwisata ini dibagi menjadi dua, Blue Wonder dan Green Wonder.

Blue Wonder merupakan potensi pariwisata yang berada di sekitar pesisir pantai meliputi peninggalan tank perang dunia ke II, habitat burung cendrawasih, pulau dua, serta pantai Jeen Womom yang menjadi habitat terbesar penyu belimbing.

Sementara itu, Green Wonder merupakan potensi pariwisata di sekitar pegunungan yang meliputi Bukit Sontiri dengan fenomena ribuan jaring laba-laba di pagi hari, mata air panas War Aremi, pemandangan matahari terbit di distrik Miyah, panorama air terjun Anenderat, serta pengamatan Cendrawasih dan satwa lainnya.

Kabupaten Tambrauw kawasan konservasi

Air Terjun Anenderat (Dok: Kemenpar).

Dengan kekayaan flora dan fauna tersebut, Tambrauw pun dijadikan sebagai Kabupaten konservasi. Istilah Kabupaten Konservasi sendiri mulai didengungkan oleh Gabriel Asem, saat terpilih menjadi Bupati Tambrauw pada tahun 2011.

Sebagai satu kabupaten hasil pemekaran di daerah “Kepala Burung” Papua, Tambrauw yang luasnya sekitar 1,1 juta hektar, sekitar 80 persennya adalah hutan dengan fungsi lindung dan konservasi.

Namun, saat ini Pemda sedang melakukan sinkronisasi dengan Pemerintah pusat mengenai penyediaan ruang untuk pengembangan pariwisata.

“Awalnya pembagian adalah 80 daerah konservasi dan 20 daerah yang bisa dikelola. Tetapi sekarang kita lakukan revisi menjadi 60-40. Jadi, 40 itu adalah ruang yang bisa dikelola, di dalamnya ada pertanian hingga pariwisata,” ujar Gabriel Asem.

Wisatawan wajib membeli pin

Wisatawan di Tambrauw (Instagram).

Pemberian ruang yang lebih luas untuk diolah ini tidak berarti melupakan pelestarian. Sebagai upaya menjaga pelestarian alam sekaligus sebagai ekowisata baru,  Pemerintah Kabupaten Tambrauw meluncurkan pin untuk pemeliharaan lingkungan kawasan strategis.

Setiap wisatawan yang ingin mengunjungi Tambrauw harus membeli Pin dan dikenakan biaya tarif masuk. Untuk wisatawan domestik dikenai tarif sebesar Rp 200.000, sementara wisatawan asing membayar tarif sebesar Rp 400.000. Pin ini dapat dibeli di bandara Domine Eduard Osok di Sorong Papua Barat mulai awal Maret lalu.

Target wisatawan Tambrauw

Pantai Jeen Womom, Distrik Abun, Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Tambrauw menargetkan pariwisatanya siap untuk dipromosikan pada 2019 sehingga dapat mendatangkan 5000 wisatawan tahun ini.

Walaupun belum terdata secara spesifik, namun menurut Gabriel Asem hingga saat ini Tambrauw menjadi pilihan destinasi wisata bagi para wisatawan mancanegara asal Eropa seperti Prancis dan Belanda, khususnya para pecinta burung.

Bagaimana cara untuk kesana dan berapa biayanya

Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Perjalanan menuju Papua memang gak mudah. Kamu harus rela mengeluarkan kocek nyaris puluhan juta untuk sekali perjalanan ke sini. Tetapi keindahan alam yang akan kamu nikmati berbanding lurus dengan perjuangannya.

Memang masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan pemerintah. Bukan soal infrastruktur saja, namun akomodasi serta sinyal operator mungkin harus diperhatikan. Belum lagi ketersediaan bahan bakar juga menjadi kendala yang cukup berarti.

Datang dari Manokwari

Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Untuk menjelajahi alam Tambrauw secara keseluruhan, kamu diharuskan datang dari Manokwari. Disini kamu akan mendapatkan semua zona baik green maupun blue wonders. Karena gak lengkap rasanya tanpa menjelajahi semua zona.

Dari Jakarta menuju Manokwari kamu bisa memilih menggunakan maskapai penerbangan Batik Air (penerbangan langsung), Garuda Indonesia (1/2 kali transit), atau bahkan Sriwijaya Air (1/2 kali transit).

Tentu untuk harga berbeda setiap maskapai. Melongok laman Traveloka, untuk tiket penerbangan paling murah ke sana adalah Batik Air Rp 3.170.000 langsung dari Bandara Internasional Soekarno Hatta menuju Bandara Rendani di Manokwari.

Perjalanan akan kamu tempuh selama kurang lebih 4 setengah jam. Disarankan agar mengambil penerbangan langsung di pukul 23.00 WIB. Selain di jam itu penerbanganmu akan transit di beberapa kota terlebih dahulu. Itu akan semakin menambah lama perjalananmu bukan.

Perjalanan mengelilingi Tambrauw

Distrik Miyah, Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Setelah mendarat di Bandara Rendani, Manokwari Papua Barat jika ingin ke Distrik Kebar, kamu harus menyewa kendaraan terlebih dahulu.

Untuk biayanya dari Manokwari ke Distrik Kebar – Miyah merogoh kocek Rp 3,5 juta untuk satu harinya. Belum ditambah biaya supir dan kenek masing-masing per orang sebesar Rp 500 ribuan. Jika ditotal sekitar Rp 4,5 juta untuk kendaraan double cabin sekali jalan.

Jarak tempuh dari Manokwari ke Distrik Kebar yakni sekitar 5 jam. Sepanjang perjalanan kamu akan disuguhkan pemandangan hutan alam Papua Barat yang cukup indah. 5 jam perjalanan disana bebas hambatan tanpa macet ya, jadi siap-siap bawa bantal leher untuk istirahat.

Penginapan

Bukit Sontiri, Distrik Kebar, Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Untuk menginap di Mess Kebar, biayanya Rp 500.000 per malam per kamar dengan tambahan biaya makan Rp 50.000 sekali makan, per orang. Kalau mau hemat satu kamar isi dua orang masih memungkinkan kok. Sementara penginapan dan biaya makan di Miyah juga menerapkan tarif yang sama.

Kemudian kalau kamu mau melanjutkan perjalanan dari Distrik Miyah ke Distrik Sausapor akan menempuh perjalanan selama kurang lebih 7 jam. Untuk biaya sewa kendaraan dari sini berbeda dan kamu harus mengeluarkan uang lagi sebesar Rp 5 juta. Jika kamu ada rencana jalan-jalan ada tambahan untuk biaya bahan bakar sebesar Rp 1 juta. jadi totalnya Rp 6 juta untuk sekali perjalanan.

Sementara biaya penginapan di Mess Sausapor Rp Rp 350.000 – Rp 400.000/malam nya dengan biaya makan masih sama Rp 50 ribu per orang satu kali makan.

Pulang dari Sorong

Pantai Jeen Womom, Distrik Abun, Tambrauw, Papua Barat (Instagram).

Ada yang menarik ketika kamu ingin kembali ke Jakarta usai mengeksplore Tambrauw keseluruhan. Kamu gak perlu pulang melalui jalur yang sama ketika datang. Kamu cukup pergi ke Sorong.

Dari Sausapor menuju Sorong saat ini Pelni sudah menyediakan pemberangkatan kapal feri setiap harinya. Dengan biaya sebesar Rp 250 ribu per orang kamu sudah tinggal duduk manis saja dan bisa melihat keindahan laut.

Setelah sampai, kamu hanya tinggal melanjutkan perjalanan menuju Bandara Udara Sorong dan siap-siap menuju gate dimana lokasi pesawatmu sudah menunggu. Untuk biaya pulang ke Jakarta, Batik Air membanderol harga penerbangan langsung sebesar Rp 3.027.000. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 4 setengah jam.

Kontak

Jika tertarik pergi kesana, berikut kontak yang bisa kamu hubungi untuk akomodasi dan sebagainya:

Rental mobil Manokwari dengan Bapak Ical di 0823-9797-4072 dan Bapak Irmawan di 0822-4830-6408

Untuk mengecek ketersediaan kursi di kapal feri kamu cukup masuk ke website resmi https://www.pelni.co.id/.

Untuk informasi ketersediaan pesawat Cesna kamu bisa cek laman maskapai penerbangan Susi Air di http://www.susiair.com/.

Sementara untuk penginapan di Sausapor kamu bisa mengontak Ibu Helen selaku Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tambrauw di 0812-9579-9653 atau 0852-1585-0049. Pasalnya Mess Sausapor adalah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Tambrauw, Papua Barat.

Jadi gimana nih guys? Kamu perlu siapin bujet sebesar Rp 20 jutaan untuk eksplore keindahan alam di Kabupaten Tambrauw yang kini menjadi sister destinasi Raja Ampat. Saran ada baiknya sih kamu pergi minimal 3 orang supaya bisa berbagi biaya penginapan dan transportasi sewa kendaraan. Meski mahal, tapi kamu bakal mendapatkan keindahan alam yang gak dimiliki negara lain. So, sering-sering yuk pelesiran ke wilayah Indonesia. (Editor: Winda Destiana Putri).

Winda Destiana
Winda Destiana

No place is ever bad as they tell you its going to be

Mau lebih cerdas kelola uang?

Dapatkan tips saham, karier, inspirasi bisnis dan konten menarik lainnya!