Mengapa Harga Tas Hermes Gak Ketulungan? Ini 4 Penyebabnya

2 menit
Tas Hermes (Instagram)
Tas Hermes (Instagram)

Dari Syahrini sampai sejumlah istri pejabat RI setidaknya punya satu sampai dua tas Hermes.

Bagi kalangan sosialita, tas Hermes bukan sekadar tas mewah yang harus dimiliki, melainkan menjadi ukuran kelas sosial alias simbol status yang menunjukkan kekayaan seseorang. Bahkan, tas Hermes dipandang lebih mewah dibanding perhiasaan.

Harga Hermes termurah sekitar US$ 1000 atau setara Rp 14,5 sementara yang termahal mencapai US$ 1,9 juta atau lebih dari Rp 27 miliar.  

Salah satu jenis Hermes yang dinilai paling berkelas ialah Hermes Birkin. Harga satu tas Birkin mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Bahkan, bisa lebih mahal dari puluhan Toyota Alphard.

Untuk mendapatkan Hermes Birkin juga gak bisa sembarangan. Tas mewah ini hanya dijual di toko-toko resmi. Selain itu, kamu harus terdaftar sebagai pelanggan VIP baru bisa membeli tas yang harganya selangit ini.

Selain kemewahan yang ditawarkan, Hermes juga dianggap memiliki nilai investasi yang menjanjikan. Dalam beberapa tahun, bukannya mengalami penurunan, nilai Hermes Birkin justru diperkirakan naik hingga dua kali lipat.

Tapi, pernah penasaran gak sih, kenapa harga Hermes mahalnya gak main-main?

Terbuat dari material premium

Colour Festival #petith

A post shared by Hermès official account (@hermes) on

Hermes gak hanya sekadar mahal, tapi memang terlihat seperti barang mewah bernilai tinggi. Tentunya karena menggunakan bahan terbaik. Hermes menggunakan kulit berkualitas tinggi.

Mulai dari kulit burung unta, kulit rusa, kulit banteng Pakistan, kulit buaya Florida, hingga yang termahal menggunakan bahan kulit buaya jenis Niloticus yang diambil di sekitar Sungai Nil, Afrika.

Beberapa jenis Hermes juga menggunakan taburan berlian dan emas, sehingga harganya pun makin melonjak.

Dibuat oleh pengrajin andal menggunakan tangan

Cutting softness #HermesLeatherAccessories

A post shared by Hermès official account (@hermes) on

Gak bisa sembarang orang buat jadi pengrajin tas-tas besutan Hermes. Pengrajin baru bahkan diwajibkan mengikuti pelatihan khusus selama lebih dari setahun.

Berbeda dengan tas produksi pabrik nih, sebagian besar pengerjaan Hermes dilakukan menggunakan tangan. Mulai dari menjahit, memotong, memangkas, hingga memasang aksesori.

Dengan begitu, tas yang dihasilkan tidak persis sama satu sama lain. Bahkan pada jenis tas yang sama memiliki perbedaan karena ditangani oleh pengrajin yang berbeda. Hal ini membuat tiap unit Hermes terasa bagai limited edition yang dirancang khusus buat pembelinya.

Menggunakan teknik pewarnaan yang sempurna

Golden Detail #HermesBags

A post shared by Hermès official account (@hermes) on

Penggunaan kulit hewan sebagai material utama tas bukanlah hal sepele. Pasalnya, mayoritas jenis kulit yang digunakan berasal dari hewan seperti buaya sangat rentan memiliki luka sehingga tas yang dihasilkan bisa tampak gak mulus.

Untuk menutupinya, tas harus diwarnai dengan metode yang tepat. Proses ini tidak mudah dan memakan waktu berjam-jam. Selain itu, semakin terawang warna tas, semakin sulit proses yang perlu dilakukan.

Dibuat terbatas

Someone will always be offended, Tyler Shields is iconic. 👜🐍

A post shared by Birkin (@hermesbirkin) on

Antrean untuk memiliki tas Hermes sangatlah panjang. Untuk bisa memiliki satu unit Birkin, kamu bahkan harus menunggu hingga beberapa tahun.

Nah, seperti yang kita tahu nih, permintaan dan penawaraan dapat memengaruhi harga barang. Permintaan tinggi tapi kesediaan minim, harga barang pun bisa melambung. Karena itu, bahkan untuk Birkin bekas sekalipun harganya bisa mengalami kenaikan.

Tapi, kalau dipikir-pikir jika produksi dilakukan secara massal, kebayang gak sih berapa ekor buaya yang harus “dibunuh”?

Jadi gak heran kan kenapa harga satu unit Hermes bahkan bisa ditukar dengan satu rumah di pinggir Jakarta? Tetap aja sih, harganya bikin pemilik tas ini jadi merasa deg-degan. Tapi, kalau mengingat para buaya dan hewan lain yang harus dibunuh dan dikuliti demi dijadikan bahan tas, masih tega gak yah buat keluar bujet beli tas ini.

Ulfa Sekar
Ulfa Sekar

Pernah menjadi anak IT dan bercita-cita menjadi seorang programmer. Lalu berakhir menjadi seorang penulis dan menikmatinya. Semoga tulisan saya bisa berguna buatmu.