Tidak Ada Pendidikan yang Gratis

2 menit
Biaya kuliah besarannya memang relatif. Sebagai gambaran, Direktorat Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional menyebut biaya kuliah per mahasiswa di kisaran Rp 18 juta. Lembaga itu menilai angka segede itu masuk akal karena kampus wajib menyediakan sarana dan prasarana perkuliahan. Mulai dari menggaji dosen bergelar doktor, fasilitas perkuliahan, dan tetek bengek lainnya. (*Ref 1)
Tapi itu baru kisaran saja. Sekali lagi biaya kuliah itu besarannya relatif karena antara satu kampus dengan yang lain bisa berbeda. Bahkan ada kampus yang memungut biaya lebih dari Rp 100 juta untuk fakultas tertentu. Jadinya, program studi yang dipilih turut mempengaruhi besaran biaya kuliah.
Untuk menekan biaya kuliah, banyak yang mendambakan menuntut ilmu di perguruan tinggi negeri (PTN). Meskipun anggapan ini sekarang banyak diperdebatkan. Biaya kuliah di PTN ternyata jauh disebut murah jika dibandingkan satu dekade lalu. Tapi dalam urusan kualitas, PTN tetap dianggap lebih prestisius daripada swasta.
Dalam urusan biaya kuliah, tiap kampus punya kebijakan sendiri dalam hal biaya perkuliahan. Sebagai contoh, pembiayaan pendidikan di Universitas Indonesia (UI) jalur reguler S1 mulai tahun akademik 2013/2014.
Kampus itu menerapkan kebijakan pengenaan Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOP-B) yang dibayarkan per semester. Besarannya minimal Rp 100 ribu dengan maksimal Rp 5 juta untuk program studi kelompok IPS. Sementara program studi IPA mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 7,5 juta. Besarannya bisa dinegosiasikan lagi tergantung dari kemampuan finansial orangtua.
Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) menerapkan sistem uang kuliah tunggal (UKT). Prinsip sistem ini adalah mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan rendah membayar lebih rendah. Sebaliknya mahasiswa yang orang tuanya berasal dari kalangan lebih mampu membayar lebih tinggi.
Prinsip UKT ini juga diterapkan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan adanya UKT, maka kampus negeri di Yogyakarta itu menghapuskan uang pangkal. Misalnya saja kuliah di Fakultas Kedokteran UGM mesti membayar UKT Rp 15,223 ribu dikalikan delapan semester.
Beberapa contoh di atas menegaskan tidak ada pendidikan yang gratis. Besaran biaya inilah yang mesti dipersiapkan calon mahasiswa, khususnya orangtua. Lagi pula biaya yang ditanggung tak hanya itu. Mesti dipikirkan pula biaya hidup, biaya pemondokkan, transportasi dan lain sebagainya. Biaya sampingan ini juga tak bisa diabaikan.
Meski tergolong besar, tapi orangtua tetap berusaha memenuhinya. Bagi mereka, pendidikan adalah investasi masa depan buah hati. Tak heran dalam perjalanannya, orangtua harus rela menjual aset dan harta bendanya untuk menggenapkan biaya perkuliahan.
Biar tak terkaget-kaget dalam menggenapi biaya pendidikan tinggi ini, sangat disarankan mempersiapkan sejak dini. Bisa dalam bentuk asuransi pendidikan, tabungan pendidikan, atau mencicil aset seperti rumah atau tanah. Bisa pula emas atau instrument lainnya yang bersifat jangka panjang. Langkah ini menjadi bijak mengingat biaya pendidikan sifatnya pasti.
Momen penerimaan mahasiswa baru dan jatuhnya Hari Pendidikan Nasional (HPN) tiap 2 Mei bisa menjadi pengingat betapa biaya pendidikan itu mutlak dicarikan solusinya.
Ref 1: http://www.dikti.go.id/id/direktori-pt/daftar-perguruan-tinggi-negeri/
Akseleran
Akseleran

Akseleran adalah peer-to-peer lending platform di Indonesia yang menghubungkan UKM yang membutuhkan pinjaman untuk mengembangkan usaha dengan crowd investor yang memiliki dana lebih untuk mendanai pinjaman tersebut.