Tips Kasih Pendidikan Keuangan Buat Anak Generasi Milenial

3 menit
pendidikan keuangan buat anak

Setiap anak selalu tumbuh berdasarkan apa yang berkembang dalam zamannya. Istilah kerennya, zeitgeist alias semangat zaman.

Karena itu, orang tua mesti mengetahui semangat zaman yang sedang dialami sang anak. Tujuannya, bisa memberikan pendidikan yang tepat kepada buah hati, termasuk dalam hal keuangan.

Dalam konteks ini, anak pada masa sekarang tergolong sebagai generasi milenial. Yang masuk kategori generasi milenial atau generasi Y adalah yang lahir antara tahun 1980 dan 2000. Anak yang lahir setelahnya sering disebut sebagai generasi Z.

pendidikan keuangan buat anak
Salah satu icon generasi milenial yang masih di kenal sampai sekarang (Warkop DKI / VIVA)

Agar bisa memberikan tips pendidikan keuangan buat anak generasi milenial, kita perlu tahu semangat zaman pada generasi ini. Cek penjelasan berikut ini untuk melihat karakter generasi milenial dan memberikan tips yang tepat:

1. Melek teknologi

Generasi milenial umumnya melek teknologi. Ketika orang tua banting tulang kerja di belakang meja, mereka bisa menghasilkan duit dari kamar. Bikin video, upload ke YouTube, sudah. Duit bisa masuk sendiri.

Makanya, orang tua juga mesti mau belajar teknologi. Facebook, Twitter, YouTube, sampai e-mail dan blog harus diketahui. Gak perlu dikuasai, cukup diketahui.

Dengan demikian, orang tua bisa memberikan masukan yang pas untuk finansial sang buah hati. Misalnya menyarankan membuat blog cerita patah hati untuk dijadikan sumber pemasukan ketimbang kebanyakan curhat di Facebook.

Jadilah kawan mereka di media sosial. Namun bukan berarti harus diikuti apa-apa yang mereka lakukan. Tiap update status, dikomen, like, atau share. Lama-lama malah mereka terganggu.

2. Mandiri

Kepercayaan diri generasi milenial biasanya tinggi. Karena itu, gak mengherankan jika keputusan banyak mereka buat tanpa pertimbangan orang lain, termasuk keluarga.

Dalam kasus ini, orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa kemandirian itu bagus. Namun ada kalanya konsultasi diperlukan, terutama yang menyangkut keluarga.

Contohnya, menabung untuk masa depan. Bukan hanya dia yang diuntungkan, tapi juga keluarganya yang sekarang dan kelak. Mau pindah kerja, juga begitu. Meski harus diingat bahwa keputusan akhir ada pada dirinya, bukan orang lain, termasuk orang tua.

3. Pendirian kuat

Selain mandiri, generasi milenial punya kecenderungan berpendirian kuat. Artinya, sekali mengeluarkan gagasan, mereka akan berjuang mati-matian mempertahankannya.

pendidikan keuangan buat anak
Pendirian kuat pertanda jiwa yang kuat stroooonnnnggg!!! (strong lady / yupe)

Karena itu, orang tua sebaiknya gak terlalu memaksakan nasihat yang dianggapnya baik ke anak generasi ini. Apalagi jika menggunakan kata-kata keras. Bisa-bisa malah terjadi perang dingin, tinggal serumah tapi gak bertegur sapa.

Mending pakai pendekatan ala intelijen. Pelan-pelan mengamati, lalu masuk dan memberikan nasihat keuangan.

Bagaimanapun, mereka tetap menghormati orang tua kok. Yang penting, kedepankan hati, bukan emosi.

4. Orientasi pada hasil

Ketimbang proses, generasi milenial biasanya lebih mementingkan hasil. Itu sebabnya, banyak yang gak peduli mau lama atau sebentar dalam suatu aktivitas, yang penting hasilnya dinilai bagus.

Masalahnya, yang dinilai bagus oleh pribadi belum tentu sama di mata orang lain. Maka, kita bisa mengimbanginya dengan menekankan bahwa proses sama pentingnya dengan hasil.

Bukan mustahil, karena terlalu berfokus pada hasil, mereka lalu buru-buru dalam mengerjakan sesuatu. Dari sisi keuangan, hal yang buru-buru diputuskan tidaklah baik. Mau ambil kredit, misalnya. Atau memakai kartu kredit untuk belanja.

Segalanya memerlukan rencana. Namun bukan lantas orang tua bisa memaksakan rencananya pada sang buah hati. Pendapat mereka tetap harus didengar, bukan diabaikan.

pendidikan keuangan buat anak
Dengarkan sarang orang tua (orang tua / forbes)

Mendidik keuangan anak dari zaman berbeda memang membutuhkan perjuangan lebih besar, apalagi dari generasi milenial. Mereka punya keunikan tersendiri yang mesti dipahami, sekaligus diatasi.

Tapi peran orang tua semestinya tak terlampau masuk ke kehidupan anak.  Siapa sih yang mau hidupnya diutak-atik orang, terlebih anak milenial yang merasa lebih maju ketimbang orang tua mereka.

Yang terpenting dalam pendidikan keuangan buat anak adalah teladan orang tua. Tak peduli menasihati sampai berbuih-buih, kalau tindakan orang tua tak selaras dengan perbuatan ya sama juga bohong. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Ini Nih 7 Kebiasaan Generasi Milenial yang Membuai dan Harus Dihindari]

[Baca: Gak Pamer Kesuksesan di Medsos Bukan Berarti Gagal, Nih Buktinya]

[Baca: Media Sosial Vs Realitas Sosial: Bangun, Sebelum Terlanjur Bangkrut]

Hardian
Hardian

Sebagai penulis dan penyunting, saya sangat akrab dengan tenggat alias deadline. Dua profesi ini mengajari saya tentang betapa berharganya waktu, termasuk dalam urusan finansial. Tanpa rencana dan kedisiplinan soal waktu, kehidupan finansial pastilah berantakan. Cerita inilah yang hendak saya bagikan kepada semuanya lewat beragam cara, terutama tulisan.