3 Hal Utama yang Bikin Produktivitas TKI Terendah di ASEAN

2 menit
Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) (Shutterstock)
Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) (Shutterstock)

Perkembangan ekonomi digital membuat tenaga kerja Indonesia (TKI) kalah bersaing. Sumber daya manusia (SDM) kita harus memiliki kesiapan yang matang dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Jika tidak, maka potensi ketertinggalan akibat kegagapan teknologi atau gaptek semakin besar.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, semenjak tahun 2018 lalu perusahaan-perusahaan yang menjadi perusahaan terbesar di dunia adalah berbasis teknologi digital.

Hal ini berbeda ketika tahun 2013 silam, perusahaan minyak dan gas masih mendominasi dunia.

“Minyak dan gas adalah masa lalu, sementara digital adalah masa depan kita. Di 2013, empat dari lima perusahaan terbesar dunia adalah minyak dan gas. Namun di 2018, lima dari lima perusahaan terbesar adalah teknologi digital,” kata Bambang.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital tidak hanya menggeser lanskap persaingan global, tetapi juga membuka peluang baru bagi bidang yang belum pernah ada sebelumnya.

Agar tak kehilangan momentum, pemerintah mendorong agar tren teknologi digital berdampak untuk membuka jenis lapangan kerja baru, membawa kemudahan dan kenyamanan pada pelanggan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam proses produksi, membuka akses pembiayaan inklusif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

Produktivitas Tenaga Kerja RI Rendah

“Produktivitas tenaga kerja Indonesia masih rendah dan laju pertumbuhan produktivitasnya lebih lambat dibandingkan negara ASEAN lainnya. Angkatan kerja SMP ke bawah dan pekerja berkeahlian rendah masih mendominasi pasar kerja Indonesiadi 2018. Begitupula dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan pendidikan menengah lebih tinggi dari nasional,” ungkapnya.

Untuk itu, pemerintah Indonesia tengah memprioritaskan pilar pembangunan manusia serta penguasaan teknologi (IPTEK) di dalam Visi Indonesia 2045, yaitu kondisi ideal yang harus kita capai ketika 100 tahun Indonesia merdeka.

Selain pembangunan manusia serta penguasaan IPTEK, ketiga pilar lainnya untuk mewujudkan Visi Indonesia 2045 adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pertahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Menurut Bambang, Visi Indonesia 2045 menjadi arah bagi Indonesia dalam menentukan prioritas pembangunan, dan kerja keras untuk mewujudkan visi ini sudah mulai kita kerjakan.

“Sejak 2015 hingga 2045, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target capaian untuk setiap pilar Visi Indonesia 2045. Khusus untuk tahapan pengembangan IPTEK dan inovasi menyongsong Visi 2045,” ujar Bambang.

Persiapkan 3 Hal Utama

Untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia, Pemerintah Indonesia mempersiapkan tiga hal.

Pertama, peningkatan keterlibatan industri dalam penyusunan standar dan kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi.

Kedua, peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan termasuk magang yang berbasis kompetensi.

Ketiga, penguatan penyelenggaraan sistem sertifikasi profesi. Ketiga hal ini perlu untuk memastikan Indonesia dapat meraup keuntungan dari Revolusi Industri ke-4 ini.

“Apabila kita amati tren lowongan pekerjaan di era digital ini, terdapat beberapa pekerjaan yang naik dan ada pula yang turun. Kedepan pekerjaan yang naik daun adalah segala hal yang memerlukan kecerdasan kognitif dan pemikiran strategis. Sedangkan yang menurun adalah pekerjaan yang rutin dan berulang. Peran kasir akan digantikan sistem point of sales, dan satpam digantikan CCTV dan pengenalan wajah. Mereka yang bertahan dan tumbuh adalah mereka yang mampu mengikuti perubahan dan beradaptasi,” paparnya.

Menurutnya, kedepan tren pasar kerja kedepan adalah tenaga kerja yang memiliki hard skill dan soft skill.

Di sisi hard skill, penguasaan teknologi ke depan adalah kunci bertahan. Baik dalam pekerjaan ataupun membangun bisnis, teknologi adalah bagian tak terpisahkan.

“Masa depan juga menuntut manusia untuk saling berhubungan. Skill sosial, seperti penyelesaian masalah, berpikir kritis, kreativitas, manajemen SDM, koordinasi, dan keterampilan emosional sangatlah penting. Hal ini menjadi tantangan tersediri bagi dunia pendidikan mengingat belum banyak sekolah yang mengajarkan softskill semacam ini dalam kurikulumnya,” pungkas Bambang.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

 

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.