Gak Mau Kalah Sama Bukalapak, Tokopedia Juga Pengan Jual Saham Lho!

2 menit
Tokopedia Berniat IPO (Shutterstock)
Tokopedia Berniat IPO (Shutterstock)

Tokopedia e-commerce besutan William Tanuwijaya telah berdiri satu dekade melayani pelanggan dan membantu para seller memasarkan produk yang mereka jual.

Co-founder sekaligus CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengungkapkan, meski sudah berusia satu dekade, saat ini perusahaan miliknya belum tertarik menjual saham perusahaan kepada publik atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

William mengatakan, rencana IPO merupakan jangka panjang untuk Tokopedia, sebab saat ini Tokopedia masih memiliki cukup modal dari investor.

“Saat ini belum mau IPO. Tapi IPO merupakan rencana jangka panjang Tokopedia,” kata William saat Tech In Asia Confrence di Jakarta.

Menurutnya, modal dari dua raksasa investor yakni Alibaba Group dan juga Softbank Vision Fund membuat Tokopedia belum perlu melakukan pengumpulan dana publik melalui penjualan saham.

“Kami masih punya cukup modal dari investor besar seperti Alibaba dan Softbank, maka kami belum mau IPO,” ujar William.

Menurutnya, rencana IPO sudah dicanangkan sejak perusahaan ini berdiri hingga saat ini.

“Jadi, kami berencana untuk pre-IPO dan go public. Sejak hari pertama, kami sudah memikirkan jangka panjang. Kami senang dengan kemajuan kami sejauh ini,” ungkapnya.

Dorong Ekonomi Nasional

Menurut William, hal terpenting saat ini adalah Tokopedia telah mampu memberikan kontribusi kepada perekonomian nasional. Selain juga membantu para pengusaha dan pebisnis muda diseluruh pelosok Indonesia untuk mengembangkan bisnis dan usahanya.

“Sejak Mei 2019 nilai transaksi  kami melampaui US$ 1,3 miliar GMV (gross merchandise value) atau melebihi Rp 18 triliun. Jadi, tahun ini kami berkontribusi lebih dari 1 persen ekonomi Indonesia,” ujar William.

Bahkan, saat ini Tokopedia telah memiliki 6,5 juta penjual atau seller di seluruh Indonesia, dari 6,5 juta tersebut sebanyak 86 persen merupakan pebisnis baru yang merintis, dan telah menjangkau 97  persen luas Indonesia. 

“Jadi dengan teknologi saat ini kami memiliki 6,5 juta orang memulai dan mengembangkan bisnis mereka,” ungkapnya.

Google, Temasek dan Bain&Company memaparkan dalam laporan e-Conomy SEA bahwa tren pertumbuhan perekonomian digital Indonesia menjadi pemimpin di Asia Tenggara atau ASEAN.

Berdasarkan laporan Temasek, ekonomi digital Indonesia tahun ini mencetak US$ 40 miliar atau Rp 556,6 triliun dengan kurs Rp 14.166 per dollar AS.

Tercatat, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia masih ditopang oleh pertumbuhan e-commerce yang diprediksi pada 2025 mendatang akan mencapai US$ 82 miliar.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

 

 

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.