Bisa Cepat Untung Banyak, Ini Lho Bedanya Trading Saham dengan Investasi

3 menit
Apa bedanya trading saham dengan investasi saham?
Apa bedanya trading saham dengan investasi saham? (Shutterstock)

Ngomongin saham kurang lengkap kalau gak ngomongin trading saham. Dibandingkan dengan investasi, istilah trading saham masih kalah populer. Malahan, gak sedikit yang salah mempersepsikan hingga menyebut trading sama dengan investasi.

Jelas-jelas antara investasi dan trading saham itu ada perbedaannya. Investasi itu biasanya bertujuan buat memperoleh untung dalam jangka panjang. Sementara itu, trading cenderung bertujuan untuk mendapatkan untung dalam jangka pendek.

Lebih dari itu, masih ada lagi nih bedanya trading saham dengan investasi yang barangkali kamu belum tahu. Nah, dalam ulasan kali ini, Moneysmart mau mengupasnya nih buat kamu. Yuk, disimak.

Apa itu trading saham?

Apa itu trading saham?
Apa itu trading saham? (Shutterstock)

Seperti yang udah dijelaskan di awal tadi, trading saham itu bertujuan buat memperoleh keuntungan dalam jangka pendek. Dilihat dari definisinya, trading saham adalah metode jual beli saham buat ambil keuntungan dari selisih harga dalam waktu singkat.

Misalnya aja kamu beli saham hari ini terus kamu jual ketika udah mencapai harga yang kamu inginkan. Di sinilah kamu telah melakukan trading saham dan mendapatkan untung. Gak nunggu bertahun-tahun, sehari pun kadang udah cukup buat hasilkan untung.

Tampaknya melakukan trading itu mudah, tapi gak selalu demikian lho. Inilah kenapa kamu perlu tahu beberapa hal yang membedakan trading saham dengan investasi dalam ulasan selanjutnya di bawah ini.

Ini lho bedanya trading saham dengan investasi

Apa bedanya trading saham dengan investasi saham?
Apa bedanya trading saham dengan investasi saham? (Shutterstock)

Selain jangka waktu pengembalian hasil atau return, kamu juga wajib tahu beberapa hal lainnya yang menjadi pembeda trading saham dengan investasi. Apa aja?

1. Pilihan saham yang dibeli

Bedanya investasi dengan trading saham itu bisa dilihat dari pilihan saham yang dibeli. Orang-orang yang berinvestasi saham cenderung membeli saham-saham lapis pertama alias blue chip.

Lain halnya dengan beli saham buat trading. Para trader lebih memilih saham-saham lapis tiga atau yang baru masuk initial public offer (IPO) buat dibeli. Soanya saham-saham IPO ini harganya bisa melesat tinggi dalam satu hari. Namun, besoknya bisa turun, bahkan sangat dalam turunnya.

Inilah kenapa para trader harus cermat melihat pergerakan harga agar gak menyimpan saham terlampau lama. Dengan begitu, trader bisa terhindar dari kerugian.

2. Risiko trading lebih tinggi ketimbang investasi

Trading saham punya risiko yang begitu tinggi dibandingkan dengan investasi. Seperti yang udah disinggung tadi, pergerakan harga saham itu gak menentu alias fluktuatif. Bisa aja hari ini naik, besoknya turun.

Kamu boleh aja senang melihat harga saham yang kamu beli hari ini naik. Terus dengan melihat keuntungan itu, kamu pertahankan saham tersebut sambil berharap harganya terus naik.

Namun, gak ada yang pernah tahu sampai kapan harga saham terus naik. Bisa aja dua hari kemudian harganya turun dan kamu rugi karena belum melepas saham yang kamu simpan.

Makanya, sangat disarankan agar gak menyimpan saham terlalu lama kalau tujuannya adalah trading. Beda dengan investasi, harga turun pun gak usah dikhawatirkan asalkan kamu udah lebih dulu melakukan analisis fundamental terhadap saham tersebut.

3. Kalau investasi itu buy and hold, trading itu buy and sell

Investasi dan trading saham berbeda dalam prinsip. Sampai di sini kamu pastinya udah tahu kalau pengin untung dari trading, jangan simpan lama-lama saham yang dibeli tersebut.

Bisa disimpulkan, trading saham itu memegang prinsip buy and sell. Gak ubahnya kayak kamu dagang barang deh pokoknya. Beli dengan harga murah lalu jual saat harganya mahal. Begitulah trading dilakukan.

Kalau investasi saham, kamu sebaiknya menyimpan saham yang udah dibeli dalam waktu yang lama. Gak menutup kemungkinan, kamu bisa dapat return hingga 100 persen lebih asalkan saham tersebut benar-benar ditahan dalam waktu lama, entah 5 tahun atau 10 tahun.

4. Analisis teknikal dipakai dalam memilih saham buat trading

Pergerakan harga saham bisa diprediksi dengan menggunakan analisis teknikal. Nah, analisis ini dilakukan dengan melihat pergerakan harga di candlestick.

Ada dua warna yang umum pada candlestick, yaitu warna merah dan hijau. Warna merah menandakan harga saham sedang turun. Sementara warna hijau menandakan harga saham sedang naik.

Terus ada sejumlah indikator yang dipakai buat menilai saham, yaitu moving average, relative strength index (RSI), stochastic, hingga moving average convergence/divergence atau MACD. Indikator yang sering dipakai adalah moving average.

Indikator moving average digunakan dengan menghitung nilai rata-rata pergerakan saham dalam periode tertentu. Untungnya nih, di beberapa software perhitungan moving average udah otomatis ada lho. Jadi, kamu gak perlu lagi lakukan hitung manual.

Nah, setelah mengetahui informasi di atas, apakah kamu jadi tertarik buat trading saham? Supaya benar-benar bisa untung, kamu harus memantau benar-benar pergerakan harga saham. Salah satu caranya adalah dengan melakukan analisis teknikal.

Gak cuma itu, kamu juga harus tahu info-info seputar saham yang udah kamu incar. Soalnya, berita atau informasi cukup memengaruhi pergerakan harga saham. Jadi, kamu bisa ancang-ancang, kapan harus menjual saham yang kamu punya, atau membeli saham lain yang sedang turun dan berpotensi naik dalam waktu dekat. Semoga informasi di atas bisa berguna buat kamu yang pengin trading saham ya!

Boby
Boby

Lama bergelut dengan ensiklopedia. Kini fokus dengan urusan finansial. Di mana pun berada selalu berusaha sajikan karya yang terbaik. Semoga bermanfaat!

MoneySmart.id adalah portal finansial terbesar dan terpercaya di Indonesia. Melalui konten yang kreatif dan inspiratif, kami berdedikasi untuk menjadi pemandu Anda dalam pengelolaan keuangan yang lebih baik.

IKUTI KAMI DI

Say Hello!

(021) 3005 6456

[email protected]

Jl Benda No. 92,
Jakarta Selatan, Indonesia 12560

MoneySmart Singapore MoneySmart Indonesia MoneySmart Hong Kong