Wow, Setahun Transaksi Online Tembus Rp 47 Triliun

2 menit
Transaksi Online Berkembang Pesat (Shutterstock)
Transaksi Online Berkembang Pesat (Shutterstock)

Perkembangan transaksi online melalui sistem elektronik maupun digital semakin digemari masyarakat. Hal ini terlihat dari data transaksi online dari tahun 2017 ke 2018 meningkat signifikan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, transaksi online sepanjang tahun 2018 meningkat signifikan 281,49 persen menjadi Rp 47,19 triliun dari tahun 2017 yang sebesar Rp 12,37 triliun. 

Peningkatan ini terjadi seiringan dengan masifnya pengguna smartphone hingga semakin mudahnya transaksi online. Mulai dari transportasi, kuliner, kirim barang, hingga kebutuhan dasar lainnya.

“Transaksi online tahun 2018 itu naiknya besar sekali 281 persen dari tahun sebelumnya. Itu didorong dari pengguna smartphone di Indonesia yang sudah mencapai 133 persen dari populasi dan pengguna internet sudah mencapai 56 persen dari populasi penduduk,” ungkap Darmin saat acara Indonesia Fintech Forum 2019 di Jakarta.

Menurut Darmin, dengan peningkatan dan penetrasi yang tinggi tersebut, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan pada tahun 2025 nilai pasarnya akan mencapai US$ 100 miliar sangat mungkin terjadi.

“Kecepatan itu barangkali bisa kita tunjukkan, ekonomi digital 2-3 tahun lalu sudah mencapai 22 persen dari ekonomi global. Di Asia Tenggara terutama Indonesia belum setinggi itu, tapi kita yakin kalau perbankan masih sangat konvensional pasti akan ada perubahan di dalamnya, tidak bisa tidak,” papar Darmin.

Namun demikian, Darmin menegaskan ditengah era digital saat ini para pemangku kepentingan. Mulai dari pelaku pasar, dan juga masyarakat harus saling bersinergi agar menciptakan inovasi digital yang sehat dan berdaya saing.

“Yang penting sekali ini peranan pemerintah, kualitas SDM untuk digital. Pemerintah tahun 2020 fokus mengembangkan dan pelatihan vokasi mulai dari hal dasar. Ini untuk bisa beradaptasi di era fintech yang menjadi job masa depan,” kata Darmin.

Fintech Rentan Kejahatan Cyber dan Pencucian Uang

Sementara itu, dibalik perkembangan dan kemudahan yang ditawarkan, fintech dinilai sangat rentan terhadap praktik money laundry, dan juga pencurian data pribadi.

Darmin mengatakan, dua masalah tersebut juga akan menjadi tantangan yang akan dihadapi disaat fintech dan transaksi online sangat berkembang.

“Indikasi penyalahgunaan data ini sudah banyak, kemudian juga fintech rentan risiko pencucian uang,” kata Menko Darmin.

Menurutnya, diperlukan keseimbangan antara perkembangan inovasi digital dan juga mitigasi risiko termasuk perlindungan konsumen dari otoritas terkait dalam hal ini OJK.

“Dukungan pemerintah dan otoritas pengembangan fintech ini menyeimbangkan mitigasi risiko dan membuka ruang inovasi serta memberi pemahaman mengenai landscape dan ekosistem industri,” jelasnya.

Fintech Ubah Gaya Hidup

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, kehadiran transaksi online termasuk fintech didaamnya mengubah tatanan sosial. Mulai dari gaya belanja masyarakat, hingga gaya hidup orang dalam menggunakan uangnya.

Menurutnya, saat ini segala kebutuhan pribadi, sosial, gaya hidup, sudah dalam genggaman.

“Kalau dulu makan harus ke restoran, sekarang tinggal klik di HP. Yang perlu duit investasi dulu harus ke investor, sekarang tinggal klik. Yang dulu mau selesaikan pembayaran harus ke bank, sekarang tinggal klik. Bahkan yang mau pijat tinggal di HP,” kata Gubernur BI.

Akan tetapi Perry menegaskan, fenomena yang terjadi saat ini baru permulaan, masih banyak potensi yang dapat dikembangkan dari ranah digital.

“This is just the beginning. Ini menandakan ekonomi keuangan digital akan semakin berkembang. Ini akan semakin mendorong inklusi keuangan,” kata Perry.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah

Pramdia Arhando
Pramdia Arhando

Atlet renang yang gagal, tapi pernah jadi juara. Kini masuk dunia jurnalistik dan finansial. Semua tulisan di sini dari fakta dan kisah nyata.