Terkuak! Kondisi Bawah Laut Anak Krakatau Sebelum Tsunami Selat Sunda

4 menit
Anak gunung krakatau (IG orag_tv)

Tsunami Selat Sunda telah meluluh lantakkan Pandeglang, Serang, Lampung Selatan, Tanggamus dan Pesawaran, Sabtu 22 Desember 2018. Selain peristiwa itu, kondisi bawah laut Anak Krakatau kini terkuak. Seperti apa?

Penduduk yang panik berlari ke tempat yang lebih tinggi pada hari Sabtu 22 Desember 2018, seraya berteriak, “Tsunami! Tsunami!”.

Peristiwa tsunami itu terjadi di Tanjung Lesung, Pandeglang, Lampung Selatan, dan daerah lain. Sebuah tragedi yang menewaskan 429 orang meninggal, 1.485 orang luka-luka, 154 orang hilang. BNPB mencatat, 16.802 orang mengungsi di sejumlah daerah.

Pihak berwenang Indonesia mengatakan “keprihatinan nomor satu” mereka adalah runtuhnya kawah lain dari pulau gunung berapi Anak Krakatau, yang diyakini telah menyebabkan “silent tsunami”.

Rahmat Triyono, kepala gempa bumi dan tsunami dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia (BMKG), mengatakan reruntuhan kawah setara dengan aktivitas gempa bumi.

“Reruntuhan kawah yang memindahkan sekitar 64 hektar gunung, setara dengan gempa bumi 3,4 dan 5 skala richter,” ungkapnya dalam konferensi pers pada Selasa (25/12/2018) malam.

Sejumlah ilmuwan pun mengingatkan untuk tetap waspada mengingat aktivitas Anak Krakatau yang belum stabil, dan terus bergejolak.

Menilik laman International Tsunami Information Center UNESCO, mereka juga mengkhawatirkan kemungkinan terburuk seperti letusan gunung berapi di dalam laut yang dapat meningkatkan volume air dan menghasilkan gelombang tsunami.

Sementara itu, BNPB menduga penyebab tsunami yang tak diawali gempa tersebut akibat longsoran bebatuan di bawah laut yang terkena dampak peningkatan aktivitas Anak Krakatau.

Seperti apa kondisi Gunung Anak Krakatau sebelum tsunami? Yuk, simak lansiran Guideku jaringan MoneySmart.id berikut:

Bongkahan bebatuan besar

Bawah laut anak gunung krakatau (IG alvi_kgs)
Bawah laut anak gunung krakatau (IG alvi_kgs)

Seorang jurnalis bernama Alvi Apriayandi pernah merekam keadaan bongkahan bebatuan berukuran besar di bawah laut di sekitar kawasan Anak Gunung Krakatau tersebut.

Saat itu, Alvi bersama tim DOES asuhan Erix Soekamti cs tengah menyisir lautan di sekitar Anak Krakatau.

Lewat posting-an di Instagramnya, alvi kgs, Alvi tampak menunjukkan bagaimana batu-batu berukuran besar itu sangat mungkin memengaruhi volume air dan berdampak tsunami tatkala longsor terjadi di bawah laut.

“Sekali lagi saya berikan gambaran kumpulan foto setahun kemarin kami pernah memprofilkan alam bawah laut Gunung Krakatoa,” buka Alvi di caption kolase foto yang diunggah di Instagramnya.

“Kalo batuan erupsinya yang ada difoto ini aja segede “GABAN” nyemplung dalam jumlah besar, sangat memungkinkan secara logika dapat menyebabkan gelombang tinggi dengan jarak ratusan mil tanpa harus diawali oleh gempa dari gunung aktif itu sendiri,” lanjutnya.

Baca juga:

Tinggal Kenangan, Ini Deretan Tempat Wisata Favorit Dylan Sahara Istri Ifan “Seventeen”

TCC Kemenpar: Jalur Wisata Sepanjang Pantai Anyer Hingga Tanjung Lesung Berangsur Normal

10 Tempat Wisata Selfie Kekinian di Bandung yang Sayang untuk Dilewatkan

Longsoran batu penyebab tsunami

Anak gunung krakatau (IG alvi_kgs)
Anak gunung krakatau (IG alvi_kgs)

Tampak dalam gambar yang dibagikan Alvi, bebatuan berukuran gigantis bekas letusan Gunung Krakatau tahun 1883 mendiami dasar laut Selat Sunda.

Longsoran di bawah laut dengan bebatuan berukuran raksasa ini kemudian menyebabkan volume air naik, dan menjelma tsunami.

Fenomena air hangat

Fenomena air hangat (IG alvi_kgs)
Fenomena air hangat (IG alvi_kgs)

Selain bongkahan batu berukuran raksasa, Alvi dan tim DOES juga menyimak fenomena alam unik yang terdapat di dasar laut Anak Krakatau.

Fenomena tersebut berupa gelembung udara yang menyelinap keluar dari celah-celah perut bumi.

Alvi mengungkapkan, suhu air dan pasir bertekstur cukup kasar di sekitar gelembung udara yang mengalir masif terasa cukup hangat. Fenomena ini merupakan salah satu bagian dari proses pembentukan gunung api aktif.

Fenomena ini merupakan reaksi dari gas di dalam perut bumi yang berfungsi memfasilitasi energi guna pembentukan gunung api.

Selain di Anak Krakatau, fenomena yang sama juga dapat disimak di beberapa gunung api bawah laut di Indonesia lainnya, antara lain di gunung api bawah laut Banua Wuhu, di pulau Mahangetan, Sangihe, Sulawesi Utara.

Sensor pemantau getaran

BMKG mengungkapkan, telah memasang sensor untuk memantau getaran yang dipicu aktivitas tektonik Anak Krakatau. Sebanyak 6 sensor dipasang mengelilingi Anak Krakatau

“6 sensor, 3 di Sumatera dan 3 di Jawa,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono saat konferensi pers di gedung BMKG, Jalan Angkasa, Jakarta Pusat, Selasa (25/12/2018) malam.

Sensor-sensor itu nantinya akan mencatat setiap getaran yang terjadi di Anak Krakatau. Dengan adanya sensor itu, BMKG bisa mendeteksi lokasi dari mana getaran tersebut berasal.

“kami harapkan kalau satu sensor mencatat atau minimal 3 (sensor mencatat) kita bisa tahu sumber guncangan tadi. Kalau bukan dikarenakan aktivitas di Krakatau itu aman saja, tapi kalau itu di Krakatau kita akan lakukan antispasi,” ungkapnya seperti dilansir Detik.

Rahmat berharap, dengan adanya sensor itu kejadian tsunami yang diakibatkan aktivitas Anak Krakatau nantinya bisa terdeteksi. Jika sensor tersebut mencatat adanya getaran yang berkuatan lebih dari magnitudo 3,4 maka BMKG akan memberikan peringatan dini.

“Kalau kita bisa memonitor getaran itu 3,4 M bisa jadi BMKG bisa berikan warning,” jelasnya.

Chaerunnisa
Chaerunnisa

Senang menulis dan belajar banyak hal. Semoga karya saya selalu bisa dinikmati dan bermanfaat bagi semua.