Keburu Dicap “Maskapai Bikini”, Ini Strategi Pemasaran Brilian VietJet Air

5 menit
Pilot dan awak kabin VietJet Air. (Instagram/@vietjet)
Pilot dan awak kabin VietJet Air. (Instagram/@vietjet)

Maskapai asal Vietnam, VietJet Air, bakal buka rute ke Indonesia mulai bulan Maret 2019 mendatang. Hmm, dengar nama VietJet, kamu pasti masih inget sama maskapai yang sempat bikin heboh karena dikabarkan mempekerjakan pramugari-pramugari berbikini.

Ya, betul, memang maskapai inilah yang beberapa tahun silam jadi sorotan karena hal itu. Memang sih, pramugari-pramugari berbikini itu hanya trik marketing. Pada kenyataannya sih, para awak kabin yang bertugas saat penerbangan gak pakai bikini tentunya.

VietJet Air adalah maskapai penerbangan low-cost alias berbiaya murah. Ya, kalau di Indonesia sama kelasnya sama Lion Air dan Citilink.

VietJet ini sukses besar di Vietnam lho! Bayangkan, mereka sekarang menguasai 45% konsumen lokal. Sampai-sampai, maskapai nasional seperti Vietnam Airlines, kalang saing.

Seperti dilansir dari Nikkei, nilai kapitalisasi pasar VietJet yang masuk bursa saham pada tahun 2017 kini di angka 3,6 miliar Dolar atau setara Rp 51,2 triliun. Mereka berada di urutan kedua tertinggi di Asia Tenggara setelah Singapore Airlines.

Kesuksesan VietJet Air gak lepas dari peran pengusaha muda wanita Vietnam Nguyen Thi Phuong Thao. Thao, pendiri sekaligus CEO VietJet Air, tercatat sebagai wanita terkaya di ASEAN. Kekayaannya menurut Forbes mencapai US$ 2,3 miliar atau setara Rp 32,7 triliun.

Ada berbagai strategi yang dilakukan Thao untuk membangun VietJet sampai sebesar sekarang. Apa aja? Simak selengkapnya dalam ulasan berikut ini seperti dirangkum dari Vietnamadvisors.com dan beberapa sumber lain.

Berani tampil sebagai anti-mainstream

Nguyen Thi Phuong Thao, CEO VietJet Aviation. (VietJet Aviation JSC)
Nguyen Thi Phuong Thao, CEO VietJet Aviation. (VietJet Aviation JSC)

Anti-mainstream di sini bukan berarti mereka tidak memberikan pelayanan yang sebagaimana mestinya lho. Dari segi fasilitas dan pelayanan, VietJet Air gak jauh berbeda dari pesaing mereka dari Malaysia, Air Asia. Mereka mengklaim, usia pesawat mereka gak ada yang lebih dari tiga tahun.

VietJet Air punya lebih dari 45 pesawat, termasuk pesawat jenis Airbus A320 yang bisa mengangkut 180 penumpang dan Airbus A321 yang berbadan lebar dan mampu menampung hingga 230 penumpang. Selain itu, mereka juga mempekerjakan pilot dan kru kabin profesional dan berdedikasi.

Lantas, apa yang disebut anti-mainstream? Ya strategi pemasarannya tadi itu, mereka memakai gimmick pramugari berbikini buat promosi. Bahkan, gak cuma sekali mereka jadi sorotan, melainkan tiga kali lho!

Yang pertama ya tentu saja saat mereka launching maskapai mereka. Kedua, pada tahun 2018, mereka merilis kalender bergambar wanita-wanita cantik berbikini oranye-kuning. Tentu saja, dilansir dari AsiaOne, yang berpose adalah model profesional, bukan pramugari. Selain model Amerika Serikat, Celine Franch, ada juga runner up Miss Tiffany’s Universe 2017, Kwanlanda Rungrojampa, sampai runner Asia’s Next Top Model 2017 asal Vietnam, Ming Tu Nguyen.

 

Kalender VietJet Air. (VietJet)
Kalender VietJet Air. (VietJet)

Lantas, ketiga, lagi-lagi berkaitan dengan bikini, mereka mengadakan parade model berpakaian minim dalam pesawat. Bukan tanpa tujuan, parade itu digelar buat menyambut kepulangan timnas sepakbola U23 Vietnam dari gelaran Piala AFC di Cina. Untuk yang ketiga ini, kritik yang datang sungguh santer, sampai-sampai VietJet pun melayangkan pernyataan maaf kepada khalayak.

 

Parade menyambut timnas U23 Vietnam dari Piala UFC. (Asiaone)
Parade menyambut timnas U23 Vietnam dari Piala UFC. (Asiaone)

Kenapa VietJet begitu getol menampilkan hal-hal berbau vulgar itu? Apakah mereka gak takut imej brand mereka jadi rusak karenanya?

Karena, ternyata memang sang CEO, Thao, secara gak langsung memang ingin stand out dengan sesuatu yang baru. Ia ingin keluar dari pakem selama ini bahwa awak kabin ya harus berpakaian selayaknya awak kabin. Selain itu, baginya sudah sepatutnya perempuan dihargai setara, apapun yang mereka kenakan, bahkan bikini sekalipun.

“Anda punya hak untuk mengenakan apapun yang Anda suka, baik bikini maupun pakaian tradisional ao dai (pakaian tradisional Vietnam),” kata Thao dikutip Elitereaders.

Bahkan, ia sama sekali gak keberatan kalau maskapainya diasosiasikan dengan pamer wanita berbikini. Malahan, sepertinya memang itu tujuannya supaya mudah diingat orang, meski menuai pro dan kontra.

“Kami gak keberatan orang-orang mengasosiasikan maskapai ini dengan imej bikini. Jika hal itu membuat orang senang, maka kami pun ikut senang,” ujarnya.

Pasarkan brand VietJet Air di segala tempat

Kalender VietJet Air. (VietJet Air)
Kalender VietJet Air. (VietJet Air)

Pada pembuatan kalender bergambar pramugari berbikini, terselip strategi pemasaran yang brilian sekali. Kenapa?

Di mana biasanya kalender diletakkan? Tentu saja rumah, kantor, sekolah, dan berbagai tempat lainnya.

Lewat kalender, Thao sang CEO secara tidak langsung mengingatkan kepada orang-orang yang melihat tanggal, betapa menyenangkannya terbang bersama VietJet. Jadi, ketika orang-orang itu sedang duduk dan berencana memesan tiket pesawat, VietJet punya peluang paling besar buat muncul pertama kali di pikiran mereka.

Kebanyakan maskapai penerbangan gak mem-branding diri mereka seperti bisnis fashion atau entertainment. Beda dengan VietJet yang secara agresif memasarkan brand mereka sehingga bisa langsung dikenal dan mendominasi pasar dalam waktu lima tahun saja.

Intinya, para pengusaha harus mencari strategi pemasaran yang membuat para pelanggan selalu merasa hidup bersama produk mereka.

Berani bermimpi besar

Model yang berpose dengan bikini di promosi VietJet Air. (VietJet Air)
Model yang berpose dengan bikini di promosi VietJet Air. (VietJet Air)

Ketika mendirikan VietJet Air, Thao sudah bermimpi bakal menjadikan maskapainya sebagai “the Emirates of Asia” alias Emirates-nya Asia. Tahu kan maskapai Emirates dari Uni Emirat Arab?

Bukan sekedar mau menyaingi maskapai berbiaya murah yang sudah berdiri sebelumnya, Thao malah kepengin jadi raksasa seperti Emirates. Alhasil, ia pun berhasil membesarkan VietJet dengan cara yang gak konvensional.

Kini, valuasi VietJet mencapai 3,6 miliar Dolar, melebihi AirAsia yang baru di angka 2,5 miliar Dolar. Padahal, AirAsia mendominasi penerbangan Asia Tenggara dengan armada 208 pesawatnya.

Ini menunjukkan bahwa untuk menjadi besar, pengusaha gak boleh takut buat pasang target setinggi-tingginya. Asal ada niat dan kemauan, target yang awalnya kelihatan gak mungkin dicapai pun bisa diraih.

Itulah strategi-strategi brilian yang dipakai VietJet untuk berkembang menjadi sebesar sekarang. Rencananya, seperti disampaikan oleh Managing Director VietJet Air, Do Xuan Quang, untuk memulai bisnisnya di Indonesia, mereka akan membuka rute Ho Chi Minh – Denpasar, Bali dengan durasi penerbangan 3,5 jam. Nah, baru kemudian pada akhit tahun 2019, VietJet Air akan membuka rute kedua, Ho Chi Minh – Jakarta.

“Saya pastikan bulan Maret 2019 akan terbang ke Denpasar, Bali. Semua persiapan sudah kami lakukan. Enam bulan pertama, kami akan terbang 4 kali seminggu, selanjutnya akan menjadi daily atau 7 kali seminggu,” kata Mr. Do Xuan Quang di acara ASEAN Tourism Forum (ATF) 2019 melalui rilis yang diterima MoneySmart.id.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pembukaan rute VietJet Air ini diharap bisa meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara (wisman). Apalagi, mereka udah memasang target kedatangan wisman mencapai 20 juta pada 2019.

Selain itu, VietJet Air juga sudah punya rute ke 35 kota di Tiongkok. Jadi diharapkan wisman Tiongkok yang berkunjung ke Vietnam bisa mengalir ke Indonesia.

“Bisa jadi wisman Tiongkok yang sudah ke Vietnam ini dialirkan ke Indonesia. Vietnam menjadi tourism hub untuk pasar Tiongkok dan Korea Selatan,” kata Menpar Arief.

Ruben Setiawan

Pembelajar yang selalu mencoba hal-hal baru untuk dipahami. Semoga selalu bisa memberikan informasi bermanfaat bagi pembaca.